SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Oleh : Gusti Ngurah Teguh Arya Saputra – PC KMHDI Denpasar

PENDAHULUAN

Mempersoalkan pendidikan  artinya bukan mempersoalkan soal-soal birokratis, tentu tidak. Mempersoalkan pendidikan berarti mengarahkan pertanyaan ke dalam dasar-dasar kebudayaan manusia. Sebuah kritik terhadap konstelasi pendidikan yang ada berarti mempertanyakan kembali kebudayaan tersebut. Mengapa demikian? Sebab manusia tak pernah lepas dari kebudayaan yang hadir bersamanya, dan biasanya, pendidikan dalam hal ini selalu di cap sebagai pembentukan manusia dengan berbagai hasil produksi ilmu pengetahuan yang gemilang tanpa melihat bahwa manusia, meminjam istilah Hannah Arendt, inter hominesess yang artinyabahwa manusia berada diantara manusia yang lain. Sekalipun pendidikan dimaknai sebagai sebuah bentuk kebebasan berfikir, dia hanya dimungkinkan dalam hubungannya terhadap manusia lain yang artinya, kebebasan hanya mutlak dalam batasannya sendiri.

Saya tak sependapat dengan pandangan bahwa pendidikan dibebankan pada fungsi-fungsi produksi dimana dia mewakili suatu imajinasi mekanis dan praktis yang mutakhir saja. Jauh sebelum itu, pendidikan mungkin hanya dimaknai sebagai pengisi waktu senggang sebagaimana biasanya tidur siang, dan hanya orang kaya yang tidur siang, sedangkan mereka yang miskin, harus bekerja banting tulang alih-alih mendapat pendidikan tentang masa depan, bagi mereka hari ini adalah pencapaian tertinggi. Suatu usaha ini tidak akan pernah berhasil jika kita memandang pendidikan sebagai sesuatu yang final dan jauh dari persoalan problematis dan mendesak, sebab sifatnya yang kontekstual membuatnya sangat terbuka secara teoritis dan praktis.

Meski demikian, pendidikan di era kontemporer telah mengalami tranformasi dan terbagi menjadi berbagai macam kejuruan yang menawarkan kompetensi keahlian mekanis yang menopang laju pertumbuhan dan perkembangan mutakhir yang kerap kita sebut dengan kata modernitas untuk yang pertama dan industri kapitalisme untuk yang terakhir. Teranglah bahwa pendidikan sendiri adalah persoalan sejarah suatu jaman. Di era revolusi misalnya, pendidikan adalah upaya membangun kesadaran nasion bagi generasi muda, tujuannya adalah memecah dan membongkar sekat-sekat ras, suku, dan agama, dengan harapan ketiganya dapat dapat dipersatukan tanpa hambatan yang problematis. Mengikuti cara pandang era revolusi ini, pendidikan adalah satu-satunya cara untuk membangun sebuah peradaban manusia yang bermartabat dan berbudaya, dengan kata lain upaya manusia melangkah menuju kemajuan mutakhir, dengan memandang tradisi sebagai portal yang harus dilalui. Sampailah kita pada pendidikan modernitas itu, hingga kini. Lantas, berangkat dari persoalan ini, bagaimanakah posisi pendidikan Hindu?

PEMBAHASAN

Hal pertama yang mesti kita pahami adalah apa yang dikehendaki dari pendidikan berbasis Hindu? Jika kita menjawabnya dengan perasaan penuh keterbukaan, pendidikan Hindu barangkali sebuah proses yang terus berupaya menyadarkan sebuah langkah emansipasi diantara umat Hindu. Disisi lain, adalah upaya mensejajarkan diri dengan basis pendidikan modern yang serba mutakhir dan canggih. Tanpa perlu kita membahas betapa panjangnya proses sejarah yang berlangsung sehingga terbentuk sebuah lembaga pendidikan keumatan. Sebab, mengikuti corak berfikir yang agak sosiologis, bahwa agaknya umat Hindu sadar akan posisinya ditengah masyarakat beragama, dan selebihnya, di negara demokrasi. Kenyataan historis maupun sosiologis ini menuntut bahwa generasi yang lahir dari masyarakat Hindu memiliki kompetisi yang mampu berbagi ruang di tingkat nasional bahkan internasional. Hal ini tidak asbtrak, sebab sudah ada 1269 Pasraman dan 12 perguruan tinggi yang mengakomodasi pendidikan Hindu dan tersebar di Indonesia. Itu artinya tahap demi tahap, bangun pendidikan keumatan secara fisik akan terus bertambah dan berkembang. Hal yang secara kuantitas, tidak terlalu mengkhawatirkan.

