SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Oleh : Ni Putu Putri Angreni – PC KMHDI Jember

Pendahuluan

Kita sedang bersiap menghadapi era Society 5.0, sebuah masyarakat yang berpusat pada penyeimbangan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui integrasi ruang maya dan ruang fisik. Karena itu, tantangan pendidikan di masa depan juga sangat kompleks, di antaranya kemajuan teknologi informasi, ekonomi berbasis pengetahuan, serta kebangkitan industri kreatif dan budaya. Untuk menyiapkan generasi muda dalam menghadapi era baru ini, Kemendikbud berupaya merancang plot pendidikan dengan visi mewujudkan Indonesia Maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian. Dalam hal ini, pendidikan Hindu memiliki peran yang sangat strategis.

Untuk membentuk generasi yang berkepribadian, perlu dilihat bahwa Hindu sebagai agama tertua telah hidup dalam kearifan lokal masyarakat dan mejadi napas bagi umatnya. Hindu di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari tata nilai adiluhung bangsa. Di sisi lain, generasi Hindu juga dididik untuk berwawasan luas, fleksibel, sekaligus mampu mengikuti tuntutan zaman. Namun, pendidikan Hindu sering mengalami hambatan, terutama dalam proses pembelajarannya karena Acarya (pendidik) kurang mampu menyelenggarakan pembelajaran yang selaras dengan perkembangan teknologi, atau keliru dalam memandang proses pembelajaran. Secara teknis, proses pembelajaran bersifat informatif, belum diarahkan ke proses aktif Sisya (peserta didik) untuk membangun sendiri pengetahuannya.

Karena itu, diperlukan model pembelajaran Hindu berbasis kearifan lokal terdigitalisasi. Sederhananya, penulis mengusulkan model pembelajaran yang berpusat pada Sisya dan pemecahan masalah (student and problem-based learning) terhadap kearifan lokal sebagai pembangun konsep pembelajaran. Pelaksanaannya juga memanfaatkan teknologi (digitalisasi), sehingga dapat mewujudkan generasi yang berkepribadian dan cakap teknologi untuk menghadapi Society 5.0.

Pembahasan

Pemerintah melalui Permenag No. 56 Tahun 2014 telah mengatur pendidikan keagamaan Hindu, termasuk standardisasi bagi pendirian Pasraman yang dibedakan menjadi Pasraman formal (Widya Pasraman) dan nonformal. Widya Pasraman diberikan penamaan menurut tingkatannya jika disetarakan dengan sekolah umum, yaitu Pratama Widya Pasraman (TK/PAUD), Adi Widya Pasraman (SD), Madyama Widya Pasraman (SMP), Utama Widya Pasraman (SMA/SMK), dan Maha Widya Pasraman (Perguruan Tinggi). Dalam peraturan ini juga termuat kurikulum bagi setiap jenjang.

Lebih dalam lagi, pemerintah menunjukkan keseriusan dalam mengembangkan pendidikan Hindu masa kini dengan menggagas digital platform yang diberi nama ePasraman. Website dan aplikasi yang dirilis sejak 2020 ini hadir untuk memenuhi kebutuhan kegiatan belajar mengajar di Widya Pasraman. Di dalamnya, terdapat fitur profil siswa, kehadiran, ujian, evaluasi, e-book, serta berita dan event.Maka sebetulnya, model pembelajaran berbasis kearifan lokal terdigitalisasi sangat aplikatif untuk diterapkan.

Sisya Pratama Widya Pasraman ada di rentang usia 2-6 tahun, yang merupakan masa peka dalam pendidikan. Pengalaman yang diperoleh anak dari lingkungan akan mempengaruhi kehidupan selanjutnya. Pendidikan di usia ini berfokus pada pengembangan nilai-nilai agama dan moral, kognitif, bahasa, fisik, dan sosial-emosional. Model pembelajaran yang sesuai adalah pemberian contoh perilaku dan kisah-kisah, seperti satua (cerita rakyat)atau Itihasa. Acarya bisa membawakan cerita secara lisan atau memutarkan video yang disaksikan bersama-sama. Kita juga bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengembangkan satua dalam bentuk audio book yang dapat diakses melalui ePasraman. Orang tuadapat mendampingi Sisya untuk belajar di rumah dengan audio book ini. Ajak Sisya untuk menyebutkan nilai moral dalam cerita, lalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pada usia 7-15 tahun, Sisya mampu berpikir lebih abstrak, idealis dan logis. Sisya akan mulai berpikir logis dan sistematis seperti ilmuwan, yang menyusun rencana untuk menyelesaikan masalah dan menguji pemecahan masalah (trial and error). Pada masa ini, Sisya cenderung mencoba-coba sesuatu atau situasi yang baru. Sisya pada usia ini berada di jenjang Adi Widya Pasraman dan Madyama Widya Pasraman. Acarya mulai dapat menerapkan student and problem-based learning. Sebagai contoh, Acarya dapat membentuk kelompok-kelompok kecil, lalu mendemonstrasikan pembuatan sarana upakara masyarakat setempat. Selanjutnya, Sisya dibimbinguntuk menggali konsep Tattwa (simbol-simbol)dalam sarana upakara tersebut. Minta Sisya berdiskusi dalam kelompok, lalu mempresentasikan sarana upakara yang dibuat dan simbol-simbol di dalamnya. Model belajar ini akan melatih aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik sekaligus. Acarya dapat membuat video pembelajaran dari kompilasi presentasi para Sisya. Atau, jika Sisya dirasa mampu, berikan ruang kreativitas bagi mereka untuk menuangkan hasil belajarnya melalui video yang mereka buat sendiri.

