SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Oleh : Ni Nyoman Marwiyati – PD KMHDI Jawa Barat

“Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri, pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodratnya itu”

~Ki Hajar Dewantara~

Sistem Pendidikan Hindu telah berusia sangat kuno yang dimulai dari jaman Veda, keberadaan universitas Hindu tertua (Apte, 1387) sampai pada sistem Pendidikan modern yang dipadukan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Surpi & Purwadi, 2021). Pendidikan merupakan obor dari peradaban Veda (Battul S. N., 2015). Sistem Pendidikan kuno ini, terwarisi dalam sistem tradisional Pendidikan Hindu yang dikenal sebagai pasraman dan tetap menemukan relevansinya hingga kini.

Ditengah-tengah maraknya wacana tentang hasil pendidikan di Indonesia, yakni output yang dihasilkan belum mampu membentuk karakter bangsa, pendidikan mestinya kembali berorientasi pada nilai-nilai budaya bangsa Indonesia. Sebagaimana disebutkan pada pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa ada empat komponen tujuan pendidikan yang pencapaiannya menjadi fokus utama pendidikan agama, yaitu :1) memiliki kekuatan spiritual keagamaan, 2) pengendalian diri, 3) kepribadian dan 4) akhlak mulia (Pendidikan & Kebudayaan, 2015).

Keempat komponen tersebut menunjukkan betapa besar pengaruh pendidikan agama dan betapa strategisnya posisi guru agama dalam upaya mewujudkan tujuan pendidikan, pendidikan agama memiliki peranan yang besar dalam membina moralitas suatu bangsa. Disamping peranan guru, tempat pendidikan juga menentukan dalam pencapaian tujuan pendidikan. Dalam sistem pendidikan di Indonesia terdapat tiga tempat pendidikan formal, informal, dan non formal. Secara realita pendidikan formal belum mampu memenuhi tujuan pendidikan secara maksimal sehingga perlu pendidikan non formal sebagai pelengkap dan pendukung pendidikan formal.

Pasraman adalah salah satu bentuk pendidikan non formal yang strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan khususnya pendidikan Hindu. Pasraman sebagai pendidikan non formal sesuai fungsinya dapat sebagai pelengkap pendidikan formal. Sesuai PMA 56 tahun 2014 pasraman bukan saja diakui sebagai pendidikan non formal akan tetapi tamatan pasraman juga diakui sama dengan pendidikan formal. Sehingga pendidikan di pasraman dipandang sebagai suatu jalan yang strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan Hindu dan pendidikan nasional.

Pasraman memang berupaya meningkatkan karakter unggul, sraddha dan bhakti serta meningkatkan kompetensi peserta didik (Sutriyanti, 2020). Pasraman di Bali sudah ada sejak jaman dahulu dan terus bergulir pada masa ini walau terjadi pasang surut. Walau ditengah keterbatasannya, pasraman sesungguhnya memberikan kontribusi yang besar terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan nasional melalui pendidikan budaya dan spiritual. Namun demikian, data di lapangan menunjukkan kurangnya perhatian banyak pihak terhadap keberadaan pasraman. Sebagian besar pengelola pasraman menyatakan berupaya membangun dan menjalankan pasraman dengan kekuatan sendiri sebagai wujud kecintaan dan pengabdian terhadap Pendidikan Hindu dan spiritual.

PENDIDIKAN PASRAMAN BERBASIS BUDAYA DAN SPIRITUAL

Secara etimologi kata Pasraman yang berasal dari bahasa Sanskerta dari kata asrama yang artinya tempat berlangsungnya proses belajar mengajar atau Pendidikan. Dengan demikian mengacu pada sistem pendikan Hindu kuno (Keay, 1918). Pasraman (pesraman) juga dikenal sebagai salah satu bentuk pendidikan dalam hal pengembangan ketrampilan, karakter anak dan pelestarian kebudayaan pada jalur non formal, di beberapa desa adat di Bali dilaksanakan di luar jam sekolah.

