SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Loading

Jakarta, kmhdi.org – Bagiku, dunia adalah tempat kita mencari alasan untuk bertahan, sedangkan rumah adalah tempat kita punya alasan untuk berpulang: karena kita dirindukan. Dalam pengertian itulah aku memahami KMHDI. Ia bukan sekadar organisasi, tapi semacam rumah ideologis: tempat aku belajar pulang sebagai umat, meski sering kali pulang dengan luka dan kecewa.

Ada cinta yang tidak pernah benar-benar bisa ditinggalkan. Ia bukan cinta yang manis, tapi cinta yang mengikat seperti utang sejarah. KMHDI bagiku adalah cinta semacam itu: organisasi yang membesarkan kesadaranku sebagai umat, tapi juga organisasi yang paling sering membuatku kecewa sebagai manusia yang berharap.

Aku mengenal KMHDI seperti seseorang mengenal rumah. Di sanalah aku belajar menyebut kata “dharma” bukan sekadar istilah kitab, tapi sebagai sikap hidup. Aku belajar bahwa menjadi Hindu di Indonesia bukan hanya soal sembahyang, tapi juga soal bertahan sebagai minoritas, berorganisasi sebagai umat kecil, dan bermimpi tentang masa depan yang lebih adil. Namun rumah yang sama juga mengajariku tentang rapat tanpa arah, forum tanpa keberanian, dan jargon tanpa jejak di lapangan.

Aku mencintai KMHDI karena ia lahir dari kegelisahan umat. Tapi aku juga membencinya karena terlalu sering lupa pada kegelisahan itu sendiri.

KMHDI gemar berbicara tentang keumatan, tetapi sering terjebak dalam urusan internal yang tak pernah selesai. Kita sibuk menata struktur, tapi gagap menata makna. Kita fasih menyusun proposal, tapi kaku membaca realitas umat. Kita rajin membuat slogan, tapi jarang bertanya: siapa yang benar-benar merasakan dampak dari semua ini?

Ada paradoks yang tak pernah benar-benar kita akui: kita menyebut diri organisasi kader, tapi sering takut pada kader yang berpikir. Kita mengaku progresif, tapi alergi pada kritik. Kita mengulang kata “regenerasi”, tapi mencurigai mereka yang membawa gagasan baru. Seolah organisasi hanya boleh diwarisi, tidak boleh digugat.

Aku membenci KMHDI setiap kali melihat forum lebih sibuk menjaga kenyamanan elite daripada membuka ruang kegelisahan kader. Setiap kali konflik dibungkus dengan bahasa “demi persatuan”, padahal yang sedang dijaga bukan persatuan, melainkan status quo. Setiap kali idealisme hanya dipakai sebagai ornamen pidato, bukan sebagai dasar keberanian mengambil risiko.

Ironisnya, semua itu justru terjadi di organisasi yang mengklaim diri sebagai kawah candradimuka pemimpin umat.

Padahal umat tidak hidup di dalam AD/ART. Umat hidup di kontrakan sempit di kota-kota industri, di pasraman seadanya di pinggir kampung, di pura yang dibangun dari hasil patungan buruh pabrik. Umat hidup dalam sunyi, jauh dari seminar, jauh dari konferensi, jauh dari jargon besar tentang peran strategis pemuda Hindu. Ketika kita sibuk memperdebatkan struktur organisasi, mereka sibuk mencari waktu sembahyang di sela shift kerja.

Di titik itu, aku sering bertanya: untuk siapa sesungguhnya KMHDI ini ada?

Namun anehnya, aku tidak pergi. Aku tetap tinggal. Bukan karena aku puas, tapi karena aku tahu: meninggalkan terlalu mudah, memperbaiki jauh lebih sulit. Aku tetap bertahan bukan karena KMHDI sudah benar, tetapi karena ia terlalu penting untuk dibiarkan salah sendirian.

Cintaku pada KMHDI bukan cinta romantis. Ia cinta politis. Cinta yang menuntut perubahan, bukan kesetiaan buta. Cinta yang berani berkata tidak ketika organisasi mulai lupa pada umat. Cinta yang menolak diam ketika kader dibentuk hanya sebagai pengikut, bukan pemikir. Cinta yang lebih memilih dicap pembangkang daripada menjadi penjaga kebiasaan buruk.

Aku percaya, organisasi keumatan tidak boleh hanya menjadi panggung karier, apalagi sekadar tempat mengulang hierarki sosial umat. Ia seharusnya menjadi ruang dialektika: tempat gagasan bertarung, bukan sekadar jabatan bergilir. Tempat luka umat dibaca, bukan ditutup dengan laporan pertanggungjawaban.

Jika KMHDI hanya sibuk mengurus dirinya sendiri, maka ia tak ubahnya birokrasi kecil yang lupa mengapa ia lahir. Jika ia takut pada kritik internal, maka ia sedang menyiapkan kehancurannya sendiri secara perlahan. Tidak ada organisasi yang mati karena diserang dari luar; yang mati adalah yang berhenti bercermin ke dalam.

Aku membenci KMHDI ketika ia lebih peduli pada citra daripada makna. Tapi justru karena itu, aku mencintainya: karena masih ada kemungkinan ia berubah. Karena masih ada kader yang gelisah. Karena masih ada umat yang berharap.

Barangkali relasiku dengan KMHDI memang seperti relasi dengan cinta yang dewasa: tidak penuh bunga, tapi penuh perdebatan. Tidak selalu nyaman, tapi tetap diperjuangkan. Sebab mencintai organisasi bukan berarti memujanya, melainkan berani menuntutnya menjadi lebih bermoral, lebih berpihak, dan lebih jujur pada sejarahnya sendiri.

Aku tidak menulis ini untuk meruntuhkan KMHDI. Aku menulis ini agar ia ingat bahwa ia pernah didirikan bukan untuk menjadi besar di atas kertas, tetapi untuk menjadi berarti di tengah umat. Aku membencinya bukan karena ia gagal, tetapi karena ia terlalu sering lupa mengapa ia dulu ada.

Dan justru karena itu, aku masih mencintainya.

Penulis : Lingga Dharmananda Siana (Pengurus PP KMHDI)

Share:

administrator