SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Oleh : I Komang Adi Sudarta – PD KMHDI Bali

Belakangan ini kita dihadapkan oleh minimnya generasi muda yang mau dan siap untuk memimpin, semuanya hanya mau dipimpin dan mengikuti arus. Disadari atau tidak, fenomena ini begitu lumrah terjadi dalam ruang-ruang sosial yang membutuhkan sosok pemimpin. Sebut saja dalam pemilihan ketua kelas, mayoritas siswa tidak memiliki keberanian untuk mengajukan diri menjadi ketua kelas. Permasalahannya tentu tidak hanya dipandang dari sisi tersebut saja, bahwasanya banyak diantara generasi muda yang tidak memiliki kompetensi menjadi seorang pemimpin. CEO Pemimpin.id, Dharmaji Suradika dalam acara Lead The Fest 2021 mengatakan bahwa Indonesia sedang menghadapi krisis kepemimpinan, hanya 7% milenial yang berkompeten menjadi pemimpin. Pada dasarnya, kondisi ini disebabkan oleh salah satunya adalah ketidakmampuan sistem pendidikan di Indonesia untuk menumbuhkan ekosisten kepemimpinan dalam ruang-ruang belajar. Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani dalam acara Habibie Award 2018 menyampaikan bahwa berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bank Dunia, kualitas SDM Indonesia menempati urutan 87 dari 157 Negara. Sedangkan, hasil survei yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), menyatakan bahwa tingkat literasi Indonesia berada pada peringkat ke-62 dari 70 Negara. Kondisi tersebut merupakan tantangan untuk melakukan pembenahan bagi sistem pendidikan di Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan kualitas pendidikan generasi Hindu di Indonesia? Awal tahun 2000-an telah berdiri Pasraman Hindu Gurukula di Kabupaten Bangli yang diresmikan oleh Kementerian Agama RI pada waktu itu. Pasraman tersebut merupakan sekolah formal berbasis Hindu, mulai dari tingkat Play Grup hingga Sekolah Menengah Atas. Pendidikan dalam pasraman tersebut diakui sangat bagus bagi generasi muda Hindu. Namun, sayangnya masih banyak generasi muda Hindu yang tidak melirik keberadaan sekolah berbasis Hindu tersebut. Mayoritas masih mengutamakan sekolah formal pada umumnya. Pemerintah dan pihak-pihak terkait hendaknya dapat memperhatikan hal ini jika ingin generasi muda Hindu tumbuh menjadi generasi muda yang berkarakter, sesuai dengan amanat pendidikan nasional. Disisi lain, kita pun harus menyadari dan mulai mempertanyakan, dimanakan posisi generasi muda Hindu Indonesia saat ini? Tokoh-tokoh Hindu yang memiliki andil dalam mengawal perubahan di negeri ini bahkan dapat dihitung jari. Ada berapa banyak generasi Hindu yang saat ini menjadi menteri? Atau bahkan menjadi pengusaha yang sukses serta berpengaruh secara nasional? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut setidaknya membuktikan bahwa masih belum memadainya kualitas generasi muda Hindu. Disamping itu, tidaklah mengherankan jika belakangan ini banyak generasi muda Hindu yang mudah terombang-ambing oleh berbagai isu negatif lantaran kurangnya kualitas pendidikan dan kurangnya sikap kritis. Generasi muda Hindu kadang kala mudah larut dalam berbagai stigma dan asumsi terhadap berbagai hal.

