SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Loading

Jakarta, kmhdi.org – Mari kita mulai dengan sedikit “penghinaan intelektual” kepada diri kita sendiri: seberapa sering kita menerima materi kaderisasi begitu saja tanpa bertanya, “Benarkah ini?”

Kaderisasi dalam KMHDI selama ini sering dianggap sebagai proses sakral: ada materi wajib, ada nilai luhur, ada agenda yang seakan tak boleh diubah. Peserta duduk berjam-jam mendengar ceramah, menghafal konsep, lalu pulang dengan setumpuk catatan. Tapi jarang sekali ada ruang untuk bertanya, apalagi menggugat isi materi itu sendiri.

Padahal, jika kaderisasi hanya mengulang tanpa menguji, kita melahirkan kader yang hafal teks tapi rapuh menghadapi realitas. Kaderisasi semestinya menjadi ruang untuk mengguncang kenyamanan berpikir, memecah keyakinan lama, lalu membangun keyakinan baru yang lebih matang. Bukan untuk meruntuhkan iman, tetapi untuk menguatkannya lewat pemahaman yang sadar dan kritis.

Mari saya ajak untuk mempertanyakan 3 konsepsi yang selama ini kita dengar dan hafal tanpa pernah diuji secara kritis. Karena ironisnya, kita diajarkan MDH sebagai teori revolusioner, tapi kita jarang memakainya untuk menguji konsepsi paling dasar yang membentuk cara umat berpikir. Akibatnya, MDH berhenti di ruang kelas, tak pernah masuk ke ruang batin.

Panca Maha Bhuta: Dari Dogma ke Ilmu Pengetahuan

Setiap kader Hindu pasti mengenal Panca Maha Bhuta: tanah (pertiwi), air (apah), udara (bayu), api (teja), dan ether/ruang kosong (akasa). Dalam sekolah agama, konsep ini disampaikan seolah-olah adalah fakta mutlak yang tak perlu dipertanyakan. Namun, bagaimana jika kita membacanya dengan bahasa sains?

Tanah adalah padatan — struktur keras yang memberi bentuk pada tubuh: tulang, gigi, dan mineral di dalam sel.

Air adalah cairan yang mengalirkan kehidupan, membawa nutrisi, mengatur suhu, dan menjadi medium komunikasi biologis.

Api adalah energi — metabolisme yang menjaga tubuh tetap hidup, panas yang memicu reaksi kimia, dan sumber daya yang kita gunakan setiap hari.

Udara adalah gerakan — dari napas, sirkulasi darah, getaran suara, hingga pergerakan molekul yang tak terlihat.

Akasa adalah ruang hampa — wadah di mana seluruh proses itu berlangsung, baik di dalam tubuh maupun di jagat raya. Tahukah kalian bahwa ketika atom dibelah sekalipun, isinya adalah ruang.

Membaca ulang Panca Maha Bhuta dengan kerangka ini tidak menyalahi ajaran leluhur, justru memperkaya maknanya. Ia menjadi jembatan antara kearifan kuno dan pengetahuan modern. Umat belajar bahwa ajaran agama bukan fosil yang harus diawetkan, tetapi air mengalir yang bisa mengikuti bentuk zaman.

Tri Kaya Parisudha: Bukan Sekadar Larangan

Tri Kaya Parisudha sering diajarkan sebagai tiga perilaku yang disucikan: berpikir baik (manacika), berkata baik (wacika), dan berbuat baik (kayika). Sayangnya, lagi-lagi pelajaran agama kerap berhenti di daftar larangan: jangan berpikir buruk, jangan berkata kasar, jangan berbuat jahat.

Bayangkan jika kita membacanya sebagai strategi manajemen diri:

Manacika menjadi pengelolaan pola pikir: fokus, logika, dan pengendalian emosi.
Wacika menjadi kecakapan komunikasi: membangun dialog, merumuskan argumen, dan menenangkan konflik.
Kayika menjadi manajemen tindakan: mengeksekusi ide, menjaga disiplin, dan konsisten dalam aksi.

Dengan pembacaan ini, Tri Kaya Parisudha bukan lagi moralitas pasif, tetapi metode membangun efektivitas pribadi di dunia nyata. Kita diajarkan berpikir, berkata, dan berbuat baik. Tapi kapan terakhir kali kita bertanya: “Apakah berpikir baik berarti tidak boleh mengkritik?” atau “Apakah berkata baik berarti harus selalu menyenangkan semua orang?” Jika tidak hati-hati, doktrin moral bisa menjelma jadi pengekang logika.

Catur Varna: Dari Kasta ke Kompetensi

Catur Varna kerap menjadi bahan sensitif karena sering disalahartikan sebagai sistem kasta. Dalam materi kaderisasi, ia diajarkan normatif: empat peran yang terkesan baku — Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra.

Padahal, jika dibaca ulang, Catur Varna adalah pemetaan peran sosial berdasarkan kompetensi, bukan garis keturunan:

Brahmana: intelektual dan pendidik.

Ksatria: pemimpin dan pelindung.

Waisya: pengelola ekonomi.

Sudra: eksekutor teknis.

Dengan kerangka ini, kader belajar bahwa peran sosial bersifat dinamis: seseorang bisa berpindah peran sesuai kapasitas dan kebutuhan zaman. Atau bahkan ini adalah peran kita tiap-tiap individu.

Kaderisasi sebagai Proses Destruksi–Rekonstruksi

Jika materi kaderisasi Hindu berani mengadopsi pendekatan ini, prosesnya akan menjadi dekonstruksi individu: membongkar dogma yang mengurung cara berpikir, mengguncang rasa nyaman, lalu rekonstruksi keyakinan dengan fondasi yang lebih kokoh dan relevan.

Inilah seharusnya ruang hidup bagi Materialisme Dialektika dan Historis (MDH) yang selama ini kita pampang di modul, tapi jarang kita pakai untuk membedah ajaran kita sendiri. MDH bukan sekadar teori revolusioner di atas kertas, melainkan pisau analisis yang bisa memotong ilusi, menguji relevansi, lalu merangkai kembali makna agar ajaran tetap hidup di zaman yang berubah.

Kader yang lahir dari proses seperti ini tidak hanya hafal ajaran, tetapi mampu menggunakannya sebagai alat analisis dan aksi. Mereka akan siap berdiri di tengah dunia yang berubah cepat, tanpa kehilangan arah spiritualnya.

Karena iman yang matang bukanlah iman yang tak pernah goyah, melainkan iman yang telah melewati guncangan — dan tetap memilih berdiri di atas dharma.

Penulis : Lingga Dharmananda Siana (Fungsionaris PP KMHDI)

Share:

administrator