I MADE SUDANA YASA

I Made sudana Yasa yang akrab dipanggil Made lahir di Mopugad salah satu desa di Kecamatan Dumoga Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara pada tanggal 18 November 1996 silam dari pasangan  I Gede Susila dan Ni Made Alit.  Masa kecil Made dilewati dengan penuh kegembiraan, sama seperti anak-anak kecil seusianya.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini menempuh pendidikan formal di SD Negeri 1 Mopugad, masa kecil made dihabiskan dengan bermain bersama teman-temanya. Made merupakan salah satu anak yang paling suka bermain, akan tetapi ia tak suka membeli mainan, uang yang diberikan orangtuanya dihabiskan untuk membeli makanan  satu-satunya mainan yang dimiliki adalah sepeda. Enam tahun bersekolah di SD Negeri 1 Mopugad hingga lulus dan melanjutkan ke SMP Swadharma Mopugad, sebuah yayasan sekolah hindu yang berada di dataran Dumoga. Tiga tahun dilewati semasa mengenyam pendidikan di SMP dengan banyak pengalaman dan pembelajaran yang didapat. Dari banyak pengalaman itu, ada satu yang begitu menarik akan tetapi tidak bisa di publikasikan secara luas, akan tetapi intinya pada saat itu Made berada dalam kondisi terpuruk dalam hidupnya, harapan yang ada di puncak dan hampir pupus dan ingin menyerah. akan tetapi semua itu sirna ketika Made bermimpi dan melihat sinar terang di depannya dan samar-samar Made mendengar sebuah suara yang mengatakan bahwa “Hidup ini masih panjang, banyak mimpi dan harapan yang harus diciptakan” hal itulah yang membuat Made termotivasi menjalani hari setelah mimpi itu datang.  Made melanjutkan Sekolah Menengah Atas di yayasan yang sama yaitu SMA Swadharma Mopugad dan menghabiskan masa remajanya dengan teman-teman di sekolahnya. Made yang dikenal begitu periang sejak kecil hingga lulus SMA.

Sebelumnya Made memiliki niatan untuk tidak melanjutkan study nya ke Universitas karena mengingat kondisi keluarganya yang saat itu tidak ada yang melanjutkan usaha Kakek neneknya karena beberapa hal. Dan saat itu Made mengurungkan niatnya untuk berkuliah dan melanjutkan usaha kakek dan neneknya yang memang sudah berdiri sejak lama dan sayang untuk ditinggalkan. Disaat – saat kegundahan Made, kembali ia bermimpi akan tetapi begitu nyata, sinar itu datang lagi untuk kedua kalinya, lagi-lagi cahaya itu memberikannya wejangan dan membimbing ia untuk melanjutkan study agar orang-orang hebat itu memiliki pendidikan yang tinggi namun tetap rendah hati. Kakek Made juga mendorongnya untuk melanjutkan study, akhirnya made meminta restu kepada orang tuanya dan mencoba untuk menjalani perkuliahan.

Made kemudian menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi di Universitas Sam Ratulangi, salah satu kampus negeri di Provinsi Sulawesi Utara dan mengambil konsentrasi Manajemen. Kecerdasan Made dibuktikan dengan banyak prestasi yang didapat selama kuliah, diantaranya pada masa awal masuk perkuliahan Made sudah menyabet Juara 2 dalam Lomba Debat tingkat Universitas pada tahun 2015. Made juga mendapatkan juara 2 dalam Lomba Debat SMESCO pada tahun 2016., Masa perkuliahan Made dilewati penuh canda tawa bersama teman-temannya, banyak kegiatan kampus yang diikuti pun dengan kegiatan Magang pernah dilalui pada tahun 2017 sebagai staf administrasi di Bimas Hindu Kanwil Agama Provinsi Sulawesi Utara.  Empat tahun setelah pertama kali menginjakkan kaki di dunia perkuliahan, saat Wisuda Universitas Sam Ratulangi menempatkan Made menjadi salah satu lulusan terbaik dari Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi dengan predikat Cumlaude pada tahun 2018.

Perjalanan hidup Made dibimbing oleh kedua orangtuanya dan orang yang paling berperan dalam hidupnya adalah seorang Kakek yang bernama I Putu Adnyana, Kakek yang selalu membimbing Made, mengenalkannya tentang kehidupan, mengajarkannya tentang banyak hal, dan mengajarkan Made bahwa hidup itu bukan hanya sekedar bernafas, hidup itu bukan sekedar mencari uang dan keuntungan. membantu seseorang tanpa mengharapkan imbalan pengabdian dan ketulusan yang dimiliki Made juga didapat dan diajarkan oleh Kakeknya,. Diskusi hangat bersama kakek adalah hal yang paling menyenangkan bagi Made, Kakaeknya selalu mengatakan bahwa Made harus selalu berpegang pada Hukum Karma.

Ketertarikan Made dalam dunia organisasi sudah terlihat saat ia menjadi anggota Biro Organisasi PD KMHDI Sulawesi Utara hingga kemudian naik menjadi Ketua Biro Organisasi di PD KMHDI Sulawesi Utara, berkat kepawaiannya, Made juga dipercaya menjadi pengurus HIMAJU Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis periode 2015-2016. Pada tahun 2017, Made terpilih sebagai Ketua PD KMHDI Sulawesi Utara menggantikan Kadek Rani.

Pada bulan Agustus akhir tahun 2018 Mahasabha XI KMHDI diselenggarakan dan dibuka oleh Presiden RI Joko Widodo, I Made Sudana saat berkas dari nama itu diserahkan kepada Presidium Sidang saat itu, awalnya tak pernah memiliki keinginan untuk maju sebagai pimpinan KMHDI, saat persidangan sedang berlangsung alot, made pergi ke Pura Vaikunta Vyomantara di Yogyakarta, ia bertemu seseorang yang tidak ia kenal dan berkata“ Kamu akan diberikan tugas dan tanggungjawab lebih besar, ambilah itu karena itu sudah menjadi karma mu”. Made tidak mengerti apa arti dari semua itu. Hingga akhirnya jam 12 malam ia kembali ke persidangan dan memberanikan diri untuk mencalonkan diri sebagai Presidium Pimpinan Pusat KMHDI. Hingga pada tanggal 3  September 2018 Made terpilih menjadi Presidium I Pimpinan Pusat KMHDI hasil Mahasabha XI KMHDI yang diselenggalakan di Yogyakarta tahun 2018. Saat itu Made baru menyelesaikan study nya di Universitas Sam Ratulangi, Made kini menjadi penduduk Ibukota sebagai bentuk pengabdiannya kepada KMHDI. Dan ada satu kutipan menarik yang di sukai oleh made yakni “Takdir akan menentukan sendiri jalannya” Basudewa Krisna dalam Mahabarata

WhatsApp chat