SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Loading

Jakarta, kmhdi.org – Dalam sejarah pergerakan mahasiswa di Indonesia, perdebatan mengenai prioritas antara prestasi akademik dan dedikasi organisasi sering kali terjebak dalam dikotomi yang semu. Bagi kader Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI), tantangan ini harus dijawab dengan sebuah paradigma baru: bahwa intelektualitas yang mumpuni dan militansi yang tangguh adalah dua sisi dari satu mata uang perjuangan yang sama.

Intelektualitas sebagai “Jnana”: Kewajiban Dharma bagi Pelajar
Secara teologis, pengejaran ilmu pengetahuan adalah kewajiban primer seorang Brahmacari. Kitab Bhagavad Gita 4.38 menyatakan:
“Na hi jnanena sadrsam pavitram iha vidyate” (Sesungguhnya, tidak ada penyuci yang setara dengan ilmu pengetahuan di dunia ini).

Capaian akademik (IPK) yang tinggi adalah representasi kontemporer dari penguasaan Jnana. Secara sosiologis, ini adalah bentuk modal simbolik (Pierre Bourdieu) yang memberikan kredibilitas bagi kader untuk berbicara di ruang publik. Tanpa kecerdasan akademik, gerakan mahasiswa akan kehilangan otoritas intelektualnya dan terjebak dalam populisme kosong. Data dari World Economic Forum menegaskan bahwa complex problem solving yang diasah melalui studi akademik adalah kompetensi paling krusial di masa depan.

Militansi sebagai “Karma” dan “Virya”: Roh Pergerakan
Namun, intelektualitas tanpa militansi hanya akan melahirkan apa yang disebut oleh Antonio Gramsci sebagai “intelektual tradisional” yang terisolasi di menara gading. KMHDI membutuhkan “intelektual organik” yang berani turun ke gelanggang. Militansi adalah manifestasi dari sifat Virya (keberanian/keteguhan).

Kitab Bhagavad Gita 2.47 mengingatkan:
“Karmany evadhikaras te ma phalesu kadacana” (Kewajibanmu adalah melakukan tugas/aksi, bukan terpaku pada hasil).

Militansi dalam berorganisasi adalah laboratorium nyata untuk mengasah soft skills. Studi dari LinkedIn Global Talent Trends menunjukkan bahwa kemampuan kepemimpinan dan manajemen krisis—yang didapatkan melalui militansi organisasi—memiliki korelasi positif terhadap keberhasilan karier jangka panjang melebihi sekadar nilai akademik.

Sangha Suktam: Militansi dalam Kolektivitas
Militansi kader KMHDI tidak boleh bersifat individualistik, melainkan harus terorganisir. Hal ini selaras dengan esensi Rig Veda X.191.2 (Sangha Suktam):
“Sam gacchadhvam sam vadadhvam sam vo manamsi janatam” (Berjalanlah bersama, berbicaralah bersama, biarlah pikiranmu bekerja bersama dalam kesatuan).

Pesan ini menegaskan bahwa kekuatan organisasi terletak pada harmoni antara individu-individu yang cerdas secara personal namun militan secara kolektif. Tokoh intelektual Hindu modern, Swami Vivekananda, pernah berujar: “Education is the manifestation of the perfection already in man.” Kesempurnaan yang dimaksud mencakup ketajaman otak untuk berpikir dan kekuatan otot untuk bertindak.

Analisis Sintesis: Menuju Kader Paripurna
Menggabungkan IPK tinggi dan militansi organisasi adalah sebuah bentuk dialektika progresif. Kader yang memiliki kedua aspek ini akan mampu melakukan analisis kebijakan berbasis data (intelektual) sekaligus mengawal implementasi kebijakan tersebut dengan aksi nyata (militan).

Kader KMHDI harus menanggalkan mentalitas medioker yang hanya memilih salah satu. Kita harus menjadi “Ilmuwan yang Berjuang” dan “Pejuang yang Berilmu”. Dengan menyatukan cahaya ilmu pengetahuan (Jnana) dan semangat pengabdian (Karma), KMHDI akan terus menjadi garda terdepan dalam mewujudkan kejayaan umat dan bangsa (Dharma Negara).

Penulis: I Wayan Sugita (Anggota Dep. Kaderisasi)

Share:

administrator