SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Loading

Denpasar, kmhdi.org – Pertanyaan tentang Tuhan sering kali berhenti pada perdebatan metafisik: ada atau tidak ada, dapat dibuktikan atau tidak. Namun persoalan yang jauh lebih mendesak bagi organisasi mahasiswa Hindu seperti Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) bukanlah sekadar realitas Tuhan, melainkan dimana nilai-nilai Veda bersandar. Nilai tidak mungkin hidup dalam ruang hampa. Ia harus berpijak, dijaga, ditaati, dan pada titik tertentu harus ditegakkan sebagai aturan baku, bahkan dalam urusan hidup dan mati.

Dalam kisah-kisah Hindu, nilai-nilai luhur itu tidak pernah dibiarkan mengambang. Pada jaman Treta Yuga, Dharma ditegakkan oleh Sri Rama, seorang raja yang menjadikan kebenaran sebagai hukum tertinggi, bahkan ketika itu menyakitkan dirinya sendiri. Pada Dwapara Yuga, Sri Krishna juga hadir sebagai penegak dharma yang cerdas, strategis, dan tegas, tanpa kompromi terhadap adharma.

Dalam organisasi KMHDI yang katanya berlandaskan nilai-nilai Veda, siapakah yang sebenarnya menegakkan nilai-nilai Veda? Apakah nilai itu masih hidup, atau hanya menjadi ornamen teks suci dan jargon organisasi?

Satyam Eva Jayate: Slogan atau Laku Hidup?

KMHDI memiliki slogan agung: Satyam Eva Jayate yang berarti kebenaran pasti menang. Kalimat ini kerap diteriakkan dalam forum, dan sambutan kader. Namun yang menjadi problematika adalah ketika slogan tersebut berhenti pada retorika. Tidak ada ironi yang lebih besar daripada menyerukan Satyam Eva Jayate sementara pikiran, ucapan, dan tindakan justru bertentangan dengan kebenaran itu sendiri.

Jika perilaku ketum KMHDI tidak berbeda dari sifat-sifat asura seperti manipulatif, munafik, haus kuasa, maka slogan tersebut telah kehilangan makna moralnya. Ia berubah menjadi simbol kosong, bahkan berpotensi menjadi alat pembenaran.

Bersandar kepada Siapa Kebenaran Itu?

Jika kita sepakat bahwa Satyam Eva Jayate adalah prinsip dasar, maka konsekuensi logisnya adalah menentukan pada siapa kebenaran itu bersandar. Bila kebenaran ditegakkan oleh Tuhan Yang Maha Esa, maka KMHDI semestinya menempatkan dirinya sebagai abdi Tuhan, bukan sekadar organisasi politik mahasiswa. Dalam hal ini, Ketua Umum bukan administrator kekuasaan, melainkan sosok ksatria yang berani kehilangan jabatan, popularitas, bahkan nyawanya demi menegakkan kebenaran Ilahi.

Namun jika Satyam Eva Jayate dipahami bahwa kebenaran itu berdiri pada dirinya sendiri, sebagai prinsip universal yang melampaui individu dan kepentingan, maka Mahasabha tidak boleh direduksi menjadi ajang kontestasi kekuasaan. Ia harus menjadi ruang serius untuk merumuskan apa yang kita sebut Satyam. Satyaṁ harus menjadi sebuah aturan universal, standar etik, dan nilai operasional yang benar-benar ditegakkan. Dalam konteks ini, Ketua Umum adalah penegak aturan yang jujur, konsisten, dan bebas dari kemunafikan.

Bahaya Ketika Satyam Direduksi Menjadi Slogan

Masalah terbesar muncul ketika Satyam Eva Jayate hanya diperlakukan sebagai kutipan ayat suci tanpa pemahaman dan komitmen. Ketika KMHDI tidak lagi memahami makna Satyam, organisasi ini berisiko besar berubah menjadi arena perebutan kekuasaan semata. Calon Ketua Umum tidak lagi dinilai dari kedalaman spiritual, integritas moral, atau kedekatannya dengan kebenaran, melainkan dari kelicikan strategi dan kekuatan jaringan.

Dalam kondisi demikian, bukan hal mustahil KMHDI justru melahirkan figur-figur munafik yang pencari kuasa, pelaku kekerasan, individu yang bimbang secara moral, dan sosok-sosok yang jauh dari nilai Dharma. Jika itu yang terjadi, maka organisasi ini tidak sedang menegakkan kebenaran, melainkan sedang memelihara adharma dengan wajah religius.

Dan jika ini terjadi, maka jangan salahkan ada kader yang mudah dilipat, cari aman, pragmatis, bodoh, pembohong, dan lain lain. Hal ini bisa terjadi jika KMHDI lebih mengedepankan politik, bukan nilai-nilai Veda.

Satyaṁ Paraṁ Dhīmahi

Satyaṁ Paraṁ Dhīmahi, marilah kita merenungkan kebenaran tertinggi. Tulisan ini bukan sekadar kritik, melainkan peringatan. Saya punya pertanyaan kepada calon Ketua Umum KMHDI, tentang kebenaran apa yang kalian akan tegakkan, dan berani sejauh apa kalian mempertahankannya?

Kenapa harus Satyaṁ Paraṁ Dhīmahi? Sebab tulisan ini ada setelah perenungan berhari-hari mengenai kondisi politik KMHDI. Saya mengajak kawan-kawan jika seandainya merasa tulisan ini adalah sebuah panggilan, mari bersama-sama kita suarakan Satyaṁ. Dan kita jadikan Mahasabha menjadi forum penebusan dosa atas segala kesalahan kita sebelumnya.

Penulis : Panca Kusuma Ramadi (Ketua PC KMHDI Denpasar)

Share:

administrator