SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Oleh : Ni Komang Deviana – PC KMHDI Buleleng

PENDAHULUAN

Ilmu pengetahuan merupakan faktor utama dalam kemajuan sebuah bangsa. Memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang sejarah ilmu pengetahuan akan mendorong manusia terus menuju pada arah revolusi yang positif (Nurjanah, M. A., 2020). Teori dan praktek yang seimbang harus dibentuk dengan baik karena ilmu pengetahuan tidak cukup jika hanya digunakan untuk membuat seseorang menjadi pandai, namun juga harus menyeimbanginya dengan nilai-nilai luhur dan personal karakter yang baik. Lembaga pendidikan Indonesia telah memberikan pendidikan moral dari bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi yang telah diatur oleh kurikulum yang berlaku. Pendidikan moral yang diberikan diharap mampu membentuk karakter individu pada semua kalangan. Namun pada realitanya, upaya tersebut seringkali gagal membawa masyarakat Indonesia kearah yang lebih baik dalam membentuk karakter bangsa. Berbagai kasus kriminal, kejahatan seksual, korupsi, narkoba, dan kasus penyimpangan lainnya tidak hanya dilakukan oleh manusia yang tidak menempuh pendidikan saja, tetapi manusia yang berpendidikan tinggi (Saleh, S., 2016).

 Pemahaman tentang sejarah ilmu pengetahuan menjadi sangat penting agar kehidupan bangsa bisa menuju ke arah perkembangan yang positif, terlebih lagi dalam era globalisasi seperti saat ini (Nurjanah, M. A., 2020). Mengerti dan memahami sejarah ilmu pengetahuan membuat kita bisa memilah agar tidak terjebak pada konsep yang absurd tentang ilmu pengetahuan dan terhindar dari ilmu yang palsu (oseudo science).

Pada era globalisasi seperti saat ini, eksistensi suatu bangsa sangat ditentukan oleh karakter yang dimiliki bangsa itu sendiri. Karakter tersebut akan menentukan apakah suatu bangsa akan menuju ke arah kemajuan atau kemunduran. Hal tersebut dapat terlihat dari tingkat sumber daya manusia maupun sistem edukasi/doktrinasi positif yang mendorong masyarakat agar memiliki pola pikir yang maju (Tiwi, A., 2017)

Dalam pendidikan Hindu, rendahnya daya saing sumber daya manusia (SDM) tenaga pendidik Hindu mengharuskan negara kita melakukan reparasi pada pendidikan. Umat Hindu harus turut aktif mengemban tanggungjawab dalam peningkatan sumber daya manusia, yang dimana hal tersebut penting dilakukan agar bisa terus berbenah dalam memperbaiki dan membangun sistem pendidikan yang lebih baik lagi sesuai tantangan global (Surpi, N., K., 2017). Setiap orang akan bertanya-tanya, jenis pendidikan seperti apa yang bisa mengatasi permasalahan tersebut? Lantas, apakah dengan teknologi saja bisa mengatasi masalah pendidikan di Indonesia? Tentunya pertanyaan ini harus menjadi kajian penting dalam merancang strategi bagi lembaga pendidikan Hindu.

Salah satu kutipan dari Pahlawan kemerdekaan, Presiden pertama Republik Indonesia Bapak Ir. Soekarno menyebutkan, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kutipan tersebut merupakan sebuah motivasi yang mendorong pemuda Indonesia untuk melakukan perubahan besar. Pembangunan pemuda merupakan program penting bagi suatu bangsa karena pemuda merupakan aset terbesar sekaligus pemimpin perubahan yang membawa tumpuan sebuah harapan yang akan membawa bangsa ke arah yang lebih baik dan menegakkan kembali cita-cita bangsa (Widiatmaka, P., Pramusinto, A., & Kodiran, K., 2016).

Peran dan partisipasi pemuda sangat berpengaruh dalam pembangunan kesejahteraan masyarakat dan kemajuan bangsa (Masyiatul, M., 2020). Mempersiapkan generasi muda untuk menjadi pemimpin masa depan dapat dilakukan dengan mengikuti berbagai kegiatan pelatihan pendidikan kepemimpinan, serta berbagai organisasi kepemudaan seperti Sekaa Teruna Teruni (STT), Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah), Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI), dan organisasi kepemudaan lainnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Organisasi kepemudaan berasal dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat baik dari kaum laki-laki maupun perempuan (Ariyoga, I. N., 2020). Organisasi kepemudaan dituntut untuk menjalankan tugas tanggung jawab dan bukan hanya sekedar formalitas untuk mengikuti aktivitasnya saja. Pemuda-pemudi akan dibentuk untuk memiliki rasa saling memiliki dan solidaritas kekeluargaan, agar terciptanya rasa kebersamaan yang kuat sehingga aktivitas kepemudaan bisa berjalan sesuai yang diharapkan. Dengan adanya gotong royong dan komunikasi yang baik, maka tujuan-tujuan baik dari aktivitas yang dijalankan akan dapat terealisasi dengan maksimal serta berdampak positif terhadap lingkungan.