Tingkatan-tingkatan dalam pendidikan pasraman, dalam widya pasraman, satuan pendidikan keagamaan Hindu disebutkan ada beberapa tingkatan pendidikan di pasraman yang dilaksanakan secara formal di sekolah yaitu 1) Pratama Widya Pasraman, pasraman dalam jalur pendidikan formal dapat diselenggarakan setingkat Taman Kanak-Kanak, 2) Adi Widya Pasraman pada Sekolah Dasar, 3) Madyama Widya Pasraman pada Sekolah Menengah Pertama 4) Utama Widya Pasraman untuk Sekolah Menengah Atas 5) Maha Widya Pasraman untuk perguruan tinggi (Sutriyanti, 2020).

Dari tingkatan-tingkatan pendidikan yang ada semua berorientasi pada upaya dan tujuan pendidikan Hindu yaitu pembentukan budi pekerti yang mulia, pertumbuhan dan perkembangan jiwa raga secara seimbang (Aryadharna, 2005). Pendidikan karakter menjadi salah satu keunggulan dalam sistem Pendidikan Hindu, namun upaya meningkatkan kecerdasan manusia juga tidak kalah pentingnya (Surpi A, 2020). Generasi unggul yang dibentuk adalah memiliki kecerdasan tinggi dan karakter dewata. Anak-anak harus diajarkan berbagai ajaran kebaikan dan pengetahuan dasar Veda (Surpi, 2019). Pelajaran itu selama ini lebih banyak diajarkan pada pasraman.

Sebagaimana diungkapkan dalam Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu, yakni Pendidikan Hindu di luar sekolah merupakan suatu upaya untuk membina pertumbuhan jiwa masyarakat, dengan ajaran agama Hindu itu sendiri sebagai pokok materi. Pendidikan Hindu di sekolah suatu upaya untuk membina pertumbuhan jiwa raga anak didik sesuai dengan ajaran agama Hindu. Tujuan pendidikan Hindu adalah 1) Membentuk manusia Pancasilais yang astiti bhakti (bertakwa) kepada Sang Hyang Widhi Waça/Tuhan Yang Maha Esa. 2) Membentuk moral, etika dan spiritual anak didik yang sesuai dengan ajaran agama Hindu. 3) Pendidikan agama Hindu dikorelasikan dengan bidang-bidang pendidikan lainnya (Astawa, 2018). Memberikan contoh-contoh kehidupan beragama yang baik.

Upaya pencapaian tujuan pendidikan Hindu adalah upaya pencapaian pendidikan nasional karena pendidikan Hindu merupakan bagian integral dari pendidikan nasional. Berkenaan dengan itu peningkatan pendidikan Hindu melalui pasraman perlu diupayakan dalam penacapaian tujuan pendidikan nasional. Poin penting yang menjadi ciri khas dalam Pendidikan pasraman yakni yang menekankan pada aspek pembangunan karakter berbasis spiritual dan budaya. Namun tidak mengabaikan aspek lain yang menjadi kebutuhan untuk hidup di jaman modern.

STRATEGI PEMBELAJARAN DI PASRAMAN

Berdasarkan data di lapangan, keberadaan beberapa pasraman di Bali atau daerah sekitarnya sering berjalan tersendat-sendat, hal tersebut disamping karena kurangnya ketersediaan dana juga perlu menciptakan suatu strategi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan sosial masyarakat dan menyenangkan para siswa sebagai pelajar.

Berkenaan dengan itu pembelajaran di pasraman perlu diterapkan dengan berbagai strategi/pendekatan, yakni pendekatan sosial kemasyarakatan dalam arti pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan kehidupan sosial kemasyarakatan setempat misalnya anak-anak diajarkan untuk menghasilkan karya-karya yang dibutuhkan dalam pelaksanaan upacara yadnya sebagai kebutuhan umat Hindu di Bali. Strategi pendekatan pribadi siswa sebagai pelajar, yakni dengan menerapkan pembelajaran yang membangkitkan kegemaran siswa dengan memperkenalkan kembali berbagai bentuk permainan tradisional Bali, seperti permainan meong-meong, permainan megala-gala, permainan medagang tuak dan sebaginya, dengan strategi penerapan metode melajah sambil megending, yaitu metode belajar sambil bernyanyi sangat tepat untuk memotivasi atau membangkitkan gairah belajar siswa karena belajar sambil bernyanyi dapat sebagai penyalur aspirasi, bakat, minat, dan kegemaran siswa untuk belajar. Menggunakan strategi/pendekatan pengenalan alam lingkungan yang disebut dengan metode karya wisata, anak diajak untuk keluar dari tempat belajarnya mengunjungi tempat-tempat suci, alam pegunungan, pantai nanluas dengan pemberian penguatan-penguatan terhadap fenomena yang dihadapkan sehingga proses belajar terjadi secara almiah dan lebih mudah untuk dipahami.

