![]()
Mataram, kmhdi.org – Polri hari ini bukan lagi wajah hukum, bukan pula pengayom rakyat. Mereka menjelma jadi mesin kekerasan, penguasa jalanan, preman berlisensi. Lebih memalukan lagi, ada satuan yang disebut sebagai Polisi Anjing (K9) yang katanya melatih hewan agar jinak, patuh, dan bermanfaat. Tapi faktanya, polisi itu sendiri gagal total melatih diri agar beradab.
Anjing bisa dilatih untuk duduk, diam, bahkan melindungi majikan. Tapi aparat? Mereka malah memukuli rakyat yang membiayai seragam mereka. Mereka bisa bikin hewan tunduk, tapi mereka sendiri tunduknya cuma pada kekuasaan, bukan pada keadilan. Di depan penguasa mereka mengekor, di depan rakyat mereka menggigit.
Hari ini kita tidak melihat aparat negara, kita melihat aparat lebih buas dari binatang yang mereka latih. Demonstran dipukul, dibanting, diseret, seakan rakyat adalah musuh negara.
Padahal yang sedang mereka hadapi bukan separatis, bukan teroris, tapi rakyat biasa yang bersuara. Justru Polri lah yang bertindak separatis—memisahkan rakyat dari haknya, memisahkan demokrasi dari kebebasan.
Kalau anjing bisa setia, aparat malah jadi pengkhianat. Kalau hewan bisa taat aturan, aparat malah langgar aturan. Kalau binatang bisa berfungsi menjaga manusia, aparat justru merusak martabat manusia. Bedanya jelas: anjing lebih bermoral daripada aparat.
Saya katakan dengan tegas, rakyat tidak takut pada seragam, rakyat muak pada perilaku barbar. Jangan kira pentungan, gas air mata, dan borgol bisa membungkam suara kebenaran. Aparat boleh menyebut diri pelindung, tapi di mata rakyat kalian hanyalah alat kekuasaan yang kehilangan adab.
Sejarah tidak akan ingat kalian sebagai pahlawan. Sejarah akan menulis, Polri pernah jadi institusi yang lebih bangga melatih anjing ketimbang belajar jadi manusia.
Penulis: I Putu Eka Widiantara (Ketua PC KMHDI Mataram)
