![]()
Bandung, kmhdi.org – Uji formil sudah ada. Administrasi sudah lengkap. Tim seleksi sudah bekerja. Semua syarat bisa dicentang, semua berkas bisa dinyatakan sah. Tapi sepertinya ada satu jenis ujian yang tidak pernah masuk ke meja timsel, tidak tercantum di juklak-juknis, dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan tanda tangan di atas materai: uji nurani.
Karena organisasi kader tidak hidup dari map berkas dan stempel basah. Organisasi kader hidup dari arah, dari keberanian, dan dari kejujuran. Tulisan ini lahir sebagai ujian itu—bukan untuk menggugurkan siapa pun, tetapi untuk mengguncang setiap orang yang merasa dirinya sedang berdiri di barisan depan hari ini.
KMHDI hari ini tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan orang rajin. Bahkan tidak kekurangan orang yang pandai berbicara—mungkin justru itu yang paling banyak. Yang kurang adalah pemimpin yang berani dan bisa bicara lurus. Banyak calon mampu menjelaskan panjang lebar, menyusun kalimat indah, menyiapkan rencana besar, penuh janji dan komitmen:
“kami akan…” “kami ingin…” “kami berkomitmen…” “kami bermimpi…”
Namun ketika ditanya:
“Terus kader dapat apa?”
“Daerah dapat apa?”
“Jalurnya lewat mana?”
Jawabannya hampir selalu:
“nanti kita formulasikan…” “akan kita kaji…” “akan kita sinergikan…”
Artinya? Belum tahu.
Semakin panjang penjelasan, semakin terasa bahwa arah sebenarnya belum ada. Ini bukan soal intelektualitas, tapi soal keberanian moral—kejujuran untuk mengakui keterbatasan dan keberanian untuk bicara apa adanya.
Belakangan banyak yang menyebut nama Menteri Purbaya, bukan semata karena viral atau gaya bicaranya yang lugas, tapi karena dia berani ngomong lurus, mengambil keputusan cepat, dan menanggung akibatnya. Bahasa sederhananya bisa dipahami rakyat, arah kebijakannya jelas. Ia tidak sibuk menutup realitas, tapi berani memotong persoalan. Dan di titik itu, banyak kader sadar bahwa yang dirindukan bukan pemimpin yang paling puitis, melainkan pemimpin yang paling berani.
KMHDI seharusnya menjadi sekolah kader, bukan sekadar panggung seremonial. Bukan sekolah mahal, bukan sekolah yang sibuk dengan flyer, tapi sekolah yang benar-benar mendidik. Di sekolah, murid boleh berbeda cita-cita, tapi prosesnya sama: belajar, tumbuh, dan naik kelas bersama. KMHDI pun seharusnya seperti itu. Tidak semua harus jadi aktivis, tapi semua harus jadi manusia yang naik level. Organisasi ini harus memberi jalan bagi kader yang ingin menjadi pendidik, birokrat, akademisi, pengusaha, seniman, maupun pekerja sosial. Bukan menyeragamkan mimpi, tapi menyeragamkan proses pembentukan diri.
Masalahnya, hari ini sering kali terbalik. Banyak yang naik duluan, belajarnya belakangan. Yang rajin bekerja kalah oleh yang rajin nongkrong. Yang serius membangun kapasitas tersisih oleh yang pandai membuat lingkaran kecil. Kita terbiasa melihat jabatan sebagai tujuan, bukan sebagai amanah. Dan jangan heran jika banyak mahasiswa Hindu akhirnya menjauh. Mereka bukan malas, bukan apatis, tapi jujur membaca arah sistem yang terasa tidak adil.
Musuh KMHDI bukanlah orang. Bukan nama, bukan daerah. Musuh kita adalah kebiasaan yang kita rawat sendiri: patronase yang membuat orang naik karena dekat, bukan karena layak; sentralisasi yang membuat daerah disuruh patuh, bukan diberi ruang tumbuh; formalitas yang membuat rapat jalan, laporan tertulis, tapi kader pulang tanpa perubahan. Ini bukan niat buruk, tapi sistem yang terlalu lama dibiarkan nyaman. Dan sistem yang nyaman hanya akan melahirkan pemimpin yang nyaman—bukan pemimpin yang berani.
