SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Oleh : I Gusti Ayu Anindita Pradnyani – PC KMHDI Yogyakarta

PENDAHULUAN

Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana, artinya pendidikan harus diberikan dengan proses yang matang dan dipersiapkan dengan tataran yang baik (Sueca, 2017). Pemberian pendidikan agama Hindu ditekankan pada moral dan kondisi lingkungan generasi Hindu dalam belajar, dalam proses pembelajarannya menekankan untuk mencapai kompetensi, sehingga para generasi Hindu menjadi manusia yang susila, intelektual, dan berguna bagi pembangunan bangsa Indonesia.

Dalam ajaran Catur Asrama, terdapat jenjang Brahmacari, yaitu jenjang untuk menuntut ilmu pengetahuan (Sueca, 2017). Dalam tahap ini digunakan untuk menanamkan nilai-nilai agama agar budaya religius pada generasi Hindu dapat terwujud. Hingga kini pendidikan agama Hindu masih sebatas untuk memenuhi aspek kognitif saja. Pembelajaran agama Hindu masil didominasi dengan penyampaian teori saja, tanpa adanya proses analisis terlebih dahulu. Pembelajaran ini tidak dijadikan ajang peserta didik untuk memahami permasalahan yang akan mereka hadapi, tetapi menjadi ajang untuk sekedar mengahapal ajaran agama yang telah ada.

Minimnya kemampuan analisis yang dimiliki peserta didik tidak dapat membantu mereka untuk berkontribusi dalam perkembangan teknologi yang sangat pesat. Belum lagi kesiapan tenaga pendidik dan infrastruktur pendidikan yang masih minim untuk bersaing dengan era revolusi industr 4.0 saat ini. Tak hanya harus menghadapi era revolusi indurtri 4.0, pendidikan agama Hindu juga harus menghadapi era Society 5.0. Lalu hal apa yang harus dipersiapkan dalam menghadapi era Society 5.0 ini?

PEMBAHASAN

Tujuan agama Hindu adalah mencapai moksa dan jagadita (Astawa, 2018). Moksa diartikan sebagai penyatuan atma dengan Brahman, sedangkan Jagadita adalah kebahagiaan atau kesejahteraan dalam dunia. Tujuan hidup manusia merupakan turunan dari tujuan agama tadi. Dalam ajaran Hindu tujuan hidup manusia bersifat sistematis, dari dasar hingga tujuan tertinggi manusia.

Tujuan hidup manusia dalam ajaran Hindu terdapat dalam suatu konsep yang bernama Catur Purusha Artha, terdiri dari Dharma, Artha, Kama dan Moksa. Keempat tujuan tersebut tertuang dalam jenjang kehidupan yang dinamakan Catur Asrama, terdiri dari brahmacari, grahasta, vanaprasta dan bhiksuka. Brahmacari adalah jenjang awal dalam kehidupan manusia, dimana merupakan jenjang menuntut ilmu. Ini membuktikan bahwa agama Hindu telah menyadari akan pentingnya pendidikan.

Pendidikan agama mempunyai tugas untuk merajut nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar nilai-nilai keimananan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pendidikan agama tidaklah cukup hanya sekedar mempelajari hal-hal luar seperti upacara, peraturan, lambang-lambang dalam agama tersebut. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana menghadirkan iman, harapan, dan kasih dalam keseharian peserta didik.

Pembelajaran agama Hindu hendaknya tidak hanya sekadar formalisme, peserta didik tidak hanya diberikan pelajaran hafalan mengenai hukum dan teori saja, tetapi bagaimana guru dapat memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengartikulasi secara aktif dan kreatif berbagai pengalaman dalam kehidupan beragamanya, sehingga mampu membuat peserta didik menebarkan sikap dan perilaku kebajikan menurut ajaran agama Hindu.

Dewasa ini ajaran agama yang diberikan di sekolah cenderung bersifat ritualisme dan dogmaik. Hanya membahas bagaimana proses ritual dari agama itu dijalankan dan bagaimana keyakinan dan kepercayaan dalam agama tersebut yang harus diterima oleh peserta didik tanpa adanya proses berpikir dan perdebatan tentang kebenarannya. Inilah yang menjadi masalah dalam pendidikan agama Hindu saat ini.