Dengan berbagai strategi dan pendekatan belajar seperti tersebut maka belajar bukan hanya untuk mendapatkan pengetahuan akan tetapi juga mendapat pengalaman yang berarti dari orang dewasa, dan dapat pengembangan sikap perasaan individu sebagai pembelajar secara harmonis. Pembelajaran pasraman harus didesain untuk menarik bagi peserta didik ditengah penggunaan smart phone dan aplikasi online yang membuat anak-anak enggan melepaskan gadget dari tangannya. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran guna meningkatkan kecerdasan majemuk sangat penting (Sudarsana et al., 2020) sebab, generasi baru saat ini sangat akrab dengan teknologi. Pasraman semestinya juga dapat mengadopsi berbagai metode pembelajaran yang dijelaskan dalam Upanisad, yang disesuaikan dengan tingkatan dan usia anak didik, diantaranya seperti metode enigmatik, metode aphoristik, metode etimologi, metode mitos, metode analogis, metode dialektis, metode sintetis, metode monologis, metode ad hoc atau temporising, dan metode regresi (Surpi & Purwadi, 2021). Metode ini dapat digunakan secara terpisah maupun simultan sesuai dengan konteks pembelajaran. Dengan demikian siswa akan memiliki semangat yang tinggi untuk membaca dan mengikuti proses Pendidikan secara keseluruhan.

Beberapa metode pembelajaran dalam Hindu yang telah diterapkan pada berbagai pasraman di Bali seperti metode Dharma Tula, Dharma Wacana, Dharma Yatra, Dharma Gita, Sravana, siswa mendapat pengetahuan melalui mendengar pembicaraan, ceramah atau penjelasan dari guru, dan dengan merenungkan. Dalam pembelajaran di pasraman tidak cukup penerapan metode pembelajaran Hindu saja akan tetapi perlu mengadopsi metode pembelajaran formal sesuai mata pelajaran yang diberikan seperti metode demonstrasi, problem solving/pemecah masalah, metode inquiri dan sebagainya.

MATERI PEMBELAJARAN AGAMA HINDU DI PASRAMAN

Realitas di lapangan keberadaan pasraman yang ada di Bali khususnya, materi pembelajaran hendaknya jangan semata-mata berorientasi pada kepentingan/kebutuhan lokal masyarakat di Bali yang aktifitas keberagamaaanya dominan melalui pelaksanaan upacara yadnya, sehingga muncul materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan lokal keberagamaan Hindu di Bali, seperti mejejahitan (merangkai janur dengan berbagai bentuk) bahasa bali, Dahrma Gita, Tabuh, Tari dan sebagainya. Materi pembelajaran seperti itu sudah relevan dan telah memenuhi kebutuhan lokal masyarakat dalam menjalankan aktivitas keberagamaannya, namun di era global seperti ini untuk eksisnya sebuah pasraman perlu memperluas materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan masyarakat global, agar output pasraman yang dihasilkan dapat bersaing secara global.

