![]()
Mahasabha Katanya Forum Tertinggi
Bandung, kmhdi.org – Mahasabha selalu disebut sebagai forum tertinggi organisasi. Tempat kader berkumpul, membawa gagasan, mempertaruhkan visi, dan menguji siapa yang paling layak memimpin. Di ruang ini seharusnya pikiran diuji, keberanian diadu, dan arah organisasi ditentukan bersama.
Masalahnya muncul ketika sebelum forum dimulai, susunan pengurus sudah disepakati rapi. Jika demikian, Mahasabha tidak lagi menjadi ruang pencarian, melainkan ruang pengumuman. Forum tertinggi berubah menjadi panggung legitimasi.
Politik Paketan dan Ketakutan yang Disamarkan
Politik paketan sering dibungkus dengan alasan kedewasaan berorganisasi. Demi stabilitas. Demi menghindari konflik. Demi persatuan. Alasan ini terdengar matang, tapi sebenarnya menyimpan satu ketakutan yang sama, yaitu takut diuji secara terbuka.
Bukan konflik yang dihindari, melainkan risiko kalah secara gagasan. Risiko bahwa visi yang dibawa tidak cukup kuat meyakinkan forum. Maka jalan yang dipilih adalah mengamankan formasi sejak awal, memastikan hasil tetap sesuai rencana.
Ini bukan kecerdikan politik. Ini kemalasan berpikir yang disamarkan dengan jargon persatuan.
Mahasabha yang Tinggal Seremonial
Ketika hasil sudah dikunci, Mahasabha hanya menyisakan ritual. Tata tertib dibacakan. Pidato disampaikan. Palu diketok. Foto bersama diambil. Semua tampak demokratis, meski substansinya telah lama mati.
Forum yang seharusnya hidup oleh perdebatan justru sunyi dari dialektika. Yang hadir bukan adu gagasan, melainkan kepatuhan. Yang dicari bukan kebenaran, tetapi kesesuaian barisan.
Pelajaran Diam-Diam untuk Kader
Budaya paketan ini diam-diam mengajarkan kurikulum tersembunyi kepada kader. Bahwa yang penting bukan membaca persoalan umat, melainkan membaca peta kekuasaan. Bukan menyusun argumen, tetapi menyusun posisi. Bukan keberanian berbeda, tetapi kecakapan menyesuaikan diri.
Pelan-pelan organisasi kader kehilangan fungsi pendidikannya. Ia sibuk melahirkan pengelola struktur, tetapi gagap menyiapkan pemimpin yang tahan diuji realitas.
Politik Itu Wajar, Tapi Jangan Membunuh Proses
Tidak ada yang naif dalam memahami politik sebagai bagian dari organisasi. Koalisi dan kompromi adalah hal yang wajar. Namun politik seharusnya hadir di dalam forum, bukan mengunci forum sejak awal.
Jika kesepakatan lahir dari dinamika Mahasabha yang terbuka, itu proses. Tapi jika kesepakatan dibawa dari luar dan forum hanya bertugas mengesahkan, maka Mahasabha kehilangan maknanya sebagai musyawarah.
Maka Izinkan Saya Tidur
Jika Mahasabha hanya menjadi panggung pengesahan keputusan yang sudah selesai dibicarakan di luar forum, izinkan saya jujur. Saya menghormati ritual organisasi. Saya menghargai jargon persatuan.
Namun untuk urusan berharap pada adu gagasan, pada keberanian intelektual, dan pada proses yang jujur, maaf.
Kalau Mahasabha mainnya paketan, udah ah, saya mau tidur aja.
Penulis: Ida Bagus Oka Santika Putra (Sekretaris PC KMHDI Bandung)
