SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Oleh : I Dewa Gede Darma Permana

Kabid Litbang PC KMHDI Denpasar

            Galungan merupakan salah satu hari suci yang dirayakan oleh umat Hindu, khususnya di Indonesia. Hari suci ini dirayakan setiap 210 hari sekali, dimana selalu jatuh pada hari Rabu (Buddha) Kliwon, Wuku Dungulan menurut perhitungan Wariga (Penentuan Hari Baik-Buruk menurut Hindu). Diantara sekian banyaknya hari suci yang menjadi kepercayaan umat Hindu, Galungan menjadi salah satu hari yang paling spesial dan dinanti. Hal tersebut dikarenakan makna agung yang terkandung dalam hari suci Galungan, yaitu “Hari Kemenangan Dharma melawan Adharma.” atau ketika di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia utuh, mengandung arti sebagai hari memperingati kalahnya keangkamurkaaan di dunia oleh kekuatan kebenaran (Sudarsana, 2003: 57). Atas dasar tersebut tidak mengherankan, apabila dalam perayaan hari suci Galungan, selalu disertai perayaan meriah oleh umat Hindu dengan bukti berjejernya penjor di setiap kanan-depan pintu rumah. Penjor itu sendiri sebagai simbolisasi “pengastawa” atau wujud sembah syukur umat manusian kehadapan Tuhan Yang Maha Esa atas segala kemakmuran dan anugrah yang dilimpahkan oleh-Nya melalui hasil bumi.

            Pada bulan November tahun 2021 ini, ada yang cukup spesial dengan peringatan hari suci Galungan. Hal tersebut dikarenakan, hari suci Galungan yang jatuh tepat pada hari Rabu, tanggal 10 November 2021 menurut penanggalan masehi, berbarengan dengan peringatan Hari Pahlawan, yang diperingati oleh masyarakat Indonesia setiap tahun dalam lingkup nasional. Sebuah hari peringatan untuk mengenang jasa para pahlawan, yang telah berjasa bagi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sehingga, hasilnya masih bisa dirasakan oleh masyarakat Indonesia sampai sejauh ini. Dari segi tema, Kementerian Sosial (dalam Kemensos.go.id, 2021) telah mengumumkan sebuah tema Hari Pahlawan di tahun 2021 yakni “Pahlawanku Inspirasiku.”. Sebuah tema yang mengandung suatu pesan tersirat bagi masyarakat Indonesia, agar berkenan menjadikan Para Pahlawan Indonesia sebagai tokoh inspiratif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

            Menimbang hari suci Galungan yang jatuh berbarengan dengan peringatan Hari Pahlawan, tentunya menjadi suatu fenomena yang langka khususnya dalam perspektif umat Hindu di Indonesia. Mengapa disebut langka, karena fenomena tersebut akan sangat susah untuk dijumpai lagi pada kalender di tahun-tahun berikutnya. Untuk itulah sebagai sesuatu yang langka, mubazir rasanya apabila tidak ada suatu yang dapat digali dari fenomena tersebut. Terlebih sesuatu tersebut bisa menjadi hal yang dapat direfleksikan dalam diri.

Nilai Kepahlawanan dalam Sejarah Hari Suci Galungan

            Dari segi historis, hari suci Galungan adalah hari yang terbentuk dari sebuah konflik. Menurut Babad Raja-Raja Bali (Pulasari, 2010), diceritakan pada zaman dahulu wilayah Bali dikuasai oleh seorang raja bernama Mayadanawa yang berkedudukan di Bedahulu. Sebagai keturunan dari raja daitya Balingkang, Mayadanawa menjadi seorang raja yang sakti. Kesaktiannya tersebut didapatkannya dari pertapaan kepada Dewa Siwa, sehingga dirinya dapat dengan mudah menaklukan para musuh-musuhnya.

            Namun dengan kesaktiannya yang tidak tertandingi, Mayadanawa tumbuh menjadi raja yang durjana. Dirinya tidak segan untuk menyiksa, bahkan membunuh rakyat yang bertentangan dengannya. Puncak dari keangkamurkaannya adalah ketika melarang seluruh rakyat Bali pada saat itu untuk melaksanakan upacara dan menyembah Tuhan, menghancurkan pura-pura yang ada, dan memaksa rakyat untuk menyembah dirinya layaknya seorang Dewa. Hal tersebut menjadikan rakyat Bali hidup dalam ketakutan dan kesengsaraan.

            Melihat penderitaan rakyat Bali, seorang pendeta di Pura Agung Besakih bernama Mpu Sangkulputih menjadi iba. Dengan kekuatan mistiknya, Mpu Sangkulputih akhirnya melakukan tapa samadhi di Pura Agung Besakih untuk memohon petunjuk kepada para Dewata, agar berkenan memperbaiki kondisi di Bali pada saat itu. Dari hasil tapa Samadhi tersebut, Dewa Mahadewa akhirnya memberikan petunjuk kepada Mpu Sangkulputih agar berkenan meminta bantuan ke Jambu Dwipa, nama untuk India di masa itu.

