SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Loading

Buleleng, kmhdi.org – Komunikasi menjadi peran penting dalam menjalankan roda organisasi. Komunikasi dalam sebuah organisasi terjalin antar individu dalam sebuah organisasi untuk menyampaikan dan menerima informasi yang terjadi dalam situasi formal maupun informal organisasi. Komunikasi formal dalam organisasi menekankan komunikasi individu dengan organisasi tertentu, sehingga seseorang dalam menyampaikan pesan terbatas pada ruang lingkup organisasi itu sendiri. Sedangkan komunikasi informal terbatas pada komunikasi antar individu yang tergabung dalam sebuah organisasi.

Dalam sebuah organisasi biasanya menggunakan komunikasi Vertikal dan Horizontal. Komunikasi vertikal merupakan komunikasi yang mengalir dari jabatan yang lebih tinggi ke jabatan yang lebih rendah, begitu pula sebaliknya komunikasi dari jabatan yang lebih rendah ke jabatan yang lebih tinggi. Komunikasi vertikal dari jabatan yang lebih tinggi ke jabatan yang lebih rendah biasanya memberikan suatu perintah untuk menjalankan roda organisasi/tugas dan wewenang ke jabatan yang lebih rendah, kemudian komunikasi vertikal dari jabatan yang lebih rendah ke jabatan yang lebih tinggi merupakan respon yang diberikan oleh jabatan yang lebih rendah atas arahan yang diberikan oleh jabatan yang lebih tinggi. Komunikasi vertikal ini pada Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) biasa disebut dengan garis instruksi yang merujuk pada hubungan kerja dengan pola perintah atau instruksi yang disampaikan dari pimpinan kepada bawahan dalam rangka pelaksanaan tugas dan wewenang sesuai mekanisme yang berlaku.

Sedangkan komunikasi horizontal merupakan komunikasi yang mengedepankan pada komunikasi yang terjalin dari individu yang berada pada posisi atau jabatan yang setara atau sederajat / pada level yang sama. Komunikasi horizontal memiliki fungsi untuk memperlancar informasi dalam menjalankan aktivitas organisasi dan untuk mencapai koordinasi yang tepat pada tugas-tugas yang dilaksanakan. Komunikasi horizontal ini pada Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) biasa disebut dengan Garis Koordinasi di mana garis koordinasi ini diterjemahkan sebagai hubungan kerja sama atau koordinasi antara beberapa badan yang posisinya sama atau sejajar.

Saya merupakan kader baru KMHDI, saya tergabung di Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Buleleng (PC KMHDI Buleleng). PC KMHDI Buleleng menjadi salah satu organisasi yang menjalankan roda organisasi dengan komunikasi yang efektif. Sebagai kader baru KMHDI, Saya menilai alur komunikasi yang terjadi sesuai dengan Garis Instruksi dan Garis Koordinasi sesuai dengan pedoman KMHDI itu sendiri. Komunikasi dikemas dengan memberikan ruang kepada kader- kader baru untuk terlibat langsung dalam mengambil keputusan. Perintah yang diberikan Ketua selaku pemimpin organisasi diberikan beruntun kepada bawahannya, baik dari Sekretaris, Bendahara, setiap Ketua Bidang, serta anggota pengurus PC KMHDI Buleleng.

Perjalanan organisasi tidak semata akan terus berjalan mulus, kita berkomunikasi dengan berbagi karakter dan sifat seseorang, sudah tentu akan terdapat konflik yang terjadi saat menjalankan roda organisasi itu sendiri. Komunikasi yang efektif bukan berarti tidak menghadirkan konflik di dalamnya. Banyak konflik yang terjadi di organisasi ini. 

Tidak hanya di PC KMHDI Buleleng, saya memandang bahwa di dalam KMHDI secara menyeluruh terdapat konflik yang terjadi, mulai dari Pimpinan Pusat, Pimpinan Daerah serta Pimpinan Cabang yang ada di daerah. Menurut saya konflik yang terjadi tentunya dikarenakan jalannya komunikasi formal maupun informal yang tidak berjalan dengan baik. Sejauh ini menurut hemat saya, konflik yang terjadi di KMHDI dikarenakan konflik komunikasi formal yang berkelanjutan. Seharusnya, ketegangan yang terjadi saat komunikasi formal itu dapat di hilangkan dengan komunikasi informal yang mengakarkan identitas kita sebagai umat Hindu.

Konflik formal yang berkelanjutan itu terjadi karena momentum pertemuan kader KMHDI yang lebih cenderung pada momen-momen formal saja. Sehingga minimnya komunikasi informal antar kader KMHDI mengakibatkan sedikitnya ikatan emosional yang dapat mengkomunikasikan karakter masing-masing kader KMHDI. Sehingga menurut hemat saya, apabila komunikasi formal pada KMHDI yang membahas tentang organisasi yang di imbangi dengan komunikasi informal akan tidak membatasi jarak antar kader KMHDI. Sehingga konflik formal organisasi akan di redam dengan komunikasi informal kita. Sehingga konflik formal akan selesai pada situasi formal itu saja, tidak mengarah pada diri pribadi masing – masing kader KMHDI. Karena kita harus mengingat bahwa kita di rumah KMHDI ini merupakan generasi Hindu yang di satukan bukan di pertemukan untuk saling menjatuhkan.

Penulis : Komang Widya Sastri (Anggota Bidang Kaderisasi PC KMHDI Buleleng)

Share:

administrator