SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Loading

Bangkok, kmhdi.org – Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) merupakan organisasi bernafaskan Hindu bertaraf nasional yang lahir atas kesadaran atas kewajiban mahasiswa Hindu untuk menunaikan tugasnya sebagai umat Hindu (dharma agama) dan warga negara Indonesia (dharma negara). Dalam menunaikan dharma (kewajiban) tersebut, KMHDI meyakini pendidikan dan kaderisasi merupakan jalan yang harus ditempuh. Melalui sistem pendidikan, KMHDI menempa dan melahirkan kader-kader mahasiswa Hindu berkualitas dengan harapan memiliki karakter diri religius, humanis, nasionalis, dan progresif yang sering kami sebut “Jati Diri KMHDI”. ( Hindu Youth Conference @World Hindu Congress 2023, Bangkok, Thailand )

Dalam gerakannya, KMHDI tidak hanya membatasi diri pada teritori negara Indonesia (nasional), namun juga bergerak pada tataran dunia (internasional). KMHDI menyadari bahwa dengan jumlah pemeluk di dunia sebesar 1,16 miliar, Hindu memiliki peran penting dalam mewujudkan dunia yang lebih adil, damai dan berkelanjutanKMHDI mempercayai bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Hindu dapat menjadi formulasi mewujudkan perdamaian dunia sesuai dengan amanat dari pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945).

Menghayati Ahimsa Sebagai Solusi Perdamaian Dunia

Terciptanya perdamaian dunia akan memberikan tempat tinggal yang nyaman bagi umat manusia. Namun realitas geopolitik hari ini mengatakan hal sebaliknya. Situasi dunia hari ini masih diwarnai konflik yang bertentangan dengan esensi dari kemanusiaan. Beberapa konflik kemanusiaan yang menyedot perhatian dunia, seperti kasus pembersihan etnis Rohingya di Myanmar tahun 2010, perang Rusia dan Ukraina yang gejalanya telah dimulai dari 2014 dan pecah sejak invansi Rusia pada Februari 2022 hingga hari ini, dan kembali meletus konflik tak berkesudahan antara Israel dan Palestina yang menewaskan ribuan warga sipil di kedua belah pihak. Sebagai generasi muda Hindu hari ini, kita menjadi saksi atas penderitaan yang tak henti-hentinya dan gangguan terhadap perdamaian yang dialami oleh saudara-saudara kita di belahan dunia lain. Konflik-konflik seperti ini berasal dari berbagai persoalan, mulai dari perselisihan wilayah hingga perjuangan untuk penentuan nasib sendiri di atas tanah yang diklaim secara sepihak. Hari ini masih terdapat begitu banyak konfik di dunia, bahkan mungkin saja konflik tersebut ada di sekitar kita. Oleh karena itu, dunia memerlukan tawaran gagasan untuk menyudahi berbagai konflik yang mengorbankan kemanusiaan. Karena perdamaian dunia adalah hal yang dirindukan oleh segenap umat manusia di dunia, tak peduli latar belakangnya.

Berangkat dari hal tersebut di atas, kami menyodorkan sebuah nilai yang kami yakini, dan bersumber dari jantung etos Hinduisme, yaitu Ahimsakonsepsi anti kekerasan, penindasan dan penjajahan—juga sebuah nilai yang pernah digunakan Mahatma Gandhi untuk melawan penjajahan Inggris di tanah India. Melihat dari sejarahnya, ajaran ini memiliki kekuatan yang tangguh dan teruji untuk menyudahi konflik-konflik di masa lalu—tentu tidak salah ketika kita sebagai generasi muda untuk menerapkan ajaran yang diwariskan oleh leluhur kepada kita. Ahimsa mengajarkan kita bahwa setiap tindakan kekerasan adalah luka bagi jiwa kolektif kemanusiaan dan setiap tindakan perdamaian adalah langkah menuju penyembuhan. Hindu dengan warisan spiritualnya yang dalam, mengajak kita untuk melihat lebih jauh dari sekadar ketiadaan perang menuju kehadiran perdamaian sejati—Santhi. Perdamaian ini dipupuk oleh pemahaman, kasih sayang, dan pengakuan atas ilahi (atman) di dalam diri makhluk hidup. Mahatma Gandhi telah memberikan tauladan kepada kita semua, bahwa selama masa perjuangan kemerdekaan India, Gandhi menerapkan ajaran yang mengutamakan kemanusiaan dalam perjuangannya. Satyagraha adalah salah satu contoh gerakan yang menunjukkan bahwa kekuatan kebenaran dan non-kekerasan dapat meruntuhkan kekuatan-kekuatan kolonial yang mengakar.

