SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Loading

Denpasar, kmhdi.org – Tulisan ini lahir sebagai kilas balik setelah penulis menamatkan karya Muhammad Muhibbuddin berjudul “Bung Hatta, Kisah Hidup dan Pemikiran Sang Arsitek Kemerdekaan”. Karena itu, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengulas secara utuh perjalanan hidup Bung Hatta, melainkan menangkap percikan-percikan pengetahuan yang menurut penulis penting untuk direnungkan. “Percikan” di sini bukan berarti sisanya tidak penting, melainkan catatan kecil yang bisa menjadi pintu masuk memahami sosok Bung Hatta. Semua itu penulis resapi di bilik bale bengong, ditemani petang dan segelas kopi panas.

Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902. Ia dibesarkan dalam dua arus besar: tradisi sufi dari garis ayahnya dan semangat kewirausahaan modern dari keluarga ibunya. Ayahnya berasal dari lingkungan religius yang menekankan spiritualitas, sementara pihak ibu adalah keluarga pedagang besar yang mengelola ekspor kayu, usaha angkutan, dan kontrak pos dengan pemerintah kolonial Belanda. Dua dunia inilah—spiritualitas sufistik dan rasionalitas dagang modern—yang kelak membentuk jati diri Bung Hatta sebagai pemimpin berkarakter ganda: religius sekaligus rasional, idealis sekaligus realistis.

Berasal dari keluarga berada, Bung Hatta memiliki kesempatan mengenyam pendidikan formal. Ia bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS), lalu melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) atau setara sekolah menengah pertama. Meski menempuh sekolah Barat, ia tetap tekun belajar agama dengan mendatangi para ulama di Padang. Tamat MULO, Hatta melanjutkan pendidikan ke Batavia di Prins Hendrik Handels School (Sekolah Dagang).

Selain menekuni pendidikan, Hatta juga aktif dalam organisasi. Ia bergabung dengan Jong Sumatranen Bond (JSB), sebuah perkumpulan pemuda Sumatra. Karier organisasinya berkembang pesat hingga ia dipercaya menjadi bendahara JSB tingkat pusat pada 1919. Aktivitas inilah yang mengasah kepemimpinannya, sekaligus mempertemukannya dengan tokoh pergerakan seperti Abdul Muis dan Haji Agus Salim.

Kesadaran politiknya tumbuh seiring keterlibatannya dalam organisasi dan pergaulan dengan tokoh pergerakan. Ia mulai memandang kemerdekaan bukan sekadar wacana, melainkan misi besar yang harus diperjuangkan. Karena ruang gerak di tanah air masih sempit di bawah kungkungan kolonial, ia memutuskan melanjutkan pendidikan ke negeri Belanda.

Di Rotterdam, ia menempuh studi ekonomi di Handelshogeschool (Sekolah Tinggi Dagang) pada 1921 berkat beasiswa Yayasan Van Deventer. Di sinilah ia menemukan ruang lebih luas untuk bertarung ide. Ia bergabung dengan Indische Vereeniging (kemudian menjadi Perhimpoenan Indonesia/PI), wadah mahasiswa Hindia Belanda di Eropa. Dari anggota biasa, ia naik menjadi ketua organisasi tersebut, dan dari sanalah namanya mulai dikenal di kancah internasional sebagai aktivis mahasiswa yang menyerukan “Indonesia Merdeka.”

Hatta memanfaatkan forum-forum internasional untuk menyuarakan perlawanan terhadap kolonialisme. Sementara di tanah air, Soekarno membumikan gagasan itu lewat PNI, Hatta menggaungkannya di Eropa dengan tulisan, pidato, dan majalah seperti Hindia Poetra dan Indonesia Merdeka.

Perjuangan itu akhirnya memicu reaksi keras pemerintah Belanda. Hatta dan kawan-kawan—Nazir Sutan Pamontjak, Ali Sastromidjojo, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat—ditangkap dan diadili. Namun, melalui pembelaan legendaris berjudul “Indonesia Merdeka”, Hatta berhasil mematahkan tuduhan pemerintah kolonial. Kemenangan itu bergema ke tanah air, menyulut semangat perlawanan rakyat, dan meneguhkan nama Bung Hatta sebagai intelektual pejuang.

Bagi Hatta, penangkapan itu bukanlah akhir, melainkan awal perjuangan panjang menuju Indonesia merdeka. Percikan pengetahuannya—tentang disiplin, kesetiaan pada prinsip, konsistensi dalam perjuangan, dan keberanian menempuh jalan intelektual-politik—adalah warisan penting bagi generasi kini.

Bung Hatta bukan hanya bapak proklamator. Ia adalah teladan bahwa kemerdekaan lahir dari gabungan spiritualitas, kecerdasan, integritas, dan keberanian melawan arus.

Penulis: Pitriyou (PP KMHDI)

Share:

administrator