SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Jakarta, kmhdi.org – Pemerintah telah mewacanakan akan mengumumkan kenaikan harga BBM minggu depan. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan saat memberikan kuliah umum di Universitas Hasanudin, Makassar, Jumat (19/8).

Menanggapai kabar ini, Ketua Presidium Pimpinan Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PP KMHDI), I Putu Yoga Saputra menyampaikan kenaikan BBM subsidi saat ini tidak tepat dilakukan oleh pemerintah. menurutnya, hal ini dapat menimbulkan inflasi dan menurunnya harga beli masyarakat di tengah situasi ekonomi yang belum stabil.

“Naiknya harga BBM bersubdi seperti pertalite dan solar bisa memberikan dampak yang besar bagi stabilitas perekonomian Indonesia, yakni terjadinya inflasi dan menurunnya daya beli masyarakat di tengah situasi perekonomian yang belum pulih sepenuhnya,” terang Yoga Saputra.

Yoga menjelaskan bahwa Inflasi tidak mungkin dihindari karena BBM adalah unsur vital dalam proses produksi dan distribusi.

“Jika harga BBM subsidi naik, ini bisa memicu terjadinya inflasi, harga barang akan naik di pasaran. Biaya produksi dan operasi akan meningkat yang berujung pada naiknya harga produk yang dihasilkan dan bisa berdampak pada konsumen akhir, yaitu menurunnya daya beli masyarakat,” jelas Yoga.

Yoga juga menerangkan bahwa konsumsi rumah tangga tercatat masih menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi RI, sesuai dengan laporam BPS tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,44 persen (year on year/yoy) di kuartal II-2022. Sehingga pemerintah dianggap perlu hati-hati dalam mengambil kebijakan untuk menaikan harga BBM.

“Pemerintah harus berhati-hati dalam mengambil kebijakan. Saat ini konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, jika harga BBM naik sudah pasti berimbas pada menurunnya konsumsi rumah tangga yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi,” terang Yoga.

Salah satu masalah terbesar yang muncul dari dinaikkannya harga BBM adalah kekhawatiran akan terhambatnya pertumbuhan ekonomi karena dampak kenaikan harga barang dan jasa yang terjadi akibat komponen biaya yang naik.

Oleh karenanya, Yoga selaku Ketua Presidium PP KMHDI berharap pemerintah tidak tutup mata melihat dampak kenaikan harga BBM ini nanti yang bisa berujung pada multi efek terhadap perekonomian Indonesia.

“Pemerintah perlu juga melihat sisi dampak jika kebijakan ini diputuskan dan malah membebani masyarakat, optimalisasi pelaksanaannya maupun pengawasanya perlu di maksimalkan,” Tutupnya.

Share:

administrator