SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Loading

Jakarta, kmhdi.org – Saya pemuda Hindu Bali yang lahir di rantau dan besar sebagai minoritas. Sejak kecil saya tahu satu hal: kalau cuma nurut dan cari aman, identitas itu gak akan selamat. Makanya saya muak ketika masuk organisasi Hindu dan justru diajarin kebalikannya: diam itu bijak, kritis itu ancaman.

“Nak Mule Keto” Itu Bukan Kedewasaan, Itu Alasan Orang Takut

Mari jujur, diorganisasi Hindu, nak mule keto bukan tradisi. Itu tameng kepengecutan.

Setiap ada kader nanya:

“Kenapa kita diam soal tanah adat?”

“Kenapa budaya dijual tapi kita tepuk tangan?”

“Kenapa organisasi cuma rame pas acara?”

Jawabannya selalu muter:

“Pelan-pelan.”

“Jangan ribut.”

“Sing usah mikir abot-abet.”

“Taloh goreng ade hasil.”

Artinya jelas:

Jangan ganggu kenyamanan elite organisasi.

Organisasi Hindu Hari Ini Lebih Mirip EO + Lobi Murahan. Mari buka kartu, banyak organisasi Hindu sekarang:

  • lebih sibuk nyari aman,
  • lebih rajin jilat ke atas,
  • lebih peduli akses, dana, dan foto bareng pejabat daripada posisi umat sendiri.

Berani ke siapa?

ke kader sendiri.

Takut ke siapa?

ke kekuasaan.

Ini bukan strategi.

Ini mental pesuruh yang dikasih seragam organisasi.

Ributnya ke Sesama Hindu, Lembeknya ke Negara & Modal. Ini bagian paling memalukan.

Soal jabatan internal?

Ribut!

Soal tafsir kecil?

Ribut!

Soal legitimasi siapa paling Hindu?

Ribut!

Tapi pas:

vila masuk kawasan suci,

ruang sakral digerus kebijakan,

budaya diperas jadi komoditas,

organisasi mendadak jadi biksu: hening, kalem, spiritual.

Padahal itu bukan tenang.

Itu takut kehilangan akses dan keuntungan.

Saat ini gen Z lebih sering dijadikan objek, Bukan subjek

Gen Z disuruh ramein acara,urus teknis,bikin konten,dan ngayah tanpa banyak tanya.

Tapi begitu Gen Z mulai mikir dan nanya: “Organisasi ini bela siapa?”

“Arah perjuangannya apa?”

Langsung dicap kurang ajar, gak tahu adat, dan belum matang.

Padahal masalahnya sederhana:

organisasi takut kalau anak muda pinter.

Saya Lahir di Rantau, Jadi Saya Tahu: Diam Itu Bunuh Diri

Sebagai minoritas di rantau, saya belajar cepat:

kalau kamu gak bersuara, kamu dilangkahi;

kalau kamu gak ngelawan, kamu dihapus pelan-pelan.

Makanya saya geli lihat organisasi Hindu ngajarin kepasrahan sambil ngaku pelestari budaya.

Budaya itu bertahan karena diperjuangkan,

bukan karena dinyanyikan “nak mule keto”.

“Taloh Goreng Ade Hasil”? Justru Diam Itu yang Paling Gak Ada Hasil

Yang gak ada hasil itu:

rapat tanpa sikap,

acara tanpa keberanian,

organisasi tanpa nyali. Justru yang gak ada hasil itu bertahun-tahun cari aman, sampai umat makin kepepet dan anak muda muak.

Kalau organisasi Hindu bangga “netral”, “aman”, dan “tidak ribut”, maka jangan kaget kalau sejarah mencatatnya sebagai penonton yang sok bijak.

Jangan Ngaku Wakil Umat Kalau Takut Berkicau

Saya pemuda Hindu Bali, lahir di rantau. Menurut saya, Hindu ga butuh organisasi yang kelihatan rapi tapi kosong.

Kalau organisasi Hindu:

takut ambil sikap,

sibuk cari untung & posisi,

ribut ke dalam tapi patuh ke luar,

maka masalahnya bukan di Gen Z.

Masalahnya di organisasi yang:

kebesaran nama,

kekecilan nyali.

Dan satu hal terakhir, biar jelas:

  • Berhenti pake “nak mule keto”, “taloh goreng ade hasil”, “ ngujangen repot” buat nutup kebusukan struktural.
  • Berhenti jadikan budaya tameng buat pengecut.

Karena kalau terus begini, yang ditinggalkan nanti bukan cuma organisasi Hindunya, tapi masa depan Hindu itu sendiri.

Penulis : I Kadek Ria Febri Yana (Kader KMHDI)

Share:

administrator