![]()
Jakarta, kmhdi.org – Realitas organisasi mahasiswa hari ini menunjukkan satu fakta yang tak terhindarkan: beban organisasi semakin besar seiring meluasnya struktur dan meningkatnya intensitas aktivitas. Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI), yang kini telah tersebar di 22 provinsi, menghadapi tantangan operasional yang tidak ringan. Bertambahnya jumlah cabang dan pengurus secara langsung berdampak pada meningkatnya kebutuhan pembiayaan organisasi, mulai dari kaderisasi, konsolidasi, hingga kerja-kerja advokasi.
Secara konkret, beban operasional sekretariat berada pada kisaran Rp5 juta hingga Rp8 juta setiap bulan. Dalam satu periode kepengurusan, kebutuhan organisasi diperkirakan mencapai sekitar Rp1,5 miliar, belum termasuk biaya pendidikan pengurus dan kebutuhan operasional lain yang bersifat non-formal seperti agenda ngopi, diskusi, serta rapat-rapat informal yang kini justru menjadi ruang kaderisasi utama. Di saat yang sama, pembiayaan kegiatan di tingkat Pimpinan Daerah (PD) dan Pimpinan Cabang (PC) juga mengalami berbagai tantangan. Bantuan dari Kementerian Agama tidak lagi sebesar tahun-tahun sebelumnya, begitu pula sumber pembiayaan lainnya yang sangat dinamis. Kebutuhan finansial ini hampir pasti akan terus meningkat seiring bertambahnya kegiatan kaderisasi, pengabdian masyarakat, dan kerja-kerja advokasi yang dilakukan oleh KMHDI.
Pada saat yang sama, karakter mahasiswa juga mengalami perubahan signifikan. Budaya diskusi formal di ruang-ruang sekretariat perlahan bergeser ke ruang publik yang lebih cair, mulai dari warung kopi, ruang kreatif, hingga komunitas informal. Pergeseran ini tidak hanya berdampak pada pola kaderisasi, tetapi juga pada beban operasional organisasi. Aktivitas organisasi menjadi lebih dinamis, namun sekaligus menuntut fleksibilitas pembiayaan yang lebih besar.
Meski KMHDI telah berdiri selama lebih dari tiga dekade, sebaran dan kekuatan konsolidasi jaringan senior hari ini masih belum sepenuhnya mampu menopang kebutuhan organisasi yang terus berkembang. Ketergantungan berlebih pada dukungan senior, negara, atau pihak eksternal menyimpan risiko tersendiri, terutama terhadap independensi dan arah gerak organisasi. Karena itu, penguatan kemandirian ekonomi menjadi kebutuhan strategis, bukan sekadar pilihan.
Filsuf Jerman Immanuel Kant menekankan pentingnya otonomi sebagai syarat kedewasaan moral: kemampuan untuk menentukan arah dan tindakan sendiri tanpa ketergantungan yang melemahkan. Dalam konteks organisasi mahasiswa, kemandirian ekonomi adalah prasyarat bagi otonomi gerakan. Organisasi yang tidak mandiri secara finansial akan selalu berada dalam posisi rentan terhadap intervensi kepentingan pragmatis, termasuk politik kekuasaan jangka pendek.
Organisasi modern hari ini telah melangkah lebih jauh dengan membangun kemandirian finansial agar dapat bergerak lebih lincah dan berintegritas. Tren meningkatnya sektor UMKM dan ekonomi kreatif di Indonesia membuka peluang besar bagi organisasi mahasiswa untuk ikut terlibat secara produktif. Bagi KMHDI, sektor ini bukan hanya sumber pembiayaan alternatif, tetapi juga ruang kaderisasi baru yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Gagasan membangun badan usaha atau unit usaha organisasi menjadi langkah strategis menuju KMHDI yang berdikari. Unit usaha ini dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk: kemitraan strategis, kepemilikan saham dalam badan usaha bersama mitra, pembentukan unit usaha mandiri yang relatif minim risiko seperti waralaba, hingga pengembangan usaha berbasis potensi kader yang dikelola secara profesional. Skema-skema ini memungkinkan organisasi tidak hanya memperoleh pemasukan berkelanjutan, tetapi juga memberdayakan kader sebagai pelaku ekonomi yang kompeten dan berdaya saing.
Melalui keterlibatan langsung dalam pengelolaan usaha, kader tidak hanya belajar tentang manajemen dan bisnis, tetapi juga mengembangkan etos kerja, kreativitas, dan keberanian mengambil risiko, nilai-nilai penting bagi kader progresif. Badan usaha organisasi sekaligus berfungsi sebagai laboratorium kaderisasi ekonomi, di mana kader tidak hanya dibentuk sebagai aktivis sosial dan politik, tetapi juga sebagai subjek pembangunan yang memahami dinamika ekonomi rakyat.
Pemikiran Aristoteles tentang kemandirian (autarkeia) relevan untuk dibaca ulang. Bagi Aristoteles, kemandirian bukan berarti menutup diri, melainkan kemampuan mencukupi kebutuhan dasar agar seseorang atau dalam hal ini organisasi dapat mencapai tujuan hidup yang lebih luhur. Kemandirian ekonomi KMHDI tidak dimaksudkan untuk meniadakan kolaborasi, tetapi justru memperkuat posisi tawar organisasi dalam menjalin kerja sama yang setara dan bermartabat.
Pada titik ini, penting ditegaskan bahwa berdikari secara ekonomi tidak identik dengan menutup pintu kolaborasi. KMHDI tetap dapat membangun kerja sama dengan berbagai pihak selama sejalan dengan nilai dan prinsip organisasi. Justru dengan basis ekonomi yang lebih mandiri, ruang kolaborasi akan semakin kreatif, sehat, dan bebas dari tekanan kepentingan sempit. Independensi dan idealisme organisasi dapat dijaga secara lebih konsisten.
Kehadiran Creative Space KMHDI menjadi infrastruktur penopang dalam mewujudkan ekosistem ekonomi KMHDI. Sebagai pemantik, kehadiran Yayasan Vidya Bhakti Nusantara diproyeksikan menjadi wadah bagi unit usaha KMHDI jangka panjang, termasuk Dupa Dwipantara yang baru saja dirilis oleh Lembaga Ekonomi Kreatif dan UMKM sebagai pilot project unit usaha milik KMHDI. Inisiatif ini menunjukkan bahwa jalan menuju organisasi berdikari bukan sekadar wacana, melainkan telah mulai diaktualisasikan.
Ke depan, tantangan organisasi mahasiswa akan semakin kompleks. Mengandalkan sumber pembiayaan tradisional tidak lagi memadai. KMHDI dituntut untuk berani melangkah menuju fase baru: organisasi mahasiswa yang tidak hanya kuat secara ideologis dan struktural, tetapi juga mandiri secara ekonomi.
KMHDI berdikari bukanlah tentang akumulasi modal semata, melainkan tentang membangun keberanian untuk menentukan arah sendiri. Dengan kemandirian ekonomi, KMHDI dapat menjaga marwah gerakan, memperluas ruang kaderisasi, dan tetap relevan di tengah perubahan zaman. Inilah langkah strategis agar organisasi mahasiswa Hindu tidak hanya bertahan, tetapi juga berdaya dan bermakna bagi masa depan bangsa.
Penulis : I Wayan Darwaman (Ketua Umum PP KMHDI)