Kita menyadari betul bahwa sistem pendidikan di Indonesia belum benar-benar mampu menjawab berbagai persoalan yang ada. Dasar utama pendidikan harus diperkuat dari lini kehidupan yang paling mendasar, yakni keluarga. R.A Kartini pernah mengatakan bahwa sekolah saja tidak dapat memajukan masyarakat, tetapi juga keluarga di rumah harus turut bekerja. Lebih-lebih dari rumahlah kekuatan mendidik itu harus berasal. Ki Hajar Dewantara juga mengatakan bahwa pendidikan perlu terbangun dalam tiga pilar sebagai tripusat pendidikan yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat/pemerintah. Sehingga, keluarga merupakan sendi kehidupan bangsa yang vital (mediaindonesia.com). Dalam hal ini, orang tua memiliki peranan yang sangat penting dan strategis dalam memberikan pendidikan, utamanya pendidikan agama dan karakter kepada sang anak. Seorang anak yang mendapatkan pendidikan keluarga yang baik, tentu akan memiliki moral dan kecerdasan yang baik ketika dihadapkan dengan lingkungan sekolah dan sosialnya, begitu juga sebaliknya. Menurut ajaran agama Hindu, perkembangan seorang anak sebenarnya sudah dimulai sejak prenatal (bayi dalam kandungan). Oleh karena itu, maka untuk mengarahkan sang anak kepada hal yang baik dan benar hendaknya sudah diupayakan sejak bayi masih di dalam kandungan. Penanaman jiwa keagamaan terhadap sang anak telah dimulai sejak masih masih di dalam kandungan (Surpa, 2016). Pendidikan yang diberikan sedini mungkin, terlebih sejak di dalam kandungan sangat diperlukan untuk membentuk karakter generasi muda yang kukuh secara kemauan, berani dalam tindakan, mampu dalam kecerdasan, dan adil dalam berpikir. Upaya ini dilakukan untuk mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) Hindu yang berkualitas di masa depan.

Pendidikan anak sejak dalam kandungan merupakan wacana yang mungkin telah ada sejak lama, bahkan merupakan konsep warisan luluhur di Bali yang hari ini diwariskan namun tidak dengan maknanya secara utuh. Dalam ajaran Agama Hindu, orang tua hendaknya melaksanakan penyucian terhadap anak agar apa yang dicita-citakan utamanya dalam mendidik anak dapat terwujud dengan baik. Upacara ini disebut dengan Sarira Samskara, bagian daripada Manusa Yadnya yang bertujuan untuk menyucikan badan manusia mulai dari pertemuan benih laki-laki (kama petak) dengan benih wanita (kama bang) sampai dengan manusia itu dewasa. Upacara Sarira Samskara ini meliputi upacara magedong-gedongan (upacara bayi di dalam kandungan), upacara bayi lahir, upacara kepus puser, upacara nana karma (bayi berumur 12 hari), upacara tutug akambuhan (bayi berumur 42 hari), upacara nyambutin (bayi berumur 3 bulan), upacara satu oton (bayi berumur 6 bulan), upacara tumbuh gigi, upacara makupak, upacara raja sewala, upacara potong gigi, upacara pawintenan, dan upacara pernikahan/pawiwahan (Surpa, 2016). Berdasarkan uraian tersebut, maka upacara magedong-gedongan merupakan masa pendidikan awal yang semestinya dimanfaatkan dengan baik oleh orang tua untuk menguatkan pondasi sang anak. Fungsi pelaksanaan upacara magedong-gedongan ini adalah agar bayi di dalam kandungan selalu dalam kondisi yang baik, kuat dan sehat. Diharapkan juga agar sang bayi ketika lahir nanti menjadi orang yang berbudi luhur, berguna bagi keluarga, dan masyarakat. Selain itu upacara magedong-gedongan ini juga ditujukan untuk memohon keselamatan sang ibu agar diberikan kesehatan dan selamat waktu melahirkan.