Untuk itu perlu penambahan materi pembelajaran, seperti mendengarkan Dharma Wacana dari berbagai tokoh agama, tokoh nasional, sehingga output yang dihasilkan dapat membentuk pendharmawacana dari anak-anak pasraman itu sendiri/pendharmawacana cilik, keterampilan komputer, keterampilan berbahasa inggris, serta ilmu kewirausahaan yang sementara masih tabu di pasraman, seperti anak-anak diajarkan untuk mengolah hasil-hasil alam yang ada di daerah mereka masing-masing, mengingat Bali juga memiliki hasil alam yang berbeda dalam tiap-tiap kabupaten, penghasil daun pandan bisa membuat tikar, penghasil bambu bisa membuat seruling dari bambu, penghasil buah salah bisa membuat minuman dari salak dan wirausaha lainnya sesuai hasil alam yang ada. Sehingga semua hasil alam menjadi bermanfaat. Kompleksnya materi-materi pembelajaran di pasraman dapat mengasilkan output/lulusan dan outcome/produk disamping dapat membentuk karakter anak sesuai budaya bangsa Indonesia dan juga anak akan bisa hidup mandiri, bersaing dalam era global, dan strategis dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan perekonomian global.

Dengan penataan materi pembelajaran yang cermat, inovasi, dan adaptif dengan perkembangan jaman diyakini out came/lulusan yang dihasilkan dalam pendidikan pasraman dapat bersaing dengan pendidikan formal. Disamping sumber-sumber belajar tersebut yang bersifat kontemporer ada sumber acuan pokok dalam pembelajaran agama Hindu yang bersumber pada kitab suci Weda, sebagaimana disebutkan dalam kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu, materi pembelajaran di sekolah dan luar sekolah, yakni: Materi pembelajaran di sekolah, bersumber pada Veda Çruti Smrti dan Itihasa yang pelaksanaannya disesuaikan dengan desa kala patra. Sarana pendidikan agama Hindu berupa kurikulum, buku- buku, perpustakaan, Guru- guru sebagai penyampai pembelajaran. Pembelajaran teologi dan teologi lokal di Nusantara juga semestinya menjadi pembelajaran sejak dini di pasraman maupun pada sekolah formal (Surpi et al., 2021). Sebab pembelajaran ketuhanan menjadi sangat penting di masa ini, disamping mengembangkan keimanan juga pemahaman dan pluralisme (Surpi, 2020).

IMPLIKASI PEMBELAJARAN DI PASRAMAN DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN NASIONAL

Berdasarkan UU Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003 terutama dalam pasal 12 ayat 4, pasal 30 ayat 5, dan pasal 37 ayat 3, maka Pemerintah RI telah menetapkan PP nomor 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Kemudian kalau dicermati kandungan isi pp nomor 55 tahun 2007 pada pasal 1 poin angka 5 ada dijelaskan Pasraman adalah satuan pendidikan keagamaan Hindu pada jalur pendidikan formal dan non formal. Kemudian dalam pasal 8 ayat 1 dan 2 ditegaskan tentang pendidikan keagamaan, bahwa pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama yang berwawasan luas, kritis, kreatif, Inovatif, dan dinamis dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia (Sukrawati, 2020). Pendidikan memegang andil yang tidak kecil dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional, pada pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa ada empat komponen tujuan pendidikan yang pencapaiannya menjadi fokus pendidikan agama, yaitu kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian dan akhlak mulia (Samrin, 2016).

Amanat undang-undang ini, sangat terkait dengan tujuan utama Pendidikan dengan pola pasraman dalam Hindu. Hindu harus membangun Pendidikan unggul baik formal maupun informal guna mempersiapkan sumber daya manusia unggul sekarang dan di masa depan (Surpi, 2017). Pemerintah Provinsi Bali juga mencanangkan program SDM Bali Unggul yang mestinya dapat diintegrasikan dengan Pendidikan pasraman. Namun sayang, adanya stigma negatif yang dibangun terkait pasraman akan memperlambat upaya mendidik generasi Bali ditengah persaingan global. Pendidikan karakter mestinya menjadi pilar utama pembangunan Pendidikan Hindu. Banyak hal-hal baik dipelajari pada pasraman, disamping berupaya membantu masyarakat untuk keluar dari permasalahannya. Umat Hindu harus senantiasa berupaya meningkatkan kualitas Pendidikan, baik Pendidikan formal maupun informal. Pendidikan pasraman dapat menjadi model alternatif Pendidikan unggul, yang sudah berakar sejak jaman Weda hingga jaman kerajaan di Nusantara.

