SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Oleh : Ni Made Ayu Ulandari – PD KMHDI NTB

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar ke 4 di dunia, namun kenyataannya negara tercinta kita ini masih tertinggal oleh negara-negara lain. Indonesia memang memiliki kuantitas manusia terbesar ke-4 di dunia, tetapi hal itu tidak menjamin kualitasnya. Sebenarnya semua masyarakat Indonesia itu cerdas serta memiliki kemampuan yang telah dibuktikan oleh pemuda-pemuda bangsa yang telah mengharumkan bangsa Indonesia hingga ke manca negara. Akan tetapi, tidak sedikit pula pemuda Indonesia masih belum bisa menghadapi persaingan di era revolusi industri 4.0 sehingga banyak khasus pengangguran di Indonesia. data pengangguran di Indonesia mencapai 9,1 juta orang pada Agustus 2021, jumlah tersebut naik dari 8,7 juta orang pada Februari 2021 (BPS, 2021).

Persiapan dan memberdayaan generasi muda tentu membutuhkan peran pendidikan nasional. Akan tetapi, berbagai tantangan terus dihadapi saat ini yakni permasalahan sosial yang dilakukan generasi muda saat ini seperti melakukan tindak kriminalitas, kekerasan, penyalahgunaan narkotika, minuman keras yang merupakan permasalahan sosial yang banyak dihadapi generasi muda saat ini. Permasalahan lainnya dalam hal ketahanan budaya dan kepribadian yang saat ini tidak bisa dihindarkan, dimana adanya budaya luar yang dapat mempengaruhi pola berfikir dan berprilaku generasi muda yang sudah tersebar melalui kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi global yang berdampak pada penetrasi budaya asing akibatnya generasi muda jadi kurang berkembang kemandirian, kreativitas serta produktivitas sehingga generasi muda kurang dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan yang sesuai dengan karakter Indonesia yakni gotong royong dan semangat dalam membangun bangsa. Oleh sebab itu, perlu adanya pendidikan berbasis keagamaan yang dapat membina karakter generasi muda sehingga terhindar dari dampak buruk derasnya informasi global saat ini. Pendidikan berbasis hindu menjadi salah satu pengupayaan dalam membentuk generasi muda hindu yang berkualitas baik dari segi pengetahuan maupun kepribadian.

Berdasarkan PMA No. 56 Tahun 2014 menyebutkan bahwa Pendidikan Hindu terbagi menjadi pendidikan formal dan nonformal dalam wadah pasraman. Pendidikan melalui Pasraman Formal merupakan pendidikan berjenjang dan terstruktur, meliputi pendidikan dasar (Pratama Widya Pasraman, Adi Widya Pasraman dan Madyama Widya Pasraman) pendidikan menengah (Utama Widya Pasraman) dan pendidikan tinggi (Maha Widya Pasraman). Sementara, Pasraman nonformal yaitu jalur pendidikan yang dilakukan dalam bentuk Sad Dharma, Pesantian, Padepokan, Parampara, Aguron guron, Gurukula, dan sejenisnya (Widyanto, 2020: 51). Pendidikan Hindu yang dilakukan di sekolah umum atau pendidikan tinggi umum yaitu pembelajaran pendidikan Hindu dan pendidikan budi pekerti kepada siswa yang beragama Hindu pada tingkat satuan pendidikan dan mata kuliah pendidikan agama Hindu untuk pendidikan tinggi. Walapun demikian, pendidikan berbasis keagamaan tersebut tidak terlepas dari berbagai tantangan, apalagi ditambah pandemi covid-19 yang berdampak pada krisis berbagai sektor di Indonesia baik dari sektor pariwisata, ekonomi, sosial, kesehatan hingga pendidikan yang semakin membuat Indonesia mesti pandai beradaptasi dengan keadaan agar bisa terus bertahan di era revolusi industri 4.0 saat ini. Perkembangan teknologi, perubahan sosial budaya masyarakat, kebijakan sistem pendidikan menjadi tantangan yang menuntut pendidikan berbasis hindu untuk terus berkembang menjadi lebih baik. Selain itu, tantangan lain yang dihadapi penyelenggara pendidikan hindu yakni persaingan antar pendidikan agama lain untuk saling berlomba menghasilkan SDM yang berkualitas yang dimana pendidikan agama yang terus berkembang meningkatkan kualitasnya akan mampu terus bertahan. Oleh sebab itu, tentu perlunya pengupayaan persiapan dan memberdayaan generasi muda hindu agar mampu berperan sebagai pelaku aktif dalam pembangunan.