Ahimsa adalah konsep penting dalam agama Hindu. Nilai ini berasal dari kesusastraan Hindu, khususnya dalam Siva Siddhanta dan naskah suci Wrtisasana. Nilai ini bukan sekadar hanya tentang tidak membunuh, tetapi juga melarang perilaku, seperti menyiksa, bertindak bengis, berlaku kejam, berbuat sadis, merusak hidup, dan berbuat secara kekerasan. Naskah suci ini memberikan panduan bahwa perilaku yang mengganggu atau menyebabkan nyawa lainnya menjadi hilang, serta bertindak atas kemauan sendiri tanpa mengindahkan harga diri maupun nilai hidup bagi yang lainnya, dapat digolongkan ke dalam perilaku yang bertentangan dengan ajaran Ahimsa​​. Sebagai pemuda Hindu, kita adalah Pembawa Obor Dharma—kebenaran dan tatanan moral. Ini adalah kewajiban suci kita untuk menumbuhkan dunia di mana kebebasan, keadilan dan solidaritas antar bangsa bukan hanya idealisme, tetapi realitas yang harus dihidupkan kembali. Di setiap sudut dunia, kita harus menjadi pelopor perdamaian, bersenjatakan kebijaksanaan.

Pendidikan Sebagai Jalan Mewujudkan Masa Depan Dunia

Dalam kanvas kehidupan yang luas, pendidikan menjadi medium bagi terhubungnya benang-benang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Pendidikan membentuk esensi evolusi manusia dan membangun harapan perkembangan kemanusiaan. Namun di tengah kehidupan yang jauh dari kondisi ideal ini, sangatlah mudah bagi kita untuk menyaksikan bahwa masalah pendidikan adalah masalah kita bersama. Tidak hanya di ruang lingkup satu negara, tetapi juga dalam ruang lingkup internasional. Tidak meratanya kecakapan literasi, rendahnya kualitas infrastruktur pendidikan (seperti: tenaga pendidik hingga kurikulumnya) masih menjadi masalah besar yang menjadi fokus banyak negara hingga saat ini. Mengutip data dari World Bank, terdapat sekitar 57% anak-anak di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah yang tidak dapat membaca dan memahami teks dasar pada usia 10 tahun. Lebih jauh, permasalahan pendidikan menjadi semakin kompleks ketika pandemi covid-19 melanda dunia. Pandemi ini mendorong tingkat kemiskinan belajar hingga mendekati 70%. Pandemi menyebabkan penutupan sekolah yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh dunia dan memberi dampak kepada lebih dari 1,6 miliar siswa. Pembelajaran jarak jauh diterapkan, namun kualitas dan jangkauannya sangat bervariasi dan hanya merupakan pengganti sebagian dari pembelajaran tatap muka.

