![]()
Jakarta, kmhdi.org – Dalam dinamika organisasi kader berbasis nilai, keresahan kadang muncul bukan dari luar, melainkan dari dalam tubuh organisasi itu sendiri. Di antara semangat pengabdian dan perjuangan, terselip kekecewaan yang dirasakan oleh sebagian anggota terhadap para pengurus—terutama mereka yang menduduki posisi strategis—yang tampaknya lebih berorientasi pada popularitas ketimbang pengabdian.
Fenomena pengurus, yang menjabat hanya demi “naik nama” atau mencari panggung sosial semakin terasa nyata. Organisasi yang seharusnya menjadi ruang pembelajaran dan penguatan nilai-nilai perjuangan, justru diperlakukan sebagai alat pencitraan diri. Kegiatan dijalankan sekadar untuk dokumentasi media sosial, bukan untuk penguatan ideologi atau dampak nyata bagi masyarakat dan kader.
Selain itu, mulai berkembang kecenderungan eksklusivisme di tubuh organisasi. Ruang-ruang pengambilan keputusan perlahan dikuasai oleh kelompok kecil yang cenderung membatasi keterlibatan kader lainnya. Beberapa pengurus bahkan menyadari bahwa kondisi ini bertentangan dengan semangat dasar organisasi yang menempatkan keterbukaan, kolektivitas, dan kesetaraan sebagai pijakan utama dalam proses kaderisasi dan gerakan.
Lebih dari itu, fakta lain yang mencerminkan kemunduran kesadaran kolektif adalah sikap sebagian kader yang acuh tak acuh terhadap pentingnya dokumentasi dan publikasi kegiatan. Rilis kegiatan, yang sejatinya merupakan bentuk pertanggungjawaban publik sekaligus ruang edukasi kader seringkali diabaikan atau dianggap sebagai beban administratif belaka. Ketidakseriusan ini menunjukkan bahwa ada pengurus yang tidak benar-benar memahami fungsi komunikasi organisasi sebagai alat perjuangan, bukan hanya sekadar pelengkap formalitas.
Sebagai kader yang tumbuh dengan nilai-nilai pembebasan, kemanusiaan, dan keadilan sosial, rasa kecewa itu sah adanya. Sebab organisasi ini tidak dibangun dalam semalam, dan bukan pula untuk memfasilitasi ego pribadi. Ia lahir dari rahim sejarah, dari keresahan dan harapan akan lahirnya generasi muda Hindu yang progresif dan berpihak pada kebenaran. Ketika nilai-nilai itu dikorbankan demi eksistensi individu atau kelompok kecil, maka sesungguhnya kita sedang menodai cita-cita besar yang diwariskan oleh para pendiri.
Seorang ketua bukanlah simbol semata, melainkan penggerak utama roda perjuangan. Ia seharusnya hadir sebagai teladan, bukan sekadar figur. Kepemimpinan yang sejati lahir dari keberanian untuk tidak populer demi membela yang benar, bukan dari kepiawaian tampil di depan kamera.
Kini saatnya para kader bersuara. Bukan dengan kemarahan, tetapi dengan kesadaran kritis. Kepemimpinan yang lahir dari niat suci akan melahirkan gerakan yang kuat dan bermakna. Sebaliknya, kepemimpinan yang dibangun di atas ambisi personal hanya akan menghasilkan gerakan yang rapuh dan kehilangan arah.
Organisasi ini terlalu besar untuk dijadikan alat eksistensi segelintir orang. Ia milik semua kader, dan karenanya harus dijaga, dikritisi, dan diarahkan agar tetap berada di jalur perjuangan. Kita tidak butuh pemimpin yang mencari panggung. Kita butuh pemimpin yang berjalan di depan dengan membawa obor nilai, walau tanpa sorotan lampu.
Penulis: I Gede Bagus Arthana (Anggota Departemen DDI PP KMHDI)
