SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Loading

Jakarta, kmhdi.org – Dalam sejarah Indonesia, nama Sarinah seringkali terdengar sederhana, bahkan terasa seperti nama yang sangat biasa. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan makna historis dan filosofis yang mendalam. Sarinah bukanlah seorang tokoh politik, bukan pula seorang pemimpin organisasi perempuan. Ia adalah seorang pengasuh yang bekerja di rumah keluarga Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Meski demikian, sosok Sarinah justru memiliki pengaruh besar dalam membentuk kesadaran sosial dan pandangan kemanusiaan Soekarno terhadap rakyat kecil dan perempuan.

Sarinah dikenal sebagai pengasuh Soekarno ketika ia masih kecil di Surabaya. Dalam berbagai kisah yang kemudian diceritakan oleh Soekarno, Sarinah bukan hanya sekedar pengasuh yang merawat kebutuhan sehari-hari, tetapi juga sosok yang memperkenalkan nilai-nilai empati terhadap rakyat kecil. Ia sering mengajak Soekarno kecil untuk melihat kehidupan masyarakat di sekitarnya, memperlihatkan bagaimana rakyat hidup dalam kesederhanaan dan perjuangan. Dari pengalaman itulah tumbuh kesadaran dalam diri Soekarno bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya tentang mengusir penjajah, tetapi juga tentang membebaskan rakyat dari ketidakadilan sosial.

Pengaruh Sarinah terhadap pemikiran Soekarno begitu kuat hingga ia mengabadikan namanya dalam sebuah buku yang berjudul Sarinah yang diterbitkan pada tahun 1963. Dalam buku Sarinah, Soekarno menjelaskan pandangannya tentang perempuan, revolusi, dan peran perempuan dalam pembangunan bangsa. Ia menegaskan bahwa revolusi Indonesia tidak akan berhasil tanpa partisipasi aktif perempuan. Bagi Soekarno, perempuan bukan sekedar pendamping laki-laki, melainkan kekuatan sosial yang memiliki peran penting dalam perubahan masyarakat.

Dalam buku Sarinah, Soekarno juga mengkritik sistem sosial yang menempatkan perempuan hanya dalam ruang domestik. Ia menilai bahwa pembatasan tersebut bukan hanya merugikan perempuan, tetapi juga merugikan bangsa secara keseluruhan. Sebab ketika perempuan tidak diberi kesempatan untuk berkembang, maka setengah dari potensi bangsa ikut terhambat. Oleh karena itu, Soekarno menekankan pentingnya pendidikan, kesadaran politik, dan partisipasi perempuan dalam kehidupan sosial dan negara.

Sarinah kemudian menjadi simbol yang melampaui sosok individu. Ia mewakili perempuan – perempuan sederhana yang selama ini berada di pinggiran sejarah. Dalam narasi besar perjuangan bangsa, seringkali yang tercatat adalah nama – nama pemimpin dan tokoh besar. Namun melalui simbol Sarinah, Soekarno mengingatkan bahwa bangsa ini juga dibangun oleh tangan-tangan perempuan biasa : para ibu, pengasuh, petani, buruh, dan perempuan rakyat yang bekerja dalam diam namun memiliki kontribusi besar bagi kehidupan sosial.

Makna Sarinah juga dapat dilihat sebagai refleksi hubungan antara perempuan dan rakyat. Sarinah adalah gambaran perempuan dari kalangan rakyat kecil yang memiliki kebijaksanaan hidup dan kepedulian sosial. Ia mungkin tidak memiliki pendidikan formal yang tinggi, tetapi memiliki kesadaran kemanusiaan yang kuat. Nilai inilah yang kemudian membentuk cara pandang Soekarno terhadap rakyat sebagai pusat dari perjuangan nasional.

Dalam konteks sejarah perjuangan perempuan Indonesia, simbol Sarinah menunjukkan bahwa gerakan perempuan tidak selalu lahir dari ruang akademik atau elit politik. Kadang-kadang, kesadaran itu tumbuh dari pengalaman hidup sehari-hari, dari interaksi antara manusia dengan realitas sosialnya. Sarinah adalah representasi bahwa perempuan dari kalangan rakyat juga memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran bangsa.

Hingga hari ini, nama Sarinah tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia. Ia tidak hanya dikenang sebagai pengasuh Soekarno, tetapi juga sebagai simbol perempuan rakyat yang menginspirasi lahirnya pemikiran tentang kesetaraan dan keadilan sosial. Kisah Sarinah mengajarkan bahwa sejarah tidak hanya dibangun oleh tokoh-tokoh besar, tetapi juga oleh orang-orang sederhana yang nilai dan keteladanannya mampu memengaruhi arah perjalanan bangsa.

Pada akhirnya, Sarinah adalah pengingat bahwa di balik setiap pemimpin besar sering terdapat sosok-sosok sunyi yang membentuk cara pandang mereka terhadap dunia. Dalam kesederhanaannya, Sarinah telah meninggalkan jejak yang jauh lebih besar daripada yang mungkin pernah ia bayangkan : menjadi simbol perempuan, rakyat, dan kemanusiaan dalam sejarah Indonesia.

Selamat memperingati Hari Perempuan Internasional !

Teruntuk sahabatku Fanda Puspitasari, terima kasih sudah menghadiahkan buku “Sarinah” sebagai kado ulang tahun. Sehingga, tulisan ini bisa lahir hari ini.

Ira Apryanthi – Litbang PP KMHDI

Share:

administrator