SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Situasi ekonomi global saat menjadi lebih dan lebih menantang. Entahlah ini berlebihan untuk mengatakan bahwa dunia dalam kondisi berbahaya” – Sri Mulyani, Menteri Keuangan Indonesia

Ekonomi dunia diproyeksi gelap gulita pada tahun 2023 mendatang. Hal tersebut dipicu oleh adanya the perfect storm alias krisis multidimensi. Permasalah tersebut terdiri atas inflasi tinggi, kontraksi ekonomi menuju resesi, hingga situasi geopolitik yang masih dalam ketidakpastian. 

Gambaran Umum 

​Resesi Secara umum, resesi merupakan penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung selama lebih dari 3 bulan. Suatu keadaan disebut sebagai resesi jika memenuhi beberapa syarat, termasuk diantaranya adalah penurunan ekonomi secara signifikan selama 2 kuartal atau lebih. Resesi merupakan penurunan dalam kegiatan ekonomi yang semakin merosot, ketika penurunan belanja menyebabkan pengurangan dalam produksi dan dengan demikian pekerjaan, memicu hilangnya pendapatan yang menyebar di seluruh negeri dan dari satu industri ke industri lainnya, mengganggu penjualan dan pada akhirnya kembali ke dalam penurunan produksi lagi, begitu seterusnya.  Resesi ekonomi juga diartikan sebagai penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan dalam waktu stagnan dan lama, mulai dari berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Resesi ekonomi bisa memicu penurunan keuntungan perusahaan, meningkatnya pengangguran, hingga kebangkrutan ekonomi.

​Sedangkan dalam pengertian skala global, merupakan keadaan ekonomi yang berdampak secara global dimana ekonomi tersebut mengalami deselerasi dan penurunan. Menurut International Monetary Fund, bahwa resesi global merupakan keadaan inflasi Produk Domestik Bruto (PDB) dunia berdasarkan indikator ekonomi makro dunia, termasuk populasi pengangguran, arus modal, produksi dalam industri, konsumsi minyak dunia, dan perdagangan saham. Ketika resesi global berlangsung, keadaan negara-negara maju nantinya menghadapi kontraksi yang dalam, dan dampak perekonomian bagi negara-negara berkembang kelak melamban seketika. 

​Dibandingkan resesi nasional, akan lebih sulit dalam mendefinisikan resesi global dikarenakan perbedaan PDBpada setiap negara dimana negara-negara berkembang memiliki PDB yang lebih tinggi dibandingkan negara maju. Ketika resesi yang pernah terjadi pada 2008, IMF memperkirakan pertumbuhan PDB riil pada negara berkembang berada pada tren naik dan negara dengan ekonomi maju mengalami tren turun sejak akhir 1980-an. Pertumbuhan dunia diproyeksikan melambat dari 5% pada 2007 menjadi 3,75% pada 2008 dan menjadi lebih dari 2% pada 2009

​Tahun 2020 merupakan peristiwa terbaru dimana dunia kembali mengalami resesi yang disebabkan pandemi Covid-19. Semenjak pandemi melanda, ekonomi globaldiproyeksikan berkontraksi tajam hingga -3 persen pada tahun 2020, jauh lebih buruk daripada selama krisis keuangan 2008. Kondisi keuangan di negara maju dan negara berkembangsecara signifikan menjadi lebih ketat daripada yang diperkirakan sebelumnya . Salah satu efek dari resesi ini yaitu menurunnya harga komoditas dunia. Perkembangan ekonomi global pada tahun 2022 sudah cukup baik walaupun kehidupan dan ekonomi masih dibayang bayangi dengan ketidakpastian.

​Tantangan tersebut terutama akibat ketidakpastian yangmasih tinggi terkait pandemi Covid-19, percepatan pengetatan kebijakan moneter global dan eskalasi tensi geopolitik yang terjadi di Ukraina dan Rusia. Untuk itu, peran kebijakan fiskal menjadi demikian krusial sebagai shock absorber untuk memitigiasi dampak yang mungkin timbul, mendukung pengendalian pandemi, menjaga keberlanjutan pemulihan ekonomi, serta memfasilitasi akselerasi reformasi struktural.

