![]()
Kupang, kmhdi.org – Sebagai organisasi Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI), kita berdiri di atas dua pilar agung: Nasionalisme dan Religiusitas. Namun, melihat realitas hari ini, rasanya kita perlu duduk melingkar, menundukkan kepala sejenak, dan bertanya dengan jujur: “Masihkah religiusitas menjadi napas kita, atau ia hanya menjadi stempel identitas semata?”
Melihat dinamika yang terjadi belakangan ini, terutama pola yang berulang dalam setiap kongres nasional atau MAHASABHA, ada rasa sesak yang tak bisa disembunyikan. KMHDI rasanya kian tergerus.
MAHASABHA: Pesta Gagasan atau Pesta Jabatan?
MAHASABHA seharusnya menjadi kawah candradimuka bagi pertarungan gagasan. Ia adalah ruang sakral di mana arah gerak umat dan bangsa dirumuskan, sebagaimana juga tujuan organisasi ini lahir. Namun, realitas lapangan sering kali menampar kita. MAHASABHA kini lebih sering terasa sebagai arena pertarungan politik praktis level “junior”.
Energi kader habis terkuras untuk lobi-lobi jabatan, koalisi taktis, dan intrik kekuasaan. Diskusi tentang bagaimana menjawab tantangan umat Hindu di pelosok, atau bagaimana membedah filosofi agama agar relevan dengan zaman, tenggelam oleh hiruk-pikuk “siapa ketua selanjutnya”.
Dimana letak tanggung jawab moral kita terhadap kaderisasi kita dalam wadah ini? KMHDI selalu berhasil melahirkan pemikir muda Hindu tapi kontrasnya “kongres nasional” lebih terasa seperti “panggung nasional”, seharusnya level kita tidak lagi disitu.
Jika begini terus, apa bedanya KMHDI dengan organisasi sayap partai politik? Jika kita hanya berbicara isu politik nasional tanpa landasan nilai Hindu yang kuat, maka kritik keras ini harus kita telan: “Kita sedang berubah menjadi sekadar organisasi politik anak muda ber-KTP Hindu. Kita kehilangan jati diri.”
Absennya Kajian Sradha dan Kegelisahan Intelektual
Melihat website resmi KMHDI.org atau media sosial organisasi, kita sering disuguhi rilis pers tentang isu-isu nasional—mulai dari kenaikan BBM hingga dinamika Pemilu. Itu tidak salah, itu bagian dari Dharma Negara. Namun, di mana porsi Dharma Agama? saya merasakan posisi Dharma Agama kita kering seperti gambar cover artikel ini.
Departemen Kajian dan Isu kita sangat garang membahas politik, tetapi terasa tumpul—bahkan absen—dalam membahas kajian keagamaan yang mendalam. Padahal, isu keumatan kita menumpuk. Konversi agama, angka bunuh diri tinggi yang tinggi di pulau dewata, degradasi moral, hingga kebingungan anak muda dalam memaknai ritual, semuanya butuh jawaban intelektual.
Akibat void / kekosongan ini, Sradha (keyakinan) umat, khususnya anak muda, menjadi goyang. Mereka mencari jawaban di luar, karena “rumah” mereka sendiri (KMHDI) terlalu sibuk berpolitik. Kita kekurangan narasi teologis yang kritis. Kita kekurangan konten yang membedah Tattwa secara logis.
Urgensi Lembaga Kajian Filsafat Hindu
Di titik inilah saya menawarkan sebuah autokritik sekaligus solusi konkret: KMHDI harus segera membentuk Lembaga Kajian Filsafat Hindu.
Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan ritual (upacara) tanpa pemahaman filosofis. Mahasiswa Hindu adalah kaum intelektual; tugas kita adalah menyumbang perspektif logika dalam beragama. Lembaga ini nantinya berfokus pada:
Tanpa lembaga yang fokus pada “olah pikir” keagamaan ini, kita akan terus terjebak pada permukaan.
Keluar dari Barisan Kaku: Tantangan Digital
Terakhir, soal gaya komunikasi. Hari ini, dakwah agama lain masuk ke ruang-ruang scroll TikTok dan Instagram anak muda dengan kemasan yang fresh, relevan, dan estetik. Sementara kita? KMHDI masih sering tampil kaku, birokratis, dan “tua”.
Anak muda Hindu butuh konten yang adaptif. Mereka butuh perspektif isu agama yang dibawakan dengan bahasa mereka, bukan bahasa juklak/juknis organisasi. Kita butuh influencer intelektual dari rahim KMHDI yang murni menawarkan suara anak muda Hindu: cerdas, kritis, tapi tetap nyastra.
Ini berarti KMHDI Perlu bergerak untuk:
Penutup: Kembali ke Purwaka
Tulisan ini bukan ujaran kebencian, melainkan bentuk cinta yang mendalam pada organisasi ini. Kita rindu KMHDI yang disegani bukan hanya karena masa-nya yang banyak atau manuver politiknya yang lincah, tetapi karena kedalaman ilmunya dan kekokohan spiritualnya.
Mari kurangi Kama/nafsu politik jabatan, mari perbanyak diskusi Tattwa. Mari ubah wajah KMHDI menjadi lebih adaptif, intelektual, dan sungguh-sungguh menjadi benteng Sradha bagi generasi muda Hindu Nusantara, dimana tidak hanya pada 1 pulau. Mari refleksi pada dan fokus pada bagian awal / hulu organisasi baik ini.
Dari Selatan saya berseru, Satyam Eva Jayate.
Penulis : I Gede Adi Baskara Putra (Kabiro Organisasi PD KMHDI NTT)