Ada ironi lain yang jarang dibahas: banyak kader sebenarnya sudah menulis gagasan luar biasa, dengan analisis matang dan data yang kuat. Tulisan-tulisan itu hidup di website, di grup, di forum kecil. Tapi sering kali sepi pembaca, tidak pernah dijadikan bahan kebijakan. Lalu saat Mahasabha tiba, visi–misi yang disusun terburu-buru justru viral, jadi ukuran “siapa paling visioner.” KMHDI tidak kekurangan gagasan, kita hanya sering salah memberi panggung.
Bahasa sederhana dalam tulisan ini bukan karena ketidakmampuan berpikir tinggi, tapi karena ingin mengajak lebih banyak kader masuk ke ruang berpikir sebelum ruang itu penuh oleh poster dan jargon. Kader baru, kader yang jarang baca, tetap harus bisa paham arah perjuangan organisasi. Karena organisasi kader tidak boleh eksklusif dalam cara berpikirnya. Ia harus inklusif dalam kesadarannya.
Tulisan ini bukan serangan, melainkan titipan harapan. Siapa pun yang maju sebagai Calon Ketua Umum, dari mana pun asalnya, harus sadar bahwa begitu ia menyatakan diri siap memimpin, ia tidak hanya membawa namanya, tapi juga nasib ribuan kader yang tumbuh dan jatuh bersama organisasi ini.
Kami tidak butuh pemimpin yang paling lantang di forum. Kami butuh pemimpin yang berani membuka jalan. Yang kalau ditanya, jawabannya lurus. Yang kalau salah, berani mengakui. Yang kalau memutuskan, siap menanggung akibatnya. Kami tidak butuh ketua yang tampak sibuk, tapi yang membuat kadernya tumbuh. Tidak butuh ketua yang sering muncul di poster, tapi yang sering memikirkan bagaimana kader di daerah bisa naik kelas.
Pemilihan ke depan bukan tentang siapa paling jago konsolidasi, paling lihai mengatur massa, atau paling mahir mengacak-acak suara. Ini bukan lomba teknik bertahan hidup di internal organisasi. Ini pertaruhan arah. Kita sedang memilih apakah KMHDI mau menjadi tempat bertumbuh atau sekadar arena rebutan pengaruh.
Jika yang diadu hanya kemampuan “mengamankan,” maka yang lahir bukan pemimpin, tapi bos besar kekuasaan. Dan KMHDI tidak dibangun untuk itu.
KMHDI hari ini berdiri di persimpangan. Bisa terus menjadi organisasi yang besar di nama tapi kecil di dampak, atau berani membersihkan diri dan kembali ke ruh kaderisasi. Pilihan itu ada di tangan calon pemimpin—dan tidak bisa disembunyikan di balik jargon.
Dan sebelum ada yang bertanya, “siapa kamu sampai berani nulis begini?”, jawabannya sederhana: aku bukan siapa-siapa. Aku tidak mencalonkan diri, tidak punya tim sukses, tapi aku punya hak yang sama untuk bersuara seperti para calon. Karena organisasi ini bukan milik kandidat, bukan milik elite, bukan milik masa lalu (dibaca: alumni). Organisasi ini milik kader.
Selama aku masih kader, aku berhak menulis, bersuara, dan berharap. Bahkan jika tulisan ini tidak mengubah apa pun, setidaknya memastikan satu hal: KMHDI tidak mati dalam diam.
Aku pun sadar, sebagai Ketua PC KMHDI Bandung, aku juga pernah melakukan kesalahan yang sama dengan yang aku kritik di sini. Tapi justru karena itu tulisan ini lahir — bukan sebagai penghakiman, melainkan sebagai pengakuan dan harapan. Karena organisasi yang besar bukan yang tidak pernah salah, tetapi yang masih mau bercermin dan berubah.
Kalau nuranimu terguncang, kawan, berarti kamu masih hidup.
Dan selama nurani itu masih hidup, KMHDI masih punya harapan.
Penulis : I Made Bayu Satria Nugraha (Ketua PC KMHDI Bandung)