Organisasi kepemudaan Hindu dapat menjadi pilar dalam implementasi pendidikan Hindu berbasis modern. Belajar tentang pendidikan Agama Hindu di era seperti saat ini dirasa membosankan oleh anak-anak sekolah dasar karena dirasa monoton dan tidak menyenangkan (Adriasa, I. N. M., 2021). Padahal, pendidikan Hindu sangat penting untuk mereka dapatkan dan pahami agar tumbuh menjadi anak-anak yang berbudi pekerti. Maka dari itu, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat bakat belajar anak-anak yaitu dengan grand desain pendidikan berbasis Hindu dengan memanfaatkan media teknologi.

Pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan dapat dilakukan dengan membuat media edukasi seperti animasi kartun, yang dapat memfasilitasi belajar siswa dengan suasana belajar yang menyenangkan serta tidak monoton, sehingga siswa akan tertarik untuk belajar pendidikan Hindu. Media ini dapat diterapkan pada kegiatan formal maupun non formal, dengan harapan dapat dikembangkan sebagai sebuah rujukan untuk menerapkan IT sebagai media yang relevan pada era ini (Putri, A. I. V., Kuswandi, D., & Susilaningsih,, S. 2020). Salah satu pendidikan informal yaitu pasraman pendidikan Hindu di Bali. Pasraman ini mendidik anak-anak sekolah dasar untuk belajar tentang sejarah Hindu, membaca Doa, majejaitan, dan lain sebagainya namun dengan grand desain yang lebih modern seperti permainan edukasi, penayangan video animasi edukasi, pergi ke tempat-tempat budaya, dan sebagainya. Sehingga, dengan demikian anak-anak akan berfikir bahwa pasraman adalah hari yang ditunggu-tunggu karena terkesan menyenangkan dan tidak membosankan.

PENUTUP

Eksistensi pendidikan berbasis Hindu sangat ditentukan oleh karakter yang dimiliki masyarakatnya sendiri. Tidak hanya lembaga pendidikan Hindu saja, namun seluruh stake holder juga memiliki peran penting dalam mendukung upaya-upaya lembaga memajukan pendidikan Hindu. Memberikan ilmu dan mendidik karakter siswa bisa dimulai dari lingkungan keluarga, yang dimana keluarga merupakan rumah pertama yang akan mempersiapkan dan mengarahkan seorang penerus generasi ke arah yang baik sebelum berinteraksi dengan masyarakat luas. Sekolah menjadi rumah kedua setelah keluarga yang memberikan pendidikan formal dan dituntut untuk meng-upgrade metode-metode belajar agar para siswa bisa belajar dengan rasa nyaman dan menyenangkan, serta tidak membosankan. Masyarakat juga harus berperan aktif dalam memajukan pendidikan karena masyarakat sebagai pemangku kepentingan. Pendidikan tidak akan maju jika masyarakatnya belum memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan Hindu untuk siswa-siswi, dan seluruh masyarakat Hindu. Pemerintah juga menjadi pemangku kepentingan yang membuat dan mengatur sistem sebagai media penyerap aspirasi stakeholdernya. Dengan kerjasama dan komunikasi yang baik dari seluruh stakeholder, niscaya pendidikan Hindu kedepan akan semakin maju dan siap menghadapi tantangan global waktu demi waktu.

DAFTAR PUSTAKA

Adriasa, I. N. M. (2021). Penerapan Metode Bercerita dan Bernyanyi Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Agama Hindu Siswa Kelas III Semester I SD Negeri 1 Dukuh. Cetta: Jurnal Ilmu Pendidikan4(2), 232-245.

Ariyoga, I. N. (2020). Peranan Organisasi Sekaa Teruna Teruni Sebagai Media Komunikasi Kepemudaan Hindu. Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora2(2-3), 113-121.

Masyiatul, M. (2020). PERAN ORGANISASI KEPEMUDAAN DALAM MENANAMKAN NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DI DESA RANCAMAYA KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS (Doctoral dissertation, IAIN Purwokerto).

Nurjanah, M. A. (2020). Sejarah Perkembangan Ilmu. Al Qalam, 8(1).

Surpi, N. K. (2017). Hadapi tantangan global, Lembaga Pendidikan Hindu harus jadi gurukula modern. Jurnal Penjaminan Mutu3(2), 171-179.

Putri, A. I. V., Kuswandi, D., & Susilaningsih, S. (2020). Pengembangan Video Edukasi Kartun Animasi Materi Siklus Air untuk Memfasilitasi Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan, 3(4), 377-387

Saleh, S. (2016). Peran Lembaga Pendidikan Dalam Membentuk Karakter Bangsa. In Prosiding Seminar Nasional Himpunan Sarjana Ilmu-Ilmu Sosial (Vol. 2, pp. 101-112).

Tiwi, A. (2017). Essay Pendidikan Karakter, 3(2)      

Widiatmaka, P., Pramusinto, A., & Kodiran, K. (2016). Peran Organisasi Kepemudaan Dalam Membangun Karakter Pemuda Dan Implikasinya Terhadap Ketahanan Pribadi Pemuda (Studi Pada Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor di Kabupaten Sukoharjo Provinsi Jawa Tengah). Jurnal Ketahanan Nasional22(2), 180-198.

Share:

administrator