SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Loading

Jakarta, kmhdi.org – Di tengah dinamika pemilihan Ketua Umum Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI), publik internal organisasi perlu kembali pada satu pertanyaan mendasar: pemimpin seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan? Bukan hanya yang kuat secara struktur dan retorika, tetapi juga yang matang secara etika dan sikap.

Nilai Tumpek Krulut—yang dimaknai sebagai hari tresna asih—relevan dijadikan patokan etis dalam memilih pemimpin KMHDI. Tresna asih dalam konteks ini tidak boleh dimaknai secara dangkal sebagai sikap lembut atau simbol spiritual semata, melainkan sebagai cara memimpin yang beradab, dewasa, dan bertanggung jawab.

Pemimpin yang berangkat dari nilai tresna asih adalah sosok yang mampu tegas tanpa merendahkan, berbeda tanpa memusuhi, dan mengoreksi tanpa melukai. Sebaliknya, calon pemimpin yang membangun kekuatan dengan menjatuhkan kader lain, memelihara konflik demi elektabilitas, atau memperalat organisasi demi ambisi pribadi, sejatinya telah mengingkari nilai dasar tersebut.

KMHDI tidak kekurangan kader cerdas dan berpengalaman. Namun, yang sering luput diperhatikan adalah rekam jejak etika: bagaimana seorang calon memperlakukan kader sebelum mencalonkan diri, bagaimana ia bersikap saat tidak berada di pusat kekuasaan, dan bagaimana ia menyelesaikan perbedaan tanpa menciptakan luka organisasi.

Tumpek Krulut juga mengajarkan harmoni—sebuah “seni” dalam memimpin. Pemimpin KMHDI ke depan dituntut mampu membaca situasi, memberi ruang bagi kolektif, dan tidak menjadikan ego personal sebagai poros organisasi. Kepemimpinan yang berisik tetapi memecah, keras tetapi menekan, bukanlah bentuk kemajuan, melainkan kemunduran yang dibungkus ambisi.

Oleh karena itu, pemilihan Ketua Umum KMHDI semestinya tidak hanya menguji visi, program, dan jaringan, tetapi juga integritas sikap dan konsistensi etika. Tumpek Krulut mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar soal menang dalam forum, melainkan tentang menjaga manusia di dalam organisasi agar tetap utuh dan bertumbuh.

KMHDI membutuhkan pemimpin yang tidak hanya ingin memimpin umat, tetapi juga layak dipercaya oleh kadernya sendiri.

Penulis: I Kadek Ria Febri Yana (Anggota Departemen Penelitian dan Pengembangan PP KMHDI)

Share:

administrator