SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Oleh : Desak Gede Desita Pramesti Cahyani

Anggota Litbang – PC KMHDI Denpasar 

​Tidak terasa, serangkaian hari raya Hindu memasuki Hari Raya Pagerwesi. Setelah merayakan hari raya Saraswati yang jatuh pada saniscara umanis wuku watugunung10 hari kemudian umat Hindu merayakan hari raya Pagerwesi. Peringatan hari raya Pagerwesi sendiri berkaitan erat dengan peringatan Saraswati yang merupakan momentum turunnya ilmu pengetahuan dari Tuhan kepada manusia. Setelah diturunkan, ilmu pengetahuan ini kemudian digunakan dengan baik agar dapat memudahkan manusia menjalani kehidupan, serta meneguhkan iman dari umat manusia. Setelah mendapatkan anugerah berupa ilmu pengetahuan, maka manusia harus mengimplementasikannya dengan baik agar senantiasa mendapat tuntunan dalam menjalani kehidupan. 

​Perayaan Pagerwesi jatuh pada hari Rabu (budhakliwonwuku sinta. Hari raya Pagerwesi memiliki arti berdasarkan paduan kata ‘pager’ yang berarti pagar atau benteng dan ‘wesi’ berarti besi. Dari pengertian tersebut dapat kita tarik makna bahwa pagar atau benteng yang terbuat dari besi adalah benda kuat yang dapat melindungi sesuatu didalamnya. Sehingga hari raya Pagerwesi bermakna sebagai momentum untuk mempagaridiri agar selalu dilindungi dan berjalan pada dharma dengan bekal ilmu pengetahuan yang sudah kita miliki. Perayaan Pagerwesi mengingatkan akan keteguhan iman umat manusia untuk mengendalikan ilmu pengetahuan yang sudah diberikan oleh Tuhan. 

​Dalam hari raya Pagerwesi, umat Hindu memuja Dewa Siwa atau sering disebut Sanghyang Pramesti Guru. Beliau adalah guru alam semesta yang menuntun manusia untuk berjalan pada dharma. Pada perayaan Pagerwesi umat Hindu memuja Tuhan atau Sanghyang Pramesti Guru sebagai mahaguru. Dalam lontar Sundarigama, disebutkan mengenai Hari raya Pagerwesi:

‘Budha Kliwon Sinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuanakabeh.’

Artinya :

Rabu Kliwon Sinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.

​Dalam perayaan hari raya Pagerwesi, mengapa kita harus berguru? Tentu kita harus memperkuat dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah kita dapat. Terkadang seseorang yang telah memiliki cukup ilmu pengetahuan, mereka justru masuk ke dalam kegelapan (awidya). Kesombongan mereka justru membuat mereka tidak bisa mengendalikan ego. Hal inilah yang membuat umat manusia untuk senantiasa eling bahwa anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan agar diimplementasikan dengan baik. Dalam perayaan hari raya pagerwesi, umat manusia disadarkan untuk selalu berguru kepada siapapun, dimanapun, dan kapanpun karena ilmu pengetahuan bersifat luas. Selain itu, pada perayaan hari raya Pagerwesi, umat Hindu diajarkan untuk memperkuat moral agar mendapatkan wiweka yakni selalu berhati-hati dalam menentukan sesuatu yang baik dan salah. 

​Untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang diturunkan pada saat Saraswati, kita pasti memerlukan guru sebagai pemandu dalam penjabaran ilmu pengetahuan. Setelah manusia mendapatkan ilmu pengetahuan, maka perlu untuk dipraktekkandan diimplementasikan. Dalam proses ini, peran guru sangat dibutuhkan agar tidak disalahgunakan. Guru memiliki peran yang sangat mulia. Dalam ajaran agama Hindu mengenal ajaran Catur Guru atau Catur Susrusa. Ajaran catur guru mengajarkan manusia agar senantiasa hormat dan bhakti kepada Guru, baik guru spiritual maupun guru non spiritual. Catur guru terdiri dari dua kata yakni ‘catur’ yang berarti empat dan ‘guru’ yang berarti. Sehingga, catur guru merupakan empat tugas berat yang harus diemban untuk mewujudkan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan dalam keutamaan hidup (Suardana, 2020). Adapun bagian-bagian catur guru yaitu:

