![]()
Denpasar, kmhdi.org – Ketua Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PC KMHDI) Denpasar, Panca Kusuma Ramadi, menilai dinamika yang terjadi di Kota Denpasar sepanjang tahun 2025 sebagai peringatan serius bagi seluruh pemangku kepentingan, khususnya pemerintah dan generasi muda terpelajar. Ia menegaskan bahwa berbagai persoalan yang muncul tidak dapat lagi dipandang sebagai kejadian insidental, melainkan telah bersifat struktural (1/01).
Panca mengungkapkan bahwa tahun 2025 meninggalkan sejumlah catatan krusial bagi Kota Denpasar, mulai dari persoalan lingkungan, kemacetan, hingga keamanan. Salah satu isu utama yang disorot adalah kondisi darurat lingkungan, ditandai dengan isu penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung di penghujung tahun yang memicu antrean sampah di berbagai titik kota.
“Situasi tersebut menunjukkan kegagalan kolektif dalam mengelola lingkungan secara berkelanjutan. Konsep Tri Hita Karana, khususnya aspek palemahan, belum dijalankan secara konsisten dari hulu hingga hilir,” ujarnya.
Selain persoalan sampah, KMHDI Denpasar juga menyoroti tragedi banjir bandang yang terjadi pada September 2025 dan menyebabkan korban jiwa serta kerusakan pada pusat-pusat aktivitas ekonomi, termasuk Pasar Kumbasari. Menurut Panca, peristiwa tersebut menjadi indikator lemahnya perencanaan tata ruang dan sistem drainase di tengah laju pembangunan kota yang semakin masif.
Di bidang sosial dan keamanan, KMHDI Denpasar mencatat peningkatan angka kriminalitas yang signifikan. Kondisi ini dinilai sebagai tantangan serius dalam menjaga perspektif masyarakat bahwa Bali adalah daerah yang aman.
“Bali ini sering disebut dengan daerah yang aman. Orang luar sering menyebut Bali sebagai daerah tanpa maling dan pembunuhan. Tapi jika perspektif ini digagalkan dengan kondisi realita sekarang, maka siap-siap saja Bali akan kehilangan kepercayaan masyarakat,” ujar Panca Kusuma.
Menanggapi situasi tersebut, Panca menegaskan komitmen PC KMHDI Denpasar untuk terus mengambil peran sebagai mitra kritis sekaligus strategis Pemerintah Kota Denpasar. Ia menyatakan bahwa KMHDI tidak akan bersikap pasif, melainkan aktif mendorong solusi melalui kolaborasi nyata.
“KMHDI Denpasar siap berkolaborasi dalam edukasi pengelolaan sampah berbasis rumah tangga, pengabdian masyarakat di wilayah rawan bencana, serta penguatan keamanan dan ketertiban masyarakat melalui edukasi nilai-nilai Dharma,” katanya.
Lebih lanjut, KMHDI Denpasar juga menyatakan kesiapan untuk menyumbangkan gagasan dan kreativitas mahasiswa dalam mendukung percepatan transisi Denpasar menuju Smart City yang tetap berakar pada nilai budaya dan kearifan lokal.
Memasuki tahun 2026, KMHDI Denpasar berharap arah kebijakan pemerintah tidak bersifat reaktif atau sekadar penanganan jangka pendek. Organisasi kepemudaan tersebut mendorong adanya langkah strategis dan berkelanjutan, khususnya dalam pengelolaan lingkungan, pembangunan infrastruktur, serta pengembangan sumber daya manusia. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antarorganisasi di Kota Denpasar dalam mewujudkan tata kelola kota yang lebih baik.
“Denpasar adalah rumah bersama. Menjaganya merupakan wujud pengabdian kepada bangsa, negara, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” pungkas Panca.