Kondisi pendidikan tersebut tentu memberi dampak signifikan terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM). Semakin sulitnya akses pendidikan yang diakibatkan oleh Pandemi covid-19 memberi dampak pada anjloknya kualitas (SDM) dunia. Hal ini tentu menjadi sebuah ironi ketika pendidikan seharusnya menjadi ujung tombak bagi pembangunan dan peningkatan kualitas hidup manusia. Benua Asia sebagai ruang hidup bagi sebagian besar pemeluk Hindu dunia pun menghadapi persoalan yang begitu kompleks khususnya di bidang pendidikan. Dapat dikatakan kualitas pendidikan di Asia masih berada di belakang benua lain, seperti Eropa dan Amerika. Hingga hari ini, banyak umat Hindu yang tidak bisa mengakses pendidikan berkualitas, sebut saja Indonesia. Sebuah negara dengan penduduk Hindu lebih dari 10 juta jiwa pun masih banyak umat Hindu terutama yang tinggal di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) harus menghadapi realitas bahwa pendidikan dan fasilitas pendidikan yang mereka terima hanya ala kadarnya. Tidak meratanya penerimaan pendidikan berkualitas menjadi salah satu faktor yang menyebabkan umat Hindu dunia belum bisa berkontribusi terlalu jauh dalam pembangunan dunia. Oleh sebab itu sebagai generasi muda Hindu, kita harus meyakini bahwa pendidikan menjadi jalan penting dan strategis yang harus dipilih sebagai kunci dalam peningkatan kualitas dan kapasitas diri. Pemerataan kualitas pendidikan yang diterima oleh generasi muda Hindu secara tidak langsung akan memberi dampak signifikan. Tidak hanya bagi umat Hindu, tetapi juga bagi peradaban dunia.

Sebagai agama tertua atau sering disebut sebagai “Sanatana Dharma” atau Agama yang abadi, Hindu harus tetap menjadi obor yang menerangi dunia dari kabut gelap adharma. Dan sudah barang tentu yang mengambil tugas untuk memegang obor penerang itu adalah generasi muda Hindu.  Hal ini juga selaras dengan pesan dari Sarasamuscaya 27 yang berbunyi:

“Yuiva dharmamanvicched yuva vittam yuva srutam Tirtyyagbhavati dharbha utpatam na cavidyati”

Artinya:

karenanya perilaku seserang hendaklah digunakan sebaik-baiknya ketika masih muda, sebab selagi badan sedang kuat-kuatnya, maka sebaiknya digunakan untuk usaha menuntut dharma, artha, dan ilmu pengetahuan, sebab kekuatan orang tua tidak sama dengan kekuatan orang muda seperti ilalang yang sudah tua itu menjadi rebah, dan ujungnya tidak tajam lagi”.

Dalam upaya memeratakan dan meningkatkan akses pendidikan yang berkualitas, generasi muda Hindu percaya bahwa posisi sentral dalam rekonstruksi paradigma pendidikan dipegang oleh seorang Guru. Seorang Guru yang merupakan penghilang (ru) kegelapan (gu). Guru, adalah konsep yang sangat mendarah daging dalam filsafat Hindu.

“Gurur Brahmā Gurur Viṣṇur Gurur devo Maheśvara Guru sākāt para Brahma tasmai śrī gurave nama

Guru Mantra yang menerangkan bahwa Guru adalah Brahma, Wisnu, Maheswara, yang mengartikan begitu agungnya posisi seorang guru dalam pendidikan dan merangkum penghormatan bagi mereka yang memberi pengetahuan, beresonansi dengan ide bahwa seorang guru bukan sekadar pendidik tetapi cahaya pemandu yang menghilangkan kegelapan kebodohan. Dunia pendidikan dalam sejarah agama Hindu sesungguhnya sudah ada dan berkembang sejak ribuan tahun yang lalu. Sistem pendidikan pada masa itu menggunakan sebuah sistem pendidikan yang dikenal sebagai “Parampara”. Hal ini sebagaimana sabda Sri Krisna yang dijelaskan pada Kitab Suci Bhagavad Gita IV.2 Wahai arjuna, demikianlah (ajaranku/yoga) diteruskan secara turun temurun melalui parampara, para raja, rsi mengetahuinya, ajaran ini lenyap di dunia bersamaan dengan berlalunya masa yang amat panjang.