1. Bhakti kepada Guru Swadaya 

Guru swadaya adalah Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Beliau adalah sumber dari segala kehidupan dan penuntun dalam menjalani kehidupan. Guru tertinggi adalah Tuhan Yang Maha Esa atau Guru Param Brahmaatau Sanghyang Pramesti Guru seperti dalam lantunanGurupuja, 

“Om Guru Brahma

Gurur Vihsnu Gurur devo Mahesvara

Gurur Sakhsat Param Brahma

Tasmai Sri guravay namaha

Artinya :

Om Hyang Widhi, Engkau adalah Brahma, Visnu, dan Mahesvara, sebagai guru agung, pencipta, pemelihara pelebur alam semesta. Engkau adalah guru tertinggi, Param Brahma kepada-Mu aku memuja.

​Guru swadyaya adalah pembimbing utama bagi umat manusia karena beliau menciptakan alam semesta dengan segenap isinya. Dalam perayaan hari raya Pagerwesitentunya, kita memuja Sanghyang Pramesti Guru sebagai manifestasi Tuhan.

2. Bhakti kepada Guru Wisesa 

Guru wisesa adalah guru yang memiliki tugas, wewenang, dan tanggung jawab terhadap masyarakat, bangsa dan negara. Guru wisesa ada disetiap tingkatan pemerintahan, seperti tokoh adat, kepala desa, ketua RT/RW, bupati/walikota, gubernur, presiden dan masih banyak lagi aparat pemerintahan. Sebagai masyarakat, sepatutnya kita mematuhi dan menghargai pemerintahan sebab pemerintah memberikan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di semua sektor. 

3. Bhakti kepada Guru Pengajian 

Guru pengajian adalah guru yang memberikan pendidikan secara formal di sekolah. Untuk menjadi guru, seseorang diwajibkan untuk menempuh pendidikan guru agar memiliki profesi untuk mendidik, mengajar, dan melatih sesuai dengan kurikulum dan pedoman dalam memberikan pendidikan formal. Dalam ajaran agama Hindu, ajaran upanisad adalah salah satu ajaran untuk memuja guru serta menghormati guru sebagai perantara ilmu pengetahuan. Sudah sepatutnya, pada perayaan Pagerwesi, manusia tidak lupa untuk selalu menghargai keberadaan guru dalam membimbing manusia. 

4. Bhakti kepada Guru Rupaka

Guru rupaka adalah orang tua melahirkan kita ke dunia ini. Guru pertama yang kita temui pada saat baru lahir didunia. Orang tua adalah guru yang paling utama sebab beliau mendidik, mengajar, dan melatih kita untuk berbicara, berjalan, makan dan minum. Guru rupaka adalah guru yang bertanggung jawab terhadap jiwa dan raga kita. Tanpa adanya orang tua, anak tidak akan bisa apa-apa. Meskipun bukan teori yang diajarkan seperti di sekolah, namun keberadaan orang tua adalah anugerah terpenting bagi manusia dalam kehidupan, perkembangan fisik, psikologis, serta karakter. Dalam perayaan Pagerwesi, kita sudah sepatutnya untuk memuliakan orang tua karena beliau adalah dewa yang nyata. 

​Kita ketahui bersama bahwa hari raya umat Hindu memang cukup banyak. Namun hakikatnya adalah hari raya dalam agama Hindu sangat berkaitan dengan kehidupan manusia. Khususnya dalam perayaan hari suci Pagerwesi terkandung makna mengenai catur guru. Bahwa manusia mendapatkan ilmu pengetahuan dan peran guru tidak luput dari itu. Sehingga guru adalah salah satu sosok yang kita muliakan dalam hari suci Pagerwesi.

Share:

administrator