![]()
Klungkung, kmhdi.org – Romantisme terhadap KMHDI sering kali menjadi perasaan yang sulit dijelaskan. Ia tumbuh dari kebanggaan, keterikatan emosional, dan rasa memiliki yang mendalam terhadap organisasi ini. Setiap kader pasti pernah merasakannya, bagaimana semangat kebersamaan, perjuangan intelektual, dan nilai pengabdian menciptakan getaran cinta yang tidak sekadar emosional, tetapi ideologis.
Namun, romantisme ini perlu dimaknai lebih dari sekadar rasa sayang terhadap simbol dan aktivitas organisasi; ia adalah wujud kedewasaan dalam memahami tanggung jawab terhadap nilai-nilai perjuangan yang diemban bersama.
Tak bisa dipungkiri, dari proses panjang kaderisasi hingga pengabdian, banyak hal berharga yang lahir dari KMHDI. Ada yang menemukan jaringan kerja profesional, ada yang mendapatkan ruang aktualisasi diri, dan bahkan ada yang menemukan pasangan hidupnya di antara sesama kader. Hubungan antar kader yang berlanjut menjadi pasangan kekasih, bahkan suami istri, merupakan salah satu bukti bahwa nilai-nilai KMHDI tidak berhenti di ruang diskusi atau forum kaderisasi, ia menjelma menjadi hubungan manusiawi yang penuh kehangatan dan kesetiaan pada nilai dharma.
Namun demikian, penting untuk disadari bahwa semua itu hanyalah bonus. Dalam logika sederhana, kaderisasi dan perjuangan di KMHDI ibarat pekerjaan dengan kewajiban dan gaji pokok berupa pengabdian kepada umat, bangsa, dan organisasi. Sementara relasi, pekerjaan, dan pengalaman hidup yang datang karena KMHDI hanyalah bonus yang tidak seharusnya menjadi tujuan utama. Bonus bisa saja hadir dalam bentuk cinta, persahabatan, kesempatan karier, atau pengalaman hidup yang memperkaya pribadi seorang kader, tetapi yang menjadi pokok adalah tanggung jawab untuk menjalankan dharma.
Jika kita menilik dari berbagai rilis kegiatan KMHDI, benang merah yang terlihat jelas adalah semangat tanggung jawab, sinergi, dan kebermanfaatan. Baik saat PC KMHDI Karangasem menjalin kerja sama strategis dengan pemerintah daerah, PC KMHDI Ambon membangun kolaborasi dengan Bimas Hindu, maupun ketika KMHDI di berbagai daerah bergerak membantu masyarakat menghadapi bencana, semuanya menunjukkan bahwa cinta kader terhadap organisasi diwujudkan dalam kerja nyata, bukan sekadar euforia kebersamaan.
Tetapi tentu, di antara perjuangan dan aktivitas itu, tumbuh pula kisah-kisah manusiawi. Dua kader yang bertemu di forum pelatihan, saling mengenal dalam proyek sosial, lalu berlanjut menjadi pasangan hidup, itu adalah bagian dari romantisme yang khas KMHDI. Mereka disatukan bukan karena kebetulan, tetapi karena kesamaan nilai dan semangat pengabdian. Namun tetap, relasi seperti itu harus ditempatkan sebagai buah dari proses, bukan tujuan dari perjuangan.
Romantisme KMHDI sejatinya bukan tentang siapa yang kita temui, apa yang kita dapat, atau bagaimana kisah kita diwarnai. Romantisme sejati adalah tentang bagaimana setiap kader tetap berjuang dengan tulus, meski tanpa imbalan dan sorotan. Tentang bagaimana cinta kepada organisasi dimanifestasikan dalam aksi nyata, bukan hanya nostalgia dan simbol.
Maka, ketika relasi, pekerjaan, atau bahkan jodoh datang berkat KMHDI, syukurilah itu sebagai bonus kehidupan. Jangan menjadikannya alasan untuk mencintai organisasi, karena cinta yang sejati kepada KMHDI tidak lahir dari apa yang kita peroleh, melainkan dari kesediaan kita memberi tanpa pamrih. Sebab bagi seorang kader, pengabdian adalah gaji pokok, sedangkan semua yang datang setelahnya hanyalah bonus dari dharma yang dijalankan dengan sepenuh hati.
Penulis: I Gede Bagus Arthana (Kader KMHDI)