Dalam sloka di atas sangat jelas bahwa sejak dahulu kala pendidikan dalam Hindu menggunakan sistem perguruan Veda yang disebut Parampara. Sistem ini dilaksanakan dengan caraPengasraman” yang berasal dari bahasa sansekerta, yakni: “asrama” yang memiliki arti tempat pemondokan untuk para pertapa. Secara historis model pendidikan asrama dalam masyarakat Hindu memiliki akar tradisi yang sangat tua dan lebih tua dibandingkan dengan model sekolah. Sejak lampau, Hindu mengenal sistem pendidikan tradisional yang disebut dengan pasraman, ashram, padukuhan, atau gurukula.

Pendidikan Hindu dilaksanakan melalui sistem asrama. Agama Hindu mengenal konsep ini dalam ajaran Catur Asrama. Dalam Kitab Agastya Parwa disebutkan bahwa Catur Asrama adalah empat jenjang hidup yang berdasarkan petunjuk kerohanian. Empat jenjang hidup tersebut terdiri dari beberapa masa seperti Brahmacari, Grahasta, Vanaprasta dan Bhiksuka atau Sanyasa. Dari empat jenjang kehidupan ini atau pada masa brahmacari inilah masa dimana seseorang harus menuntut ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya.

Pada masa Brahmacari atau masa pendidikan ini, seorang murid (sisya) diasuh oleh seorang guru (acarya) guna mencapai tujuan pendidikan Hindu, yaitu menjadikan orang lebih dewasa. Kata dewasa berasal dari bahasa sansekertadewasya” yang berarti mempunyai sifat kedewataan (daiwi sampad). Dewa merupakan sinar suci Tuhan. Oleh karena itu, orang yang mempunyai sifat kedewataan akan mempunyai kecemerlangan dalam segala hal.

Berlandaskan atas semangat membawa Obor penerang di tengah kabut gelap adharma, kami KMHDI mengajak seluruh generasi muda Hindu dunia untuk bersama-sama bergerak untuk meningkatkan kualitas pendidikan, salah satu caranya adalah melakukan pemberdayaan optimal terhadap peran seorang Guru yang merupakan arsitek intelek dan jiwa, membentuk pikiran dan menanamkan kebijaksanaan yang melampaui batas-batas ruang kelas—tentu dengan memberikan jaminan yang layak terhadap peran besar seorang Guru.

Tri Hita Karana Sebagai Konsep Atasi Perubahan Iklim Dunia

Tahun 2022 menjadi momentum bencana iklim ekstrem. Suhu bumi yang memecahkan rekor—kemudian berdampak pada kekeringan berkepanjangan, banjir dahsyat, dan badai yang terjadi tidak hanya di Indonesia. Banyak rumah dan lahan pertanian yang terendam banjir, seperti di Sudan Selatan, yang mencerminkan dampak akut perubahan iklim. Afrika mengalami kekeringan terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Kekeringan tersebut menghancurkan mata pencaharian dan menyebabkan kelaparan parah, khususnya di Kenya. Selain itu, 19 (sembilan belas) negara di Afrika Barat terkena dampak banjir besar, dan sepertiga wilayah Pakistan terendam air. Minggu pertama tahun 2023 juga menjadi minggu terburuk bagi banyak negara-negara di Eropa, karena momen tersebut di Benua tersebut mengalami hari terpanas di bulan Januari yang pernah tercatat. Peristiwa-peristiwa ini menjadi pertanda-pertanda penting bahwa umat manusia harus sesegera mungkin melahirkan solusi-solusi strategis bagi perubahan iklim ekstrem yang terjadi di seluruh pelosok dunia.