Sebagai orang tua, ibu merupakan lingkungan pertama yang dikenal orang sang anak. Peranan ibu dalam memberikan pendidikan kepada anak sebenarnya telah dimulai saat ibu mengandung. Pendidikan yang dimaksud meliputi pendidikan kesehatan dan spiritual. Seorang ibu hendaknya memenuhi kebutuhan gizi yang sehat demi kesehatan bayi dan dirinya. Hal ini merupakan pendidikan kepada anak melalui makanan. Begitu juga dalam hal spiritual, seorang ibu yang mengandung hendaknya mampu mengendalikan diri, baik dalam berpikir, berkata maupun dalam berbuat harus mencerminkan kehalusan budhi pakerti. Demikian juga halnya sikap suami kepada istri yang sedang hamil haruslah bijaksana dan selalu mengusahakan agar menjaga keharmonisan. Dukungan, kasih sayang dan perhatian suami yang diberikan kepada istrinya saat istri sedang mengandung sangatlah berpengaruh besar pada perkembangan emosional anak dalam kandungan dan emosional ibu yang sedang mengandung (Yoniartini, 2018). Dalam dunia kedokteran, sang bayi dalam usia kandungan 7 bulan sudah bisa mendengar. Pada fase inilah pendidikan orang tua, ibu dan ayah harus diupayakan dengan sungguh-sungguh jika ingin melahirkan anak yang memiliki moral yang baik dan kecerdasan yang tinggi, karena sejatinya pendidikan yang baik adalah pendidikan yang diberikan sejak dalam kandungan. Referensi pendidikan anak sejak dalam kandungan dapat kita lihat juga pada cerita pewayangan Mahabharata. Dimana pada suatu hari Dewi Subadra yang sedang hamil, mendengarkan penjelasan dari suaminya yakni Arjuna tentang rahasia untuk menerobos formasi perang cakravyuha. Kemudian pada saat Arjuna ingin menjelaskan tentang bagaimana cara keluar dan menghancurkan formasi tersebut, Dewi Subadra malah tertidur. Akibatnya, Abimanyu putra dari Dewi Subadra dan Arjuna yang telah remaja saat perang Bharata Yudha mampu menembus formasi perang cakravyuha dengan mudah. Namun, Abimanyu tidak berhasil keluar dari formasi tersebut (phdi.or.id). Nah, disinilah bukti bahwa janin di dalam kandungan mendengar sesuatu yang didengar oleh ibunya, bahwa pendidikan sejak dalam kandungan sangat besar pengaruhnya bagi seorang anak.

Satu hal lagi yang tidak kalah penting adalah upacara yang dilakukan oleh suami dan istri ketika ingin membuat keturunan. Sumertini, 2020 menyebutkan bahwa terdapat ritual dalam berbagai teks Weda yang disebut dengan upacara Garbhadhana Samskara yaitu upaya menciptakan keturunan yang ideal. Proses penciptaan keturunan tersebut melalui penyatuan seksual merupakan tindakan sakral (yadnya) yang didorong oleh tujuan memperoleh keturunan yang baik, bukan untuk kepuasan indera semata. Tindakan tersebut dilakukan melalui perencanaan sadar, itulah yang dimaksud konsep keluarga berencana menurut weda. Dalam lontar Resi Sembina menekankan bahwa seks hanya boleh dilakukan setelah perkawinan. Namun, yang lebih dari pada itu seks merupakan tujuan tertinggi. Seks menjadi Yoga yang dapat menghubungkan atma dengan paramaatma (Sumertini, 2020).

Akhirnya, kita menyadari bahwa ada banyak hal yang sebenarnya tidak kita ketahui di dunia ini dan menganggap bahwa selama ini kita telah mengetahui segalanya. Manusia harus kembali ke jalan dharma dengan berpedoman terhadap ajaran kitab suci yang telah kita wariskan sedari dulu. Hindu memiliki pendidikan pranatal bahkan sebelum calon orang tua melakukan hubungan seksual.  Hindu sangat mensakralkan hubungan seksual, sehingga disimbolkan dengan lingga-yoni. Karena itu, hubungan seksual sesungguhnya hanya boleh dilakukan demi mendapatkan keturunan yang sah menurut agama dan hukum. Apabila hubungan seksual dihumbar, apalagi dilakukan sebelum upacara pawiwahan, maka kekotoran (leteh) akan menyelimuti manusia sehingga mempengaruhi kualitas pikirannya dan karakter keturunannya kelak. Secara agama, inilah yang kemudian menyebabkan penurunan karakter manusia. Kemudian, upaya penyadaran akan pentingnya pendidikan anak sejak dalam kandungan harus digalakkan dalam lini-lini kehidupan bermasyarakat. Kita dapat bekerja sama dengan setiap banjar untuk mengadakan sosialisasi dan edukasi terkait hal ini, khususnya bagi para orang tua dan ibu hamil. Kolaborasi juga harus dibangun dengan beragam stakeholder baik dengan pemangku kebijakan, ahli agama Hindu dan, doktor atau psikolog yang memahami tentang pendidikan anak dalam kandungan. Hal ini harus benar-benar mendapat perhatian serius bagi pemerintah di setiap daerah, bahkan harus menjadikan program prioritas agar dalam jangka waktu beberapa tahun kedepan, Indonesia khususnya Bali memiliki generasi muda Hindu yang unggul dan berkualitas.