            Berkat usaha Mpu Sangkulputih, bantuan dari Dewa Indra beserta pasukan-Nya akhirnya tiba ke Bali untuk mengalahkan Mayadanawa. Terjadilah perang besar diantara keduanya, yang pada akhirnya berakhir dengan kematian Mayadanawa di tangan Dewa Indra. Kematian Mayadanawa tersebut menjadikan rakyat Bali bisa hidup damai kembali, termasuk merayakan hari suci yang selama ini dilarang. Peristiwa tersebut kemudian diperingati oleh rakyat Bali sebagai hari suci Galungan, yaitu hari kemenangan Dharma (kebenaran) yang diwakili oleh Dewa Indra dan pasukan-Nya, melawan Adharma (ketidakbenaran) yang diwakili oleh Mayadanawa. Dari sejak itu pula, hari suci Galungan beserta rangkaiannya menjadi hari suci wajib yang dirayakan oleh umat Hindu sampai ke generasi saat ini.

            Berdasarkan cerita sejarah hari suci Galungan tersebut, ketika digali secara lebih mendalam terdapat sebuah nilai luhur yang bisa diperoleh untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan. Nilai tersebut adalah nilai kepahlawanan, suatu nilai yang mencerminkan sikap rela berkorban untuk menegakkan dan melindungi sesuatu yang dianggap berharga, salah satunya kebenaran. Nilai kepahlawanan ini ditunjukkan oleh Mpu Sangkulputih, Dewa Indra, dan pasukan-Nya untuk menyelamatkan rakyat Bali dari kekuasaan tirani raja Mayadanawa. Nilai kepahlawanan tersebut pula menjadi suatu refleksi dari tegaknya kebenaran dan hancurnya ketidakbenaran.

Momentum Merefleksikan Nilai Kepahlawanan sebagai Dasar Menegakkan Kebenaran

            Dari analisis tersebut bisa diketahui bahwa, perayaan hari suci Galungan tidak hanya mengandung nilai spiritualis yang didasari oleh ajaran agama, akan tetapi terdapat pula nilai kepahlawanan yang bisa diperoleh dari segi historis. Nilai kepahlawanan ini secara tidak langsung menghantarkan suatu pesan kepada umat Hindu masa kini, bahwa apabila ingin menegakkan suatu kebenaran, perjuangan extra bahkan sampai rela berkorban nyawa memang menjadi sebuah hal dasar yang mesti dipersiapkan dan dilakukan. Sehingga disamping berfokus pada usaha menegakkan kebenaran dari segi rohani, perayaan hari suci Galungan yang kebetulan pada bulan November tahun ini jatuh berbarengan dengan peringatan Hari Pahlawan (10 November), bisa menjadi suatu momentum umat Hindu khususnya di Indonesia, untuk menghilhami nilai kepahlawanan sebagai dasar dalam menegakkan kebenaran.

            Lebih lanjut ketika dihubungkan dengan problematika masa kini, sebenarnya masih banyak ketidakbenaran yang bisa ditemui setiap orang dalam kehidupan. Bahkan tidak jarang, siapapun bisa merubah dirinya sendiri menjadi Mayadanawa versi lite sewaktu-waktu tanpa mereka kehendaki dan sadari. Hal ini bisa tercermin dari beberapa perilaku menyimpang yang menjadi kebiasaan seperti; berbohong, berbuat curang, sering mengalpakan kewajiban, bersikap egois, dan tidak memiliki rasa empati kepada orang lain.

            Untuk itulah dari sana dapat disimpulkan bahwa, bertemunya hari suci Galungan dan peringatan Hari Pahlawan pada hari Rabu, 10 November 2021, bisa dimaknai oleh umat Hindu di Indonesia sebagai momentum untuk ber-mulat sarira/mengintrospeksi diri sendiri, serta berjuang sekuat tenaga dalam mengembangkan sikap berani, dan sikap rela berkorban sebagai ciri dari nilai kapahlawanan. Sehingga dari nilai kepahlawanan tersebut, mampu menjadi sebuah dasar untuk menegakkan kebenaran dalam diri sendiri dan juga untuk alam sekitar. Disamping itu, fenomena bertemunya hari suci agama dan peringatan hari nasional yang sedemikian rupa, juga mengandung sebuah pesan bahwasanya, hari suci Galungan tidak hanya berisi nilai spiritual untuk mempertahankan marwah ajaran agama Hindu saja, tetapi juga mengandung makna luas termasuk rasa nasionalisme serta patriotisme untuk diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara demi ajegnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

SUMBER REFERENSI

Sudarsana, I. B. Putu. 2003. Ajaran Agama Hindu Acara Agama Edisi II. Denpasar: Yayasan Dharma Acarya.

Pulasari, Jro Mangku. 2010. Babad Raja-Raja Bali: Terjemahan Bahasa Indonesia dan Teks Bahasa Bali. Surabaya: Paramita.

Kemensos.co.id, 2021. Logo Hari Pahlawan Tahun 2021, https://kemensos.go.id/logo-hari-pahlawan-tahun-2021 Diakses 8-November-2021.

Share:

administrator