Krisis air yang melanda berbagai negara di dunia adalah salah satu dampak serius yang diakibatkan oleh perubahan iklim—UN World Water Development Report 2023 telah memperingatkan krisis air yang akan segera terjadi secara global. Saat ini dua hingga tiga miliar orang mengalami kekurangan air dan hal ini diperkirakan akan semakin parah, terutama di wilayah perkotaan. Laporan tersebut menyoroti bahwa 2 miliar orang tidak memiliki air minum yang aman dan 3,6 miliar orang tidak memiliki akses terhadap sanitasi yang dikelola dengan aman. Populasi perkotaan global yang menghadapi kelangkaan air diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2050. Kekeringan ekstrem akan meningkatkan tekanan pada ekosistem. Kebutuhan akan mekanisme internasional yang kuat untuk mencegah krisis air semakin parah sangatlah penting, karena hampir setiap intervensi terkait air memerlukan kerja sama. Contoh keberhasilan kerja sama internasional adalah dana air, seperti Monterrey Water Fund di Meksiko yang menjaga kualitas air dan merehabilitasi habitat alami melalui pembiayaan bersama.

Selain itu, KMHDI juga memandang bahwa dunia sudah jauh dari jalur untuk memenuhi janji mengakhiri deforestasi pada tahun 2030. Berdasarkan pantauan Reuters, pada tahun 2022 tingkat deforestasi ternyata meningkat sebesar 4% dibandingkan tahun sebelumnya dengan kerusakan sekitar 66.000 kilometer persegi. Upaya untuk melestarikan hutan tropis tua 33% tidak berjalan sesuai rencana, dengan hilangnya 4,1 juta hektar pada tahun 2022. Degradasi hutan yang disebabkan oleh penebangan kayu, penggembalaan ternak, dan pembangunan jalan, juga menjadi perhatian utama. Namun, terdapat kemajuan di beberapa wilayah; Brasil, Indonesia, dan Malaysia telah menunjukkan penurunan deforestasi secara drastis, yang menunjukkan bahwa penegakan hukum yang baik dapat menghasilkan perbaikan lingkungan yang signifikan.

Di era perubahan iklim yang semakin tak terkendali, krisis air yang mendesak, dan deforestasi yang tak terbendung, dunia kita berdiri di tepian jurang kehancuran ekologis. Sebagai bagian dari pemuda Hindu, KMHDI memandang ini bukan hanya sebagai tantangan, sekaligus kesempatan yang baik untuk menerapkan kearifan kuno dalam mengatasi masalah kontemporer. Kami menawarkan sebuah konsep yang kami yakini, yaitu Tri Hita Karanafilosofi Hindu Bali yang mendasar, menawarkan kepada kita metode bagi solusi lingkungan yang holistik dan inklusif. Tri Hita Karana memiliki arti tiga penyebab kebahagiaan, mengajarkan kepada kita untuk menciptakan harmonisasi dalam tiga aspek kehidupan: Parahyangan (hubungan manusia dengan Tuhan), Pawongan (hubungan antarmanusia), dan Palemahan (hubungan manusia dengan lingkungan). Di tengah krisis lingkungan global, konsep ini menunjukkan jalan keluar yang elegan dan efektif.