Tahun 2023 Ekonomi Global Diprediksi Mengalami Resesi

​Resesi ekonomi menjadi hantu menyeramkan bagi seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia. Ekonomi dunia saat ini memang sedang baik-baik saja, terutama selepas pandemi Covid-19 mereda.Melihat laporan perkembangan ekonomi global yang mengkhawatirkan, semakin sadar bahwa jurang krisis dan resesi ada di depan mata.Komoditas energi yang melesat membuat inflasi melambung tinggi. Panasnya inflasi bikin bank sentral dunia memutuskan mengetatkan kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga. Pada akhirnya, ini dianggap sebagai pemantik resesi.

​Resesi global ditandai dengan melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia, melandainya permintaan dari negara maju, melemahnya harga komoditas, dan terjadinya arus pembalikan modal (capital reserval).Perlambatan pertumbuhan ekonomi global serta permintaan dari negara maju sudah terasa sejak kuartal II-2022. Secara teknikal, Amerika Serikat (AS) bahkan sudah memasuki resesi pada April-Juni tahun ini.China sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua setelah AS pun tak berkutik. Ekonomi Negara Tirai Bambu tumbuh 0,4% pada kuartal II-2022 (year on year/yoy), jauh lebih rendah dibandingkan 4,8% pada kuartal I-2022. Uni Eropa ekonominya tumbuh 4,1% pada kuartal II-2022, terendah dibandingkan tiga kuartal sebelumnya. Sementara itu, ekonomi Inggris tumbuh 4,4% pada April-Juni tahun ini, terendah sejak kuartal I-2021.

​Pada dasarnya, resesi dapat terjadi apabila indikator makroekonomi berkurang selama periode waktu yang signifikan. IMF menjadi lembaga penting yang menentukan resesi global terjadi di dunia. Resesi ekonomi yang baru-baru ini terjadi adalah pada 2020, ketika pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia. IMF mendeklarasikan secara global adanya resesi ekonomi yang disebut the Great Lockdown. Resesi ekonomi pada 2020 menjadi resesi terburuk sejak The Great Depression (1929-1939). Hal ini karena pandemi menghambat aktivitas dan mobilitas manusia yang berimbas bagi roda ekonomi macet.

​Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva mengatakan ekonomi global pada 2023 akan gelap gulita lantaran menghadapi risiko resesi dan ketidakstabilan pasar keuangan. Georgieva mengatakan prospek ekonomi global “gelap gulita” mengingat guncangan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19, perang Rusia vs Ukraina, hingga bencana iklim di semua benua. kepatuhan pada aturan global, suku bunga rendah dan inflasi rendah, memberi jalan kepada tatanan baru. Kondisi terkini, lanjutnya, bisa membuat negara mana pun dapat terlempar keluar jalur dengan lebih mudah dan lebih sering. Dia mengatakan semua ekonomi terbesar di dunia, termasuk China, Amerika Serikat dan Eropa, saat ini mengalami perlambatan. Hal tersebut membuat berkurangnya permintaan ekspor dari negara-negara berkembang, yang sudah terpukul keras oleh harga pangan dan energi yang tinggi.  ​

Resesi Global Dampaknya Ke Indonesia

​Dalam seminggu terakhir ini, Pemerintah melaluiPresiden Joko Widodo mengungkapkan bahwa perekonomian dunia pada 2023 mendatang akan mengalami kegelapan atau resesi ekonomi global. Presiden Jokowi meminta masyarakat berhati-hati mulai saat ini. Presiden menyatakan tahun 2023 diprediksi akan menjadi tahun gelap akibat krisis ekonomi, pangan, hingga energi akibat pandemi Covid-19 dan perang antara Rusia-Ukraina. Hal ini juga di ungkapkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers usai pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral Negara anggota G20 di Washington DC, Amerika Serikat (AS), menurutnya situasi ekonomi global saat menjadi lebih dan lebih menantang. Entahlah ini berlebihan untuk mengatakan bahwa dunia dalam kondisi berbahaya. Hal tersebut bukanya tidak beralasan karena sejumlah dampak besar sudah melanda dunia akibat resesi ekonomi Global. 

​Bank Mandiri dalam laporannya Sectoral Searching for Opportunities to Grow menggambarkan bagaimana resesi terjadi serta dampaknya ke Indonesia. Dalam hitungan Bank Mandiri, dampak resesi kemungkinan akan panjang yakni hingga 2024.Sebagai bagian dari ekonomi global, Indonesia tentu saja akan terdampak resesi. Perlambatan akan merembet melalui jalur ekspor, pelemahan harga komoditas, pelemahan nilai tukar.Kondisi ini akan membuat kondisi perekonomian domestik menjadi tidak pasti, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) akan melemah, serta anjloknya kepercayaan konsumen.Ekspor Indonesia masih didominasi komoditas dengan kontribusi sebesar 50%. Indonesia memang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas setelah perang Rusia-Ukraina meletus.Namun, harga komoditas mulai menurun memasuki semester kedua tahun ini. Harga minyak sawit mentah, batu bara, nikel, hingga emas terus melandai.

