SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Denpasar, kmhdi.org – Mencermati berita yang sedang hangat di masa-masa ini, tentu membuat saya tertarik untuk menuliskan opini saya sebagai bentuk tanggapan dari fenomena yang terjadi. Tidak terasa satu bulan sudah, dan mungkin belum lepas dari ingatan kita bersama mengenai kasus yang melibatkan seorang oknum Dosen dari sebuah kampus dan juga seorang Guru Reka (Ibu) bernama Desak Made Made Darmawati.

Ceramah beliau yang tersebar melalui video di berbagai platform media sosial mengundang reaksi dari masyarakat Indonesia khususnya pemeluk agama Hindu, karena apa yang disampaikannya dinilai mengandung tendensi yang menyudutkan kepercayaan umat Hindu, baik mengenai aspek ke-Tuhanan hingga aspek ritual yang dilakukan oleh umat Hindu.

Reaksi yang ditimbulkan dari pernyataan yang disampaikan Desak Made Darmawati pun beragam. Ada yang menyayangkan ceramah beliau, ada yang menghujat balik, ada yang menempuh jalur hukum, bahkan ada yang sampai menyumpahi Desak Made Darmawati hingga tujuh turunan. Dari berbagai macam reaksi yang muncul, tentu ada pesam yang sebenarnya bisa dipetik bersama dari kasus tersebut. Bahkan jika didalami lagi, hal ini membuat kita justru mengucapkan terima kasih kepada Desak Made Darmawati. Loh kok bisa mengucapkan terima kasih kepada orang yang diduga kuat melakukan penistaan agama? Hal tersebutlah yang akan menjadi pembahasan pokok dalam tulisan saya kali ini.

Berbagai respon yang bermunculan dari pengguna media sosial menanggapi pernyataan Desak Made Darmawati berhasil membuat saya tersenyum. Respon tersebut adalah maraknya penyebaran ajaran agama Hindu melalui media sosial setelah viralnya video Desak Made Darmawati sebagai bentuk counter atau jawaban dari pernyataan maupun pertanyaan yang disampaikan Desak Made Darmawati lewat video tersebut. Jadi, berbagai ajaran Hindu mulai dari konsep ke-Tuhanan, konsep Tri Murti, konsep Upacara, hingga ajaran agama Hindu lainnya mulai banyak disebarkan oleh banyak akun di sosial media.

Belajar dari Kasus Desak Made Darmawati

Jika dilihat dari sisi kebermanfaatan, kejadian ini tentu memiliki impact yang positif bagi umat Hindu untuk kembali mengingat, mempelajari, dan menyelami ajaran agamanya yang kerap kali disepelekan. Secara tidak langsung kita pun menerima manfaat dari respon tersebut. Kita lebih mudah mengakses pengetahuan-pengetahuan yang erat kaitannya dengan agama Hindu. Apalagi jika kita ikut menyebarkannya, secara tidak langsung kita ikut mengimplementasikan salah satu jalan guna mencapai Tuhan yakni, Jnana Marga Yoga. Jnana Marga Yoga merupakan jalan untuk mencapai Tuhan melalui perantara menyebarkan dan mempelajari pengetahuan tentang-Nya. Bahkan mengenai hal tersebut, dalam Bhagavad Gita 4.33 (Pudja, 2013: 127)menguraikan bahwa “Sreyan dravya-mayad yajnaj, jnana-yajnah paramtapa, Sarvam karmakhilam partha, jnane parisamapyate” artinya “Persembahan berupa ilmu pengetahuan, wahai Arjuna, lebih mulia dibandingkan persembahan materi. Karena sesungguhnya, dalam setiap kerja, akan mendapatkan apa yang diinginkan dalam Ilmu Pengetahuan wahai Putra Partha.”

Dari konteks itu, dapat diketahui betapa baiknya seorang Desak Made Darmawati yang rela dihujat bahkan disumpahi oleh sebagian besar umat Hindu demi mengingatkan kembali umat Hindu untuk melaksanakan Jnana Marga Yoga dan Jnana Yajna sebagai sebuah persembahan yang mulia kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal tersebut dapat dikaitkan dengan satu ajaran yang diberikan oleh seorang guru spiritual yang bernama Guruji Gde Prama dalam bukunya Bali Shanti (2009), dimana dalam buku tersebut beliau mengatakan, “Tuhan tidak menciptakan ketidak benaran untuk mengalahkan kebenaran, tetapi Tuhan menciptakan hal-hal yang tidak benar untuk membuat kebenaran semakin ajeg dan agung.”

Dari pernyataan tersebut bisa kita korelasikan dengan yang terjadi saat ini, dimana sesungguhnya orang yang berbuat tidak benar seperti menjelekkan orang lain untuk terlihat lebih tinggi, tidak akan membuat orang yang dijelekkannya menjadi pribadi yang lebih rendah. Justru orang yang menjelekkan yang sebenarnya sedang menunjukkan kualitas dirinya sebagai pribadi yang lebih rendah dan membuat orang yang dijelekkannya menjadi pribadi yang lebih agung.

Kemudian dari kasus Desak Made Darmawati juga, dapat dipetik sebuah hikmah bagi kita semua untuk lebih berhati-hati dalam berucap, karena jika salah atau keliru dalam berucap, tentu tidak hanya akan merugikan orang lain, tetapi juga merugikan bagi diri sendiri. Sama seperti salah satu kutipan dalam Kakawin Niti Sastra V.3 yang menyebutkan “Wasitha Nimitanta Manemu Duhka” yang artinya lewat kata-kata bisa menimbulkan penderitaan (Darna, 2018: 12). Untuk itulah, sebagai umat manusia yang memiliki kelebihan berupa Citta atau alam pikiran, hendaknya kita tidak membalas perbuatan dari Desak Made Darmawati dengan berperilaku yang sama. Semestinya kita harus membalasnya dengan jalan menyebarkan ujaran-ujaran kedamaian yang menyejukkan di tengah kondisi sulit seperti saat ini. Sama seperti pesan dari kitab Sarasamuscaya. II(Sudharta, 2019: 6) yang berbunyi “Di antara semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan sebagai manusia sajalah yang dapat berbuat baik ataupun buruk. Untuk itulah, rubahlah segala perbuatan buruk menjadi baik, karena itulah tujuan hidup (phala) menjadi manusia.”

Jadi dari semua wejangan dharma tersebut, dapat disimpulkan bahwasannya Desak Made Darmawati secara tidak langsung membuat umat Hindu lebih intensif mengimplementasikan ajaran Jnana Marga Yoga dan Jnana Yajna, sehingga sudah barang tentu kita perlu mengucapkan terima kasih kepadanya. Kemudian yang kedua, dari kasus tersebut dapat kita petik sebuah hikmah agar lebih berhati-hati dalam berucap dan senantiasa melebur segala perbuatan yang buruk ke dalam perbuatan yang baik.

Oleh: I Dewa Gede Darma Permana

Share:

administrator