Parahyangan, merupakan sebuah komitmen manusia terhadap sang pencipta (Tuhan) dalam menjalani hidup sesuai dengan ajaran-ajaran yang telah diturunkannya ke muka bumi. Pawongan, sebagai inti dari esai ini menekankan pentingnya solidaritas d kota an harmoni antar manusia—sehingga apabila harmoni antar manusia terjalin, maka konflik-konflik kemanusiaan yang hingga hari ini masih berlangsung bisa mereda dan mampu menciptakan perdamaian dunia. Selanjutnya adalah Palemahan, yang menekankan manusia untuk menjaga hubungan yang harmonis dengan alam. Artinya bahwa manusia harus memperlakukan alam sekitarnya dengan baik seperti memperlakukan diri sendiri atau orang-orang yang disayangi. Sehingga perilaku-perilaku yang dapat berdampak pada kerusakan lingkungan dapat diminimalisir—mampulah kita mewarisi alam yang layak kepada generasi penerus. Tri Hita Karana juga menuntut kita untuk bekerja sama, melewati batas-batas geografis, budaya, dan politik, untuk menciptakan solusi yang adil dan inklusif. Peran kita sebagai pemuda Hindu adalah menjadi katalisator dalam membangun kerja sama ini, menerapkan nilai-nilai yang mengajarkan kita untuk melihat divinitas dalam setiap makhluk hidup dan beraksi untuk melindungi rumah kita bersama, Bumi. Dalam praktiknya, nilai Hindu seperti Dharma (Tugas dan Kebenaran), Ahimsa (Non-Kekerasan), serta Tri Hita Karana (Tiga Penyebab Kebahagiaan) memperkuat komitmen kita terhadap kemanusiaan dan lingkungan. Dharma menyerukan tindakan etis kita terhadap Bumi, Ahimsa mendorong kita untuk saling menghargai sesama manusia sekaligus mendorong perdamaian dunia, dan Tri Hita Karana mampu mendorong langkah dalam mengurangi jejak karbon kita dan menghentikan kerusakan terhadap alam.

Komunitas Hindu di berbagai belahan dunia telah bergerak. Mulai dari menanam pohon, membersihkan sungai, dan mempromosikan gaya hidup yang berkelanjutan. Inisiatif seperti ‘Bhumi Project’ yang berkolaborasi dengan organisasi lingkungan global adalah contoh bagaimana kita bisa memperluas pengaruh positif kita. Proyek ini, bersama dengan banyak lainnya menunjukkan bagaimana generasi muda Hindu dapat dan harus menjadi pelopor dalam memperjuangkan keberlanjutan dan keadilan lingkungan. Kita, sebagai generasi muda Hindu, dibekali dengan warisan kebijaksanaan yang kaya. Saatnya kita memanfaatkannya, bukan hanya untuk kesejahteraan kita sendiri, tetapi untuk planet yang kita huni. Dengan menggabungkan prinsip Tri Hita Karana, kita dapat menghadirkan solusi yang seimbang dan inklusif, menegaskan kembali peran kita sebagai pelindung Bumi. Mari kita bersatu, dengan kekuatan nilai-nilai kita, untuk menjadi suara perubahan yang hari ini sangatlah dibutuhkan oleh dunia.

Penutup

Konflik tak berkesudahan yang mengakibatkan krisis kemanusiaan sekaligus krisis lingkungan mendesak umat manusia untuk segera memberikan solusi terhadap permasalahan kompleks yang dihadapi. Memandang hal ini, kita sebagai generasi muda Hindu harus menjadi pelopor dalam pembangunan dunia melalui nilai-nilai luhur agama Hindu demi menjadi lokomotif gerakan di dunia. Luhurnya nilai-nilai ajaran Ahimsa dapat digunakan untuk memimpin gerakan perdamaian dan keberlanjutan—seperti halnya yang pernah dilakukan oleh Mahatma Gandhi, salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia pada masanya. Selain berupaya untuk berpartisipasi aktif dalam menciptakan perdamaian dunia, kita sebagai generasi muda Hindu juga harus berpartisipasi aktif dalam penguatan sekaligus peningkatan SDM dunia, salah satunya melalui penddikan. Aspek pendidikan harus menjadi pondasi dasar yang kokoh dan memberi jalan bagi generasi-generasi emas semua bangsa dalam membangun peradaban dunia. Di samping itu, konsep Tri Hita Karana harus menjadi pegangan bagi umat manusia di dunia dalam rangka menciptakan harmoni antara manusia, lingkungan, dan keilahian.

Marilah kita bersatu dan berkolaborasi, menjadikan nilai-nilai luhur Hindu sebagai pondasi untuk membangun dunia yang lebih adil, damai, dan lestari bagi semua.

.

SATYAM EVA JAYATE!

Share:

administrator