​Resesi ekonomi jelas bukan sesuatu yang diharapkan dalam perekonomian. Resesi ekonomi tidak hanya berdampak kepada pemerintah, tetapi juga perusahaan hingga kehidupan individu. Resesi ekonomi membuat pendapatan negara dari pajak dan non pajak menjadi lebih rendah. Ini karena penghasilan masyarakat menurun hingga harga properti yang anjlok dan akhirnya memicu rendahnya jumlah PPN ke kas negara. Ketika pendapatan negara sedang merosot, pemerintah tetap dituntut membuka lapangan kerja sebanyak mungkin karena jumlah pengangguran yang meningkat. Akibatnya, pinjaman ke bank asing bakal meroket.Selain itu, pembangunan tetap dituntut untuk terus berjalan di berbagai sektor pemerintahan, termasuk menjamin kesejahteraan rakyat. Pada akhirnya, penurunan pendapatan pajak dan meningkatnya pembayaran kesejahteraan mengakibatkan defisit anggaran serta tingginya utang pemerintah.

​Pelaku ekonomi dan bisnis berpotensi bangkrut saat terjadi resesi ekonomi. Ketika terjadi resesi ekonomi, daya beli masyarakat menurun dan pendapatan perusahaan bakal semakin kecil. Kondisi ini yang bakal mengancam kelancaran arus kas.Perang harga lantas menjadi opsi perusahaan agar terhindar dari kebangkrutan. Namun, langkah ini membuat keuntungan bakal menurun dan harus ditambal dengan melakukan efisiensi. Biasanya, perusahaan bakal menutup area bisnis yang kurang menguntungkan hingga memotong biaya operasional.

​Selain itu,efisiensi yang dilakukan perusahaan ketika terjadi resesi juga berdampak ke pekerja. Menutup area bisnis yang kurang menguntungkan dan memotong biaya operasional berarti melakukan PHK kepada banyak pekerja.Jika banyak terjadi PHK, berarti pengangguran semakin meningkat. Padahal, mereka dituntut untuk terus memenuhi kebutuhan hidup di tengah resesi ekonomi. Di lain sisi, bagi pekerja yang tidak terkena PHK juga terancam terkena pemotongan upah dan hak kerja lainnya saat resesi ekonomi terjadi.

Penutup

​Ketika resesi global berlangsung, keadaan negara-negara maju menghadapi kontraksi yang dalam. Sementara resesi ekonomi memberikan dampak perekonomian bagi negara-negara berkembang kelak melamban seketika. Perdagangan saham pun mengalami penurunan dengan cepat. Dampak resesi ekonomi sangat signifikan bagi masyarakat yang berujung lemahnya daya beli dan perlambatan ekonomi. Perlambatan ekonomi akan membuat sektor riil menahan kapasitas produksinya sehingga Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akan sering terjadi bahkan beberapa perusahaan mungkin menutup dan tidak lagi beroperasi.Kinerja instrumen investasi akan mengalami penurunan sehingga investor cenderung menempatkan dananya pada bentuk investasi yang aman. Ekonomi yang semakin sulit pasti berdampak pada pelemahan daya beli masyarakat karena mereka akan lebih selektif menggunakan uangnya dengan fokus pemenuhan kebutuhan terlebih dahulu.

​Perlambatan ekonomi, menurunya instrumen investasi danl Lonjakan inflasi akibat melambungnya harga energi dan pangan membuat ekonomi di negara-negara maju kendur karena permintaan masyarakat melemah. Ancaman resesi semakin mendekati Indonesia. Semua pihak pun diminta waspada karena dampak resesi tidak hanya berimbas kepada ekspor tetapi sendi-sendi kehidupan masyarakat biasa.Tidak hanya di luar negeri saja, dampak resesi juga akan dirasakan warga Indonesia. Oleh karenanya, ditengah ancaman krisis dan resesi diakibatkan oleh pandemi Covid-19 dan perang politik global  menyikapi alasan kenapa Indonesia harus mandiri dalam ekonomi. Terima kasih

I Putu Andre Juliana

Dept. Kajian dan Isu PP KMHDI

Share:

administrator