![]()
Lampung Selatan, kmhdi.org – Saya masuk KMHDI dengan satu harapan sederhana: bertumbuh sebagai mahasiswa yang berpikir, bersikap, dan berdampak. Saya percaya narasi besar organisasi bahwa KMHDI bukan sekadar tempat berkegiatan, tapi ruang pembentukan pemikiran dan keberanian. Tapi semakin lama saya berada di dalam, semakin sulit menutup mata pada satu kenyataan: kita sibuk bergerak, tapi jarang benar-benar mengubah apa pun.
Di KMHDI, kegiatan hampir tidak pernah sepi. Rapat, diskusi, pengabdian, audiensi, semua berjalan. Tapi yang jarang lahir adalah gagasan yang benar-benar hidup. Diskusi selesai tanpa tindak lanjut, materi kaderisasi berhenti sebagai catatan, dan isu publik hanya disikapi ketika sudah ramai. Saya lebih sering melihat organisasi bereaksi daripada memimpin. Kita hadir setelah isu besar lewat, bukan sebelum masalah itu membesar.
Program-program seperti KMHDI Mengajar adalah contoh paling jujur. Saya ikut, saya terlibat, dan saya tahu niatnya baik. Tapi sering kali kami datang, mengajar, berfoto, lalu pulang tanpa rencana lanjutan. Tidak ada peta dampak, tidak ada kesinambungan, tidak ada dorongan untuk naik level dari sekadar kegiatan sosial menjadi intervensi kebijakan atau pengorganisasian komunitas. Kader aktif, tapi dampaknya cepat menguap.
Yang lebih mengganggu, budaya di dalam organisasi pelan-pelan mengajarkan satu hal: aman lebih penting daripada berani. Kader yang terlalu kritis dianggap merepotkan, yang terlalu banyak bertanya dicurigai. Akhirnya, gagasan mati bukan karena salah, tapi karena tidak diberi ruang. Kita jadi organisasi yang rapi secara administrasi dan dokumentasi, tapi kering secara pemikiran.
Saya menulis ini bukan karena benci KMHDI, tapi karena masih peduli. Organisasi kader tidak diukur dari seberapa sering ia berkegiatan, melainkan dari apa yang ditinggalkan setelah kegiatan selesai. Kalau kita terus nyaman di rutinitas tanpa gagasan, tanpa dampak, maka cepat atau lambat KMHDI akan kehilangan alasan untuk ada, bukan karena diserang dari luar, tapi karena gagal menjawab tantangan dari dalam.
Penulis : Sayu Putu Novitasari (Anggota Bidang Pengabdian & Masyarakat PC KMHDI Lampung Selatan)
