SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Loading

Jakarta, kmhdi.org – Salah satu tanda paling jelas dari keredupan KMHDI hari ini adalah cara organisasi memaknai program kerja. Program dijalankan sekadar agar laporan dapat ditulis, dokumentasi dapat diunggah, dan struktur dapat dianggap hidup. Namun jarang sekali dipertanyakan: apa dampak nyata program itu bagi kader dan umat?

.

Program kerja berubah menjadi rutinitas administratif, bukan instrumen perubahan sosial. Seminar dilaksanakan tanpa tindak lanjut, diskusi digelar tanpa keberanian mengambil posisi, dan kegiatan sosial dilakukan tanpa analisis akar masalah. Organisasi seolah bergerak, tetapi tidak pernah benar-benar sampai pada tujuan.

.

Lebih memprihatinkan, KMHDI mulai kehilangan ruang diskusi kritis. Kajian-kajian yang seharusnya menjadi jantung organisasi kader justru dihindari. Ada ketakutan untuk membicarakan isu sensitif: kebijakan pemerintah, konflik agraria, krisis ekologi, hingga intoleransi. Diskusi diganti dengan tema-tema aman, netral, dan tidak mengusik siapa pun.

.

Padahal, organisasi kader tanpa diskusi kritis adalah tubuh tanpa nalar.

.

Ketakutan ini tidak lahir tanpa sebab. Ia tumbuh dari mentalitas pragmatis: takut tidak kebagian akses, takut tidak mendapat undangan, takut tidak mendapat “kue” kekuasaan. Akhirnya, organisasi lebih memilih mendekat ke penguasa daripada menjaga jarak kritis. KMHDI seperti anak ayam yang selalu bersembunyi di bawah ketiak induknya—mencari aman, tetapi kehilangan keberanian untuk tumbuh mandiri.

.

Dalam posisi seperti ini, kritik terhadap pemerintah menjadi sesuatu yang dihindari, bukan karena tidak ada masalah, tetapi karena ada kepentingan. Padahal, sejak awal, organisasi kader lahir bukan untuk menjadi pelengkap kekuasaan, melainkan penyeimbangnya.

.

Jika KMHDI hanya berani bicara ketika situasi aman, maka ia telah kehilangan fungsi historisnya sebagai kekuatan moral. Organisasi berubah menjadi mitra seremonial, bukan kekuatan korektif.

.

Yang lebih berbahaya, kader dibiasakan untuk patuh tanpa berpikir kritis. Mereka dilatih menjalankan program, tetapi tidak dibentuk untuk mempertanyakan arah. Mereka aktif secara struktural, tetapi pasif secara intelektual. Dari sinilah lahir generasi kader yang rajin bekerja, namun tidak tahu untuk apa mereka bekerja.

.

Keredupan KMHDI bukan karena tidak ada program, melainkan karena program kehilangan makna. Bukan karena tidak ada kader, melainkan karena kader tidak diberi ruang untuk berpikir dan bersikap.

.

Jika pola ini terus dipertahankan, KMHDI hanya akan menjadi organisasi yang sibuk mengurus dirinya sendiri, tetapi absen dalam persoalan umat dan bangsa. Ia akan rapi secara administrasi, namun kosong secara ideologis.

.

Kebangkitan KMHDI harus dimulai dari keberanian mengubah orientasi: dari sekadar melaksanakan program menjadi menghasilkan dampak, dari menghindari konflik menjadi mengambil posisi, dari mencari aman menjadi berpihak pada kebenaran.

.

Tanpa keberanian itu, KMHDI tidak sedang bangkit namun ia hanya sedang menunda kematiannya secara terhormat.

.

Kader KMHDI

I Kadek Ria Febri Yana

Share:

administrator