![]()
Denpasar, kmhdi.org – Perkenalkan, saya I Ketut Radi Sugandhi, mahasiswa Teologi Hindu dari Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Pada kesempatan kali ini, saya akan menjelaskan pandangan saya mengenai Nyepi.
Bagi saya, Hari Raya Nyepi bagaikan oasis yang memberi ketenangan dan kedamaian dari hiruk pikuk kehidupan modern. Nyepi bukan hanya sebuah hari raya keagamaan belaka, tetapi juga merupakan waktu untuk melakukan refleksi diri mengenai hubungan dengan sesama, alam semesta, Tuhan, dan kehidupan yang selama ini dijalani.
Opini saya mengenai Nyepi:
Nyepi yang penuh keheningan adalah waktu untuk merenungkan secara mendalam pikiran, perkataan, perbuatan, dan perasaan selama setahun terakhir. Ini dapat dijadikan sebagai refleksi diri agar bisa melepaskan energi negatif dan membuka lembaran baru, melangkah menuju jalan kehidupan yang lebih baik serta lebih terbuka terhadap perubahan yang akan datang.
Pada Hari Raya Nyepi, terdapat empat pantangan yang disebut Catur Brata Penyepian, di antaranya:
Kurangnya pemahaman tentang makna mendalam Catur Brata Penyepian dapat menyebabkan pelaksanaan yang kurang maksimal. Sehingga, ada beberapa orang yang melaksanakan Nyepi hanya sebagai rutinitas tahunan saja.
Secara keseluruhan, Nyepi menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati bisa ditemukan dalam keheningan, bukan hanya dari keramaian dan aktivitas.
Penulis : I Ketut Radi Sugandhi (Kader PC KMHDI Denpasar)