Tantangan psikologis-kognitif remaja usia 16-18 tahun yang paling menonjol adalah membuat keputusan dan memecahkan masalah. Pada situasi pengambilan keputusan rutin sehari hari, dimungkinkan untuk menentukan alternatif pilihan melalui judgment sederhana. Namun pada situasi putusan yang kompleks, mutlak diperlukan prosedur pemecahan masalah dengan tahapan yang lebih sistemasis. Aspek dalam pengambilan keputusan adalah mengidentifikasi masalah, menentukan tujuan dan analisis masalah, mengembangkan berbagai alternatif solusi, mengevaluasi alternatif, memilih alternatif terbaik, melaksanakan keputusan, dan evaluasi akhir. Tahapan ini dapat dijadikan model pembelajaran bagi Sisya Utama Widya Pasraman.

Model pembelajaran ini mengarah pada pengenalan pola pikir ilmiah, yang sebelumnya telah disisipkan pada soal-soal HOTS (high order thinking skill) Kurikulum 2013. Ini sangat aplikatif untuk pembelajaran Agama Hindu dengan kearifan lokal atau isu tentang Hindu di masyarakat sebagai pembuka konsep. Mereka sudah bisa dikenalkan pada permasalahan aktual dan menawarkan solusi. Acarya bisa mendampingi Sisya dalam membuat proyek sosial-keagamaan, seperti menyusun artikel observasi, poster, atau karya digital lainnya yang dapat disebarluaskan.

Fitur-fitur ePasraman dapat dioptimalkan untuk membentuk sistem informasi terpadu terkait semua proses pembelajaran. ePasraman juga diharapkan mampu menjadi media pertukaran informasi antar-Pasraman. Berbagai kegiatan nasional yang dapat diikuti oleh Sisya dan Acarya juga sangat baik untuk dilaksanakan. Selain bagi Pasraman, model yang telah diusulkan juga dapat diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu di sekolah umum.

Penutup

Model pembelajaran berbasis kearifan lokal terdigitalisasi sangat sesuai untuk menyiapkan generasi Hindu menghadapi Society 5.0. Tentunya, upaya ini harus diimbangi dengan penyediaan sarana-prasarana yang memadai serta kualitas dan pemerataan tenaga pendidik. Maha Widya Pasraman yang mencetak cendekiawan Hindu memiliki peran strategis dalam upaya pengembangan pendidikan Hindu di tingkat dasar dan menengah. Kajian model pembelajaran dan peningkatan kompetensi lulusan menjadi dua kunci utama dalam peran Maha Widya Pasraman. Sebuah perubahan masif membutuhkan konstruksi yang sistematis dari berbagai pihak dengan kolaborasi secara vertikal maupun horizontal. Akhir kata, mari kita menanamkan kembali arti penting pendidikan bagi perkembangan manusia, melalui sloka berikut:

Semakin dalam seseorang mempelajari ilmu pengetahuan, maka lebih dalam pulalah ia mengerti semuanya dan kepandaiannya akan bercahaya terang pada wajahnya.

(Manava Dharmasastra IV.20)

DAFTAR PUSTAKA

Ni Nyoman L. H., Muliastrini, N. K. E. 2020. Pembelajaran Era Disruptif Menuju Era Society 5.0 (Telaah Perspektif Pendidikan Dasar). Prosiding Webinar Nasional IAHN-TP Palangka Raya.

Astawa, I. N. T. 2017. Pengembangan Pembelajaran Agama Hindu di Sekolah Berbasis Kearifan Lokal. Jurnal Penelitian Agama. 3(1): 48-54.

Kemendikbud RI. 2020. Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2020-2024.

Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Hindu

Admin. 2020. ePasraman Sistem Digital Pendidikan Hindu. Diakses dari http://epasraman.id/

FPPSI-UM. 2015. Problem dalam Perkembangan Psikologi Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH). Diakses dari https://fppsi.um.ac.id/problem-dalam-perkembangan-psikologi-anak-yang-berhadapan-dengan-hukum-abh/

Puspasari, D. 2016. Hubungan antara Kematangan Emosi dengan Pengambilan Keputusan pada Remaja di SMAN 2 Sukoharjo. Naskah Publikasi. Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Share:

administrator