Keunggulan sistem Pendidikan pasraman di masa lampau hendaknya diekstraksi dan dipadukan dengan kebutuhan kompetensi di era modern, sehingga pasraman tetap menemukan relevansinya. Pola Pendidikan pasraman juga akan terkait langsung dengan mutu Pendidikan nasional. Dimana, umat Hindu harus menyumbangkan dampak positif pada upaya pembangunan Pendidikan nasional, khususnya pada Pendidikan karakter. Pasraman yang memiliki ciri Pendidikan spiritual budaya semestinya terbangun menjadi pola unggul dalam kerangka Pendidikan nasional. Sejumlah karakter unggul yang disebutkan dalam susastra Hindu seperti satya (setia, jujur, berintegritas), vira (berani, unggul), bhakti (ketaatan), tanggung jawab mestinya terbangun secara utuh dalam Pendidikan pasraman (Aryadharna, 2005). Jika umat Hindu berhasil dalam membangun dan mengembangkan pola Pendidikan unggul akan menjadi kontribusi besar dalam memajukan sistem Pendidikan nasional sekaligus membentuk karakter bangsa yang berbudaya.

KESIMPULAN

Pasraman merupakan Lembaga Pendidikan Hindu yang telah terbangun sejak jaman Weda. Di masa lampau pasraman biasanya dibangun di tengah hutan agar guru dan siswa berkonsentrasi pada pembelajaran. pada masa kerajaan-kerajaan di nusantara, pusat-pusat Pendidikan Hindu dikenal sebagai mandala kadewaguruan. Sementara di Bali lebih dikenal sebagai padukuhan atau pasraman. Pola yang digunakan dalam pasraman yakni spiritualitas dan budaya dengan menitik-beratkan pada pembangunan karakter unggul manusia. Hal ini sangat terkait dengan upaya Pemda Bali dalam membangun SDM Bali unggul.

Pendidikan agama Hindu menghendaki perubahan tingkah laku secara menyeluruh, utuh, dan integral yang meliputi seluruh aspek (potensi) yang ada pada diri manusia, baik dimensi spiritual, emosional, kecakapan maupun fisik, karena manusia merupakan makhluk hidup yang paling utama di antara makhluk hidup ciptaan Tuhan lainnya. Pendidikan pasraman dengan pola Pendidikan dan kurikulumnya yang khas mestinya memberikan kontribusi yang nyata dalam upaya meningkatkan mutu Pendidikan nasional hingga internasional dan upaya pembangunan karakter bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

Astawa, I. N. S. (2018). Pola Pendidikan dalam Perspektif Pendidikan Hindu. Satya Widya: Jurnal Studi Agama, 1(1). https://doi.org/10.33363/swjsa.v1i1.40

Rema, I. N., & Rai Putra, I. B. (2018). Sumber Daya Alam sebagai Media Literasi di Bali. Forum Arkeologi, 31(1). https://doi.org/10.24832/fa.v31i1.462

Santiko, H. (2012). Agama Dan Pendidikan Agama Pada Masa Majapahit. Jurnal AMERTA, Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Arkeologi, 30(2), 128.

Surpi, N. K. (2017). Hadapi Tantangan Global, Lembaga Pendidikan Hindu Harus Jadi Gurukula Modern. Jurnal Penjaminan Mutu. https://doi.org/10.25078/jpm.v3i2.197

Surpi, N. K., & Purwadi, I. K. D. A. (2021). Konsep dasar literasi dalam upani ṣ ad sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan. Jurnal Penelitian Agama Hindu, 7.

Sutriyanti, N. K. (2020). Persepsi Masyarakat Hindu Terhadap Keberadaan Pasraman Formal di Bali. Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies), 10(1), 235. https://doi.org/10.24843/jkb.2020.v10.i01.p11

Surpi, N. K. (2019b). Moral Politik Dan Merosotnya Kualitas Peradaban Manusia. In I Nyoman Yoga Segara (Ed.), POLITIK HINDU Sejarah, Moral dan Proyeksinya (1st ed., p. 58). Program Pascasarjana Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Share:

administrator