SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Oleh: Litbang PC KMDHI Badung

Mengapa Harus Tahu Entrepreneurship?

Pada era disrupsi/digital dewasa ini kita harus sadari bahwa tidak ada yang bisa bertahan tanpa melakukan adaptasi, kolaborasi dan modernisasi, karena arus perkembangan digitalisasi merupakan isu serius yang harus dihadapi bersama. Selain itu, gelombang bonus demografi juga memberi ancaman tak kalah serius terhadap perkembangan suatu negara. Langkah pasti yang bisa kita lakukan untuk menghadapi dua hal itu adalah membangun kesadaran entrepreneur kepada kaum muda. Intinya, entrepreneurship (kewirausahaan) adalah penerapan kreativitas dan keinovasian untuk memecahkan permasalahan dan upaya pemanfaatan peluang-peluang yang dihadapi.

Spirit Entrepreneur

Dalam menjiwai kewirausahaan, kita sebagai masyarakat Indonesia yang berpedoman pada Ketuhanan Yang Maha Esa, kita mempercayai bahwa ada entitas tertinggi yang menjadi sebab akibat dari segalah hal yang sudah-sedang-akan terjadi. Mempercayai entrepreneurship sebagai swadharma akan menumbuhkan kepercayaan kita kepada karma phala yang dalam catur purusa artha merupakan salah satu aspek tujuan hidup manusia. Sehingga dengan entrepreneurship kita bisa mewujudkan kesejahteraan dunia (jagadhita).

Bergerak Sebagai Hindupreneur

Patut kita sadari bahwa kondisi keumatan, khususnya umat Hindu Dharma merupakan satu hal penting yang wajib diperhatikan umat Hindu di Indonesia itu sendiri. Dari sisi ketahanan ekonomi umat, kita harus memikirkan bagaimana supaya umat Hindu Dharma di Bali, khususnya Badung mampu berdiri di kaki sendiri (berdikari) secara ekonomi. Standar berdikari ini akan terlihat ketika yang menjadi produsen adalah warga Badung, mengingat hari ini warga Badung dominan menjadi konsumen. Tentu aspek ketahanan ekonomi umat ini juga akan memberi pengaruh pada kesejahteraan ekonominya, sehingga umat di Badung mampu mempertahankan tanah leluhurnya tetap utuh dan menangkis pengikisan budaya akibat dari ketidaksejahteraan ekonomi. Selain dari aspek ekonomi, kita juga harus melihat sisi sosio-religi umat Hindu yang semakin lama semakin menghadapi banyak tantangan. Salah satu tantangan sosio-religi umat Hindu adalah era digital. Tak salah jika mulai banyak adaptasi kegiatan spiritual yang dilaksanakan secara daring, selain respon atas pandemi covid-19, hal ini juga bagian dari hasil beradaptasi di tengah arus digitalisasi yang begitu kencang. Hal yang menjadi tantangan kita hari ini adalah bagaimana perubahan yang terjadi tidak menggerus nilai fundamental dalam beragama dan melaksanakan kegiatan spiritual.

Banyak permasalahan masyarakat dan umat di Badung yang dapat diselesaikan dengan cara menumbuhkan kesadaran entrepreneurship pada generasi muda Hindu sebagai penerus di masa depan. PC KMHDI Badung dengan program Kamis Religi menyediakan wadah untuk berdialog membahas masalah, kondisi dan solusi dari situasi keumatan Hindu di Badung.

Become A Young Entrepreneur (Menjadi Seorang Wirausaha Muda)

Sudah saatnya pemuda-pemuