SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Loading

Denpasar, kmhdi.org – Perkenalkan, saya I Ketut Radi Sugandhi, mahasiswa Teologi Hindu dari Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Pada kesempatan kali ini, saya akan menjelaskan pandangan saya mengenai Nyepi.

Bagi saya, Hari Raya Nyepi bagaikan oasis yang memberi ketenangan dan kedamaian dari hiruk pikuk kehidupan modern. Nyepi bukan hanya sebuah hari raya keagamaan belaka, tetapi juga merupakan waktu untuk melakukan refleksi diri mengenai hubungan dengan sesama, alam semesta, Tuhan, dan kehidupan yang selama ini dijalani.

Opini saya mengenai Nyepi:

A.Introspeksi diri:

Nyepi yang penuh keheningan adalah waktu untuk merenungkan secara mendalam pikiran, perkataan, perbuatan, dan perasaan selama setahun terakhir. Ini dapat dijadikan sebagai refleksi diri agar bisa melepaskan energi negatif dan membuka lembaran baru, melangkah menuju jalan kehidupan yang lebih baik serta lebih terbuka terhadap perubahan yang akan datang.

B.Keharmonisan:
1.Hari Raya Nyepi memulihkan keseimbangan alam yang setiap hari penuh kebisingan dan pencemaran. Dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian, alam diberi istirahat sejenak dari rutinitas sehari-hari manusia yang menimbulkan berbagai dampak negatif. Hari Raya Nyepi mengurangi penggunaan energi, yang berimbas pada penurunan polusi.
2.Meskipun Nyepi adalah hari raya umat Hindu, esensinya yang damai dan tenang dapat dirasakan oleh semua orang. Ini adalah momen untuk menghargai perbedaan dan memperkuat rasa kebersamaan.
C.Catur Brata Penyepian:

Pada Hari Raya Nyepi, terdapat empat pantangan yang disebut Catur Brata Penyepian, di antaranya:

1.Amati Geni: Larangan menghidupkan dan menggunakan api. Pada masa modern, ini juga mengarah pada larangan menggunakan lampu/cahaya.
2.Amati Karya: Larangan untuk bekerja/melakukan kegiatan fisik.
3.Amati Lelungan: Larangan untuk bepergian.
4.Amati Lelanguan: Larangan untuk bersenang-senang dan hiburan.
D.Pelanggaran pada Zaman Modern:
1.Penggunaan teknologi seperti HP dan TV: Pada Hari Raya Nyepi, tidak seharusnya menggunakan itu karena ada larangan untuk bersenang-senang atau mencari hiburan. Pelanggaran ini sering dilakukan oleh generasi muda.
2.Bepergian ketika Nyepi: Seperti kasus yang sempat viral, ada masyarakat yang berkumpul di jalan ataupun pergi ke pantai untuk bersenang-senang ketika Nyepi beberapa tahun ke belakang. Hal ini merusak kesucian dan menghilangkan makna perayaan Nyepi, serta sikap tidak menghargai.
E.Kurangnya pemahaman:

Kurangnya pemahaman tentang makna mendalam Catur Brata Penyepian dapat menyebabkan pelaksanaan yang kurang maksimal. Sehingga, ada beberapa orang yang melaksanakan Nyepi hanya sebagai rutinitas tahunan saja.

Secara keseluruhan, Nyepi menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati bisa ditemukan dalam keheningan, bukan hanya dari keramaian dan aktivitas.

Penulis : I Ketut Radi Sugandhi (Kader PC KMHDI Denpasar)

Share:

administrator