SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Loading

Lampung, kmhdi.org – Setiap organisasi besar hampir selalu punya satu label defensif untuk menutup kritik: “itu cuma daerah ribut.” Label ini pula yang kerap dilekatkan pada KMHDI Lampung—terlalu kritis, banyak bertanya, tidak selalu sejalan dengan kenyamanan pusat.

Padahal, yang sering disebut “ribut” itu justru alarm paling jujur tentang persoalan mendasar: apakah KMHDI masih relevan bagi umat Hindu hari ini, khususnya di daerah minoritas seperti Lampung?

Lampung dan Wajah Nyata Umat Hindu Indonesia

Lampung bukan Bali.

Bukan pusat pariwisata.

Bukan daerah simbolik Hindu.

Lampung adalah potret mayoritas umat Hindu Indonesia: hidup sebagai minoritas, bekerja di sektor pertanian, buruh, pendidikan dasar, dan UMKM kecil. Umatnya relatif aman secara sosial, tetapi lemah secara posisi tawar—dalam pendidikan, ekonomi, dan regenerasi kepemimpinan lokal.

Di sinilah masalahnya.

Ketika KMHDI hadir lebih kuat di ruang forum daripada di ruang hidup umat, wajar jika umat bertanya: “Apa gunanya KMHDI untuk saat ini?”

Pertanyaan ini bukan serangan.

Ini pertanyaan relevansi.

“Ribut” atau Jujur pada Realitas?

Kritik yang datang dari Lampung sering dibaca sebagai gangguan soliditas. Padahal, kritik itu lahir dari jarak yang nyata antara agenda organisasi dan kebutuhan umat.

KMHDI kuat dalam kaderisasi struktural dan wacana ideologis. Namun terlalu sering berhenti di sana. Kader dilatih, forum digelar, keputusan dibuat—tetapi fungsi nyata di bidang pendidikan umat, ekonomi dasar, dan regenerasi kepemimpinan lokal belum terasa konsisten.

Ketika Lampung bersuara, itu bukan karena ingin berbeda, melainkan karena realitas umat di daerah tidak memberi ruang untuk berlama-lama dalam simbol dan seremoni.

Mahasabha di Lampung: Momentum atau Sekadar Panggung?

Penyelenggaraan Mahasabha KMHDI di Lampung seharusnya menjadi titik refleksi nasional. Bukan sekadar sukses acara, tetapi ujian keberanian organisasi untuk melihat wajah umat di luar pusat kenyamanan.

Jika Mahasabha di Lampung hanya meninggalkan dokumentasi dan euforia sesaat, maka umat akan menyimpulkan bahwa forum tertinggi organisasi pun tidak menjawab kebutuhan mereka.

Sebaliknya, jika Mahasabha mampu melahirkan agenda nyata—penguatan pendidikan umat minoritas, pengorganisasian ekonomi dasar, dan regenerasi pemimpin lokal—maka stigma “Lampung ribut” runtuh dengan sendirinya.

Karena yang bekerja tidak perlu ribut.

Dampaknya akan berbicara sendiri.

Masalahnya Bukan Lampung, Tapi Orientasi

Organisasi yang sehat tidak alergi pada kritik daerah.

Justru dari daerah seperti Lampunglah KMHDI diuji: apakah ia hanya hidup di ruang internal, atau benar-benar hadir sebagai alat penguatan umat.

Jika organisasi hanya nyaman di wilayah simbolik, tetapi gagap di wilayah minoritas, maka masalahnya bukan pada daerah yang bersuara—melainkan pada orientasi organisasi yang belum sepenuhnya berpihak pada kebutuhan umat hari ini.

Penutup Yang Diharap Menjadi Awal

KMHDI Lampung bukan sekadar daerah yang “ribut”.

Lampung adalah daerah yang menolak organisasi berjalan tanpa fungsi nyata.

Kritik dari Lampung seharusnya dibaca sebagai kesempatan, bukan ancaman. Karena relevansi organisasi tidak diukur dari seberapa sunyi kritiknya, melainkan dari seberapa nyata dampaknya bagi umat yang diwakilinya.

Jika Mahasabha di Lampung mampu menjawab itu, maka KMHDI bukan hanya menyukseskan acara, tetapi sedang menyelamatkan masa depannya sendiri.

Penulis : I Kadek Ria Febri Yana (Kader KMHDI Lampung)

Share:

administrator