Ketika kesadaran kolektif ini dapat terbangun dan berhasil melahirkan generasi muda yang memiliki moral dan karakter sesuai dengan amanat pendidikan nasional. Tentu langkah selanjutnya harus didukung pula dengan sarana pendidikan formal yang memadai sehingga anak dapat tumbuh menjadi generasi muda seperti apa yang dicita-citakan. Pendidikan berbasis Hindu dalam bentuk sekolah Hindu atau pasraman Hindu adalah pendidikan lanjutan setelah pendidikan informal sukses dilaksanakan.

Hyang Widhi merestui Karma Yoga ini. Satyam Eva Jayate!

DAFTAR PUSTAKA

Budiasa, Ketut. “Ilmu Abimanyu” https://phdi.or.id/artikel.php?id=ilmu-abimanyu, diakses pada 19 Februari, 21.00 WITA

Damayanti, N. L. A. E. (2020). Pelaksanaan Upacara Magedong-Gedongan Menurut Ajaran Agama Hindu. Widya Genitri: Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama Dan Kebudayaan Hindu11(1), 60-70.

Hapsari, D.K dan Supriyatna, I. 2018. “Kualitas SDM Indonesia Peringkat ke 87 dari 157 Negara” https://www.suara.com/bisnis/2018/11/13/165447/kualitas-sdm-indonesia-peringkat-ke-87-dari-157-negara, diakses pada 19 Februari, 20.05 WITA

Juniawandahlan. 2018. “Sistem Pendidikan Hindu di Pasraman Gurukula, Bangli” http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/mkn/sistem-pendidikan-hindu-di-pasraman-gurukula-bangli-bali/, diakses pada 19 Februari 2022 pukul 20.30 WITA

MPdH, E. (2017). Peranan Pendidikan Informal Dalam Mendidik Anak. Dharma Duta15(2).

Sarasa, A.B. 2021. “Indonesia Hadapai Krisis Kepemimpinan, Hanya 7% Milenial Kompeten Jadi Pemimpin” https://edukasi.sindonews.com/read/508512/211/indonesia-hadapi-krisis-kepemimpinan-hanya-7-milenial-kompeten-jadi-pemimpin-1628734130?showpage=all, diakses pada 19 Februari, 20.10 WITA

Sumertini, N. W. (2020). Garbhadhana Samskara (Perspektif Seks dalam Veda). Sanjiwani: Jurnal Filsafat11(1), 1-11.

Surpa, W. (2016). Peranan Orang Tua Sebagai Pengembang Pendidikan Agama Hindu Dalam Keluarga. Universitas Udayana Denpasar.

Suta, I. M. (2019). Fungsi dan Makna Lingga dalam Ajaran Agama Hindu. Widya Duta: Jurnal Ilmiah Ilmu Agama dan Ilmu Sosial Budaya13(2), 88-100

Yahya, Dr. Nadjibab. 2017. “Pendidikan Janin Selama Masa Kehamilan” https://doktersiaga.com/blog/view/pendidikan-janin-selama-masa-kehamilan, diakses pada 12 Februari 2022 pukul 14.39 WITA.

Yoniartini, D. M. (2019). Pendidikan Anak Dalam Kandungan Sebagai Upaya Melahirkan Anak Yang Suputra di Pulau Lombok. Media Bina Ilmiah13(6), 1255-1266

Share:

administrator