Salah satu anugrah Tuhan yang diberikan kepada Indonesia yaitu pemuda-pemudi Indonesia, karena generasi muda memiliki fisik yang kuat, pengetahuan baru, inovatif, dan tingkat kreatif yang dapat digunakan untuk membangun daerah dan secara umum dapat membangun serta menjadi harapan negara Indonesia di masa yang akan datang. Berdasarkan data BPS tahun 2020 mencatat bahwa mayoritas penduduk Indonesia didominasi oleh generasi Z dan generasi milenial. Generasi Z yaitu generasi dari kelahiran tahun 1997-2012 yang mencapai 27,94% atau sekitar 74,93 juta jiwa. Generasi milenial yang merupakan usia produktif yaitu kelahiran tahun 1981-1996 yang mencapai 25,87% atau 69,38 juta jiwa. Sementara itu, untuk kelahiran tahun 1965-1980 tercatat 21,88% atau 58,65 juta jiwa (BPS, 2021). Oleh sebab itu, dengan adanya keuntungan populasi penduduk dengan usia produktif tersebut tentu seharusnya generasi muda Indonesia mampu menjadikan negara Indonesia menjadi lebih baik dibanding negara lain, karena Indonesia memiliki usia produktif lebih unggul. Hanya saja dengan lebih banyaknya kaum muda harus disertai dengan pengembangan potensi khusus untuk kaum muda agar mampu bersaing pada era revolusi industri 4.0 saat ini. Pengupayaan pembentukan generasi muda hindu yang mampu bersaing di era revolusi industri 4.0 saat ini melalui pendidikan hindu yang berfokus pada sikap dan keyakinan nyatanya belum cukup untuk bisa bersaing di era saat ini yang dimana arus perkembangan teknologi semakin pesat. Oleh karena itu, pendidikan berbasis hindu hendaknya juga dikembangkan dalam bidang sains dan teknologi yang mengacu pada kurikulum nasional. Dengan demikian, pendidikan hindu dapat menjadikan agama dan budaya sebagai acuan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki daya saing tinggi, berkarakter, berbudaya, beretika, dan berwawasan global, apalgi banyak teknologi hindu yang dapat diterapkan untuk mewarnai ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi, sehinga geneasi hindu tidak hanya menyerap ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi mampu menjadikan teknologi tersebut untuk memperkuat nilai-nilai agama dan budaya hindu kedepannya.

Mananamkan nilai pendidikan cerdas juga diperlukan dalam pendidikan hindu yang meliputi cerdas spiritual (menumbuhkan dan memperkuat keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulai termasuk budi pekerti luhur dan kepribadian unggul), cerdas emosional (meningkatkan sensitivitas dan apresiativitas akan kehalusan dan keindahan seni dan budaya serta kompetensi untuk mengekspresikannya), cerdas sosial (beraktulisasi diri melalui interaksi sosial), cerdas intelektual (kritis, kreatif, inovatif dan imajinatif), serta cerdas kinestetik (sehat, bugar, berdaya-tahan, dan terampil). Pendidikan kompetitif yakni memiliki kepribadian unggul dan gandrung akan keunggulan, bersemangat juang tinggi, mandiri, pantang menyerah,bersahabat dengan perubahan, inovatif dan menjadi agen perubahan, produktif, sadar mutu, berorientasi global, pembelajaran dan menjadi rahmat bagi semesta alam.

Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkankan bahwa kuantitas penduduk mesti diimbangi dengan kualitasnya terutama kaum mudanya. Karena kaum mudalah yang akan melakukan pembaharuan terhadap tanah air tercinta Indonesia ini. Untuk itu, generasi muda Hindu Indonesia perlu dibekali pendidikan berbasis hindu dan dikelola dengan baik serta menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter, cerdas dan kompetitif sehingga mereka memiliki semangat dalam membangun, memajukan serta menggerakkan bangsa Indonesia menjadi lebih baik. Dengan harapan tersebut kaum muda hindu Indonesia dapat menjadi generasi unggul kebanggaan bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

BPS. (2020). 270,20 juta Penduduk Indonesia Hasil SP2020. Dipetik Februari 18, 2020, dari Badan Pusat Statistia: https://www.bps.go.id/news/2021/01/21/405/bps-270-20-juta-penduduk-indonesia-hasil-sp2020.html

Widyanto, I. P. (2020). Peningkatan Mutu Pendidikan Hindu Melalui Pengelolaan Pembelajaran. Pejaminan Mutu (JPM), 48-59.

Share:

administrator