SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Loading

Jakarta, kmhdi.org – Perubahan zaman telah menggeser cara mahasiswa memaknai organisasi. Mahasiswa hari ini hidup dalam dunia yang serba cepat, digital, dan kompetitif. Orientasi terhadap masa depan, dunia kerja, dan aktualisasi diri menjadi semakin kuat. Dalam situasi ini, organisasi mahasiswa—termasuk Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI)—dituntut untuk terus memperbarui diri agar tetap relevan bagi mahasiswa Hindu.

Filsuf Italia, Antonio Gramsci, pernah menyebut bahwa krisis terjadi “ketika yang lama belum sepenuhnya mati, tetapi yang baru belum sepenuhnya lahir.” Situasi inilah yang tengah dihadapi banyak organisasi mahasiswa. Pola kaderisasi lama masih dijalankan, sementara realitas mahasiswa telah berubah. Akibatnya, kaderisasi kerap dipersepsikan sebagai rutinitas administratif, bukan sebagai ruang strategis pengembangan diri.

Kaderisasi mahasiswa hari ini tidak cukup jika hanya berorientasi pada ideologisasi dan loyalitas struktural. Mahasiswa kini berhadapan langsung dengan tuntutan kompetensi, portofolio, dan kesiapan kerja sejak dini. Jika organisasi mahasiswa gagal menjawab kebutuhan tersebut, maka jarak antara organisasi dan mahasiswa akan semakin melebar.

KMHDI sejatinya telah melakukan berbagai upaya pembaruan, mulai dari penyempurnaan materi hingga penyusunan sistem kaderisasi yang lebih terstruktur. Namun, tantangan zaman menuntut lebih dari sekadar perbaikan teknis. Diperlukan perubahan paradigma kaderisasi: dari yang seragam menjadi adaptif, dari yang normatif menjadi kontekstual.

Relevansi KMHDI juga sangat ditentukan oleh kemampuannya menguasai ruang-ruang kampus, khususnya perguruan tinggi keagamaan Hindu. Kampus bukan hanya tempat rekrutmen kader, tetapi pusat pembentukan kesadaran, pengetahuan, dan kepemimpinan. Tanpa penguasaan kampus yang kuat, kaderisasi akan kehilangan basis intelektualnya.

Dalam konteks pengembangan kader, Paulo Freire menekankan bahwa pendidikan sejati adalah proses pemanusiaan dan pembebasan. Pendidikan—termasuk kaderisasi—tidak boleh menempatkan peserta sebagai objek, melainkan subjek yang memiliki potensi dan kesadaran. Pandangan ini relevan bagi KMHDI untuk melihat kader bukan sekadar pengisi struktur organisasi, tetapi individu dengan minat, bakat, dan cita-cita yang beragam.

Karena itu, pemetaan dan pendataan potensi kader menjadi kebutuhan mendesak. Kaderisasi yang berbasis data memungkinkan KMHDI merancang proses pengembangan SDM sesuai disiplin ilmu, minat, dan rencana profesi kader. Pendekatan ini tidak hanya membuat kaderisasi lebih efektif, tetapi juga lebih bermakna bagi kader itu sendiri.

Dari sinilah gagasan kaderisasi pilihan menemukan relevansinya. Kaderisasi pilihan merupakan model kaderisasi berbasis kompetensi yang disesuaikan dengan potensi kader dan kebutuhan dunia profesional. Di tingkat daerah, kaderisasi ini dapat diwujudkan melalui pelatihan ekonomi kreatif dan UMKM, pengembangan talenta digital dan konten kreator, pendidikan politik, hingga pelatihan kesiapan kerja.

Kaderisasi pilihan bukanlah pengingkaran terhadap nilai dasar KMHDI. Justru melalui pendekatan ini, nilai religius, humanis, nasionalis, dan progresif dapat diwujudkan secara konkret. Nilai religius tercermin dalam etika dan integritas kader. Nilai humanis hadir dalam kepekaan sosial dan kemampuan bekerja lintas sektor. Nilai nasionalis diwujudkan melalui kontribusi nyata bagi bangsa. Sementara nilai progresif tampak dalam kemampuan kader beradaptasi dan berinovasi.

Pada akhirnya, kaderisasi KMHDI harus mampu menjembatani idealisme organisasi dengan realitas mahasiswa hari ini. Dengan menjadikan kaderisasi pilihan sebagai ruang pengembangan berbasis data dan potensi, KMHDI tidak hanya mempertahankan eksistensinya, tetapi juga memastikan bahwa organisasi ini benar-benar relevan dan dibutuhkan.

Jika KMHDI mampu menjawab krisis “yang lama dan yang baru” sebagaimana digambarkan Gramsci, serta memanusiakan kader sebagaimana ditekankan Freire, maka kaderisasi tidak lagi menjadi beban organisasi, melainkan jalan strategis untuk menyiapkan generasi mahasiswa Hindu yang berkarakter, kompeten, dan siap menghadapi masa depan bangsa.

Penulis : I Wayan Darmawan (Ketua Umum PP KMHDI)

Share:

administrator