![]()
Karangasem, kmhdi.org – Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PC KMHDI) Karangasem kembali melaksanakan program KMHDI Mengajar sebagai wujud kepedulian terhadap pendidikan dan pelestarian budaya di daerah pelosok. Kali ini, kegiatan berlangsung di Desa Temega, Karangasem, dengan menghadirkan berbagai materi ajar, salah satunya adalah mejejaitan, seni merangkai janur yang merupakan bagian penting dalam tradisi keagamaan Hindu di Bali. (23/02)
Program ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan anak-anak di Desa Temega, tidak hanya dalam bidang akademik seperti Matematika dan Bahasa Indonesia, tetapi juga dalam pelestarian budaya lokal. Dalam sesi mejejaitan, anak-anak didik diajarkan cara membuat berbagai bentuk hiasan dari janur yang sering digunakan dalam upacara adat, seperti canang sari dan tamas.
KABID Sosial Kemasyarakatan (SOSMAS) PC KMHDI Karangasem, I Ketut Susila Arimbawa, menjelaskan bahwa pengenalan mejejaitan bertujuan untuk menanamkan rasa cinta terhadap budaya Bali sejak dini.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya fokus pada pelajaran akademik, tetapi juga memahami dan melestarikan tradisi leluhur mereka. Mejejaitan adalah salah satu keterampilan yang penting dalam kehidupan beragama di Bali, dan kami berharap mereka dapat terus meneruskan warisan budaya ini,” ujarnya.
Selama sesi berlangsung, anak-anak didik belajar teknik dasar menganyam janur dengan bimbingan mahasiswa KMHDI yang telah berpengalaman, yang kali ini diajarkan oleh Ni Wayan Yuni Ariningsih, selaku anggota bidang SOSMAS PC KMHDI Karangasem.
Mereka juga diajak untuk memahami makna filosofis di balik setiap bentuk jejaitan, sehingga tidak hanya sekadar membuat, tetapi juga memahami nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.
Selain mejejaitan, KMHDI Mengajar juga menghadirkan berbagai aktivitas edukatif lainnya, seperti permainan interaktif, diskusi motivasi, dan penguatan nilai-nilai ke-Hinduan. Dengan adanya program ini, PC KMHDI Karangasem berharap dapat memberikan dampak positif bagi anak-anak di Desa Temega, baik dari segi akademik maupun budaya.