Menurut Noer (dalam Suda, 2019), pendidikan agama yang menjadi sedemikian rupa disebabkan oleh empat factor, yakni pendidikan agama di sekolah-sekolah selama ini lebih menekankan transfer ilmu agama dibandingkan penanaman nilai-nilai keagamaan moral kepada peserta didiknya;  adanya sikap masyarakat, khususnya orang tua murid yang memandang keberadaan pendidikan agama di sekolah hanya menjadi ‘’hiasan kurikulum’’; dalam proses pembelajarannya pendidikan agama kurang menekankan rasa cinta kasih, sikap tolong menolong, suka damai, dan sikap persahabatan antar umat beragama, sehingga tidak terbangun sikap pluralisme yang baik di kalangan peserta didik; kurangnya perhatian untuk mempelajari agama-agama lain sebatas untuk pemahaman, sehingga dalam realitasnya di kalangan peserta didik muncul sikap fanatisme berlebihan terhadap ajaran agama yang dianutnya dan cenderung meremehkan agama orang lain, dimana hal ini dapat membahayakan integritas suatu bangsa.

Selain itu, tuntunan terbesar dalam pendidikan agama Hindu adalah perkembangan teknologi yang sangat pesat. Kondisi pendidikan agama Hindu yang masih terfokuskan pada menghapalkan teori saja, tanpa adanya kemampuan analisis terlebih dahulu, tentunya tidak dapat bersaing dengan perkembangan teknologi saat ini. Di era revolusi industry 4.0 kini tantangan bagi guru adalah kesiapan mereka dalam mengakses dan menguasai teknologi. Sedangkan, jumlah peserta didik yang sangat banyak tentunya menghadirkan kesulitan dalam proses pembelajaran dan akses terhadap teknologi yang tidak merata. Belum selesai dengan masalah tersebut, hadir konsep baru yang bernama Society 5.0.

Society 5.0 adalah konsep yang dicetuskan pemerintah Jepang, konsep yang tidak hanya terbatas pada factor manufaktor tetapi juga memecahkan masalah sosial dengan bantuan integrasi ruang fisik dan virtual. Berbeda dengan Industri 4.0 yang menyoroti efektivitas penggunaan mesin otomatis, Society 5.0 menyoroti efektivitas pengoptimalan manusia terhadap teknologi canggih. Singkatnya Society 5.0 berfokus pada bagaimana memanusiakan manusia dengan teknologi. Fokus keahlian di era ini meliputi cretivity, critical thingking, communicaion dan collaboration atau yang dikenal dengan 4Cs. Lalu bagaimana cara untuk mempersiapkan pendidikan agama Hindu agar dapat menghadai era Society 5.0 ini?

Yang pertama perlu diperhatikan adalah infrastruktur pendidikan yang belum memadai, perlu adanya pemerataan pembangunan ke seluruh wilayah Indonesia. Kemudian, tenaga pendidik yang kompeten, mamiliki keterampilan memadai dibidang digital dan berpikir kreatif, inovatif dan dinamis untuk menciptakan proses pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan. Terakhir, diperlukan juga pemanfaatan kemajuan internet yang telah tersedia saat ini, seperti yang disebutkan Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristek Dikti), Muhammad Nasir, terdiri dari pendidikan berbasis kompetensi, pemanfaatan IoT (Internet of Things), pemanfaatan virtual/augmented reality, dan pemanfaatan Artifical Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan (Suda, 2019), tak terkecuali agama Hindu. Hal tersebut di atas diharapkan mampu menghasilkan generasi Hindu yang berkualitas berlandaskan pada ajaran Hindu.

PENUTUP

Datangnya era society 5.0 perlu diwaspadai, pembelajaran agama Hindu perlu dipersiapkan untuk menghadapi era ini, sehingga mampu menghasilkan generasi Hindu yang berkualitas. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan untuk mengahadapi era society 5.0 diantaranya, pemerataan infrastruktur pendidikan, pengembangan tenaga pendidik yang kompeten dan pemanfaatan teknologi yang telah berkembang pesat.

DAFTAR PUSTAKA

Abdu, A. R. N., & Nastiti, F. E. (2019). Kesiapan Pendidikan Indonesia Menghadapi era society 5.0. Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan, 5(1). 61-66.

Astawa, I. N. S. (2018). Pola Pendidikan dalam Perspektif Pendidikan Hindu. Satya Widya: Jurnal Studi Agama1(1), 88-110. https://doi.org/10.33363/swjsa.v1i1.40

Suda, I. K. (2019). Membedah Tantangan dan Peluang Pendidikan Agama Hindu di Era Revolusi Industri 4.0. Prosiding Seminar Nasional Dharma Acarya ke-1, 9-16.

Sueca, I. N. (2017). Revitalisasi Pendidikan Agama Hindu dalam Menciptakan Budaya Religius Bagi Generasi Hindu 2017. Jurnal Penjamin Mutu, 3(2), 127-137.

Share:

administrator