Toeti Hoeraty dalam artikelnya yang berjudul “Vita Activa” dan “Vita Contemplativa” Hannah Arendt memandang ada tiga pola dasar manusia dalam posisinya ditengah masyarakat. Pertama, adalah Animal Labour yaitu pola dimana manusia hanya hidup untuk mempertahankan diri. Kedua, Homo Faber yaitu manusia yang mengeksplorasi dirinya dengan karya-karya yang mengafirmasi individu atau ego. Ketiga, Homo Contemplativa, yaitu manusia yang melampaui dua pola sebelumnya, yaitu manusia yang penuh kontemplasi. Ketiga pola ini, dapat kita gunakan sebagai kaca mata untuk melihat pola pendidikan Hindu. Dalam bahasan sebelumnya, pendidikan Hindu di tengah modernitas  dengan segudang perangkat konseptual-nya yang mutakhir diharapkan mencetak generasi yang unggul dalam wawasan keilmuan, maka frame pendidikan Hindu adalah upaya pemantapan daya saing di masyarakat. Sehingga pola ini menuntut adanya bangun struktur yang terbirokrasi lewat berbagai kurikulum dan pengajaran yang sistematis berbasis teknologi digitas, misal pembentukan E-Pasraman. Pola pendidikan mutakhir semacam ini, patut kita sambut dengan penuh suka cita.  Namun upaya ini, patut mendapat perhatian serius dan penuh simpati. Sebab para generasi, tidak hanya berupaya mengafirmasi dirinya ditengah laju persaingan dan kompetisi di berbagai industry, melainkan juga menanggung beban sejarah itu sendiri.

Beban sejarah yang dimaksud adalah sebuah kesinambungan sejarah yang diwariskan kepada generasi Hindu selanjutnya. Dan hal ini, tidak dapat ditanggung oleh sistem yang mutakhir dan berbasis teknologi semata. Sebagaimana yang sudah kita tahu, menyebut kata Hindu saja di Indonesia, berarti kita telah menyebut banyak etnis dengan berbagai latar belakang kultural yang berbeda-beda, Hindu Bali, Hindu Kaharingan dan sebagainya. Ini berarti Hindu sangat plural. Tidak ada upaya yang berhasil untuk memberi arti definitif terhadap Hindu, sebab Hindu hidup dan tumbuh dalam selaksa tradisi kultural yang membumi dan penuh kearifan. Saya tidak akan membahas ini.

Persoalan selanjutnya adalah, bagaimana generasi yang tercetak dalam pendidikan Hindu memungkinkan dirinya dalam kesinambungan sejarah atau dengan kata lain, bagaimana mereka memahami identitas kehinduan mereka dalam kehidupan sehari-hari? Pertanyaan ini tidak sepele. Pertanyaan ini menuntut sebuah perenungan mendalam ke dalam diri seseorang, suatu sikap keterbukaan untuk memahami. Ini hanya dimungkinkan apabila pendidikan Hindu sendiri diarahkan untuk memantapkan proses perenungan etis. Sehingga pendidikan dibentuk tidak hanya untuk menyiapkan manusia mutakhir saja, melainkan juga manusia Hindu yang memiliki integritas budaya dan memiliki sikap visioner dalam memandang persoalan kehidupan. Solusi yang saya tawarkan ada dua, yaitu apresiasi terhadap segala bentuk kesenian, dan karya sastra. Dua hal ini, akan membentuk pandangan kritis generasi muda Hindu, sehingga sikap-sikap toleransi, emansipatoris dan yang terpenting adalah suatu feel humanisme-universal dalam memandang manusia yang lain: wasudewa kuthumbakam!

PENUTUP

Pendidikan adalah sesuatu yang tak pernah lekang dari problematika, sebab yang dipersoalkan adalah manusia: kebudayaan. Sehingga amat penting untuk memberi ruang- ruang pemahaman diri untuk memahami identitas kehinduan. Dengan demikian kita memiliki sikap yang terbuka dan mapan dalam kebudayaan. Pembebasan dari paranoia dan pembekuan identitas kultural. Suatu sikap yang tidak kita harapkan hadir pada diri kita, dan generasi kita dalam memahami dunia tempat mereka hadir bersama masyarakat dan sejarah. Suatu langkah etis? Tentu saja.

DAFTAR PUSTAKA

Cassirer, Ernst. (1990). Manusia dan Kebudayaan. Jakarta: PT.Gramedia Jakarta.

Heraty, Toety. (2001). “Vita Acitva” dan “Vita Contemplativa” Hannah Arendt. Kompas. 30.

Supelli, Karlina Leksono. (2001). Sebuah Warisan Tanpa Wasiat. Kompas, 27.

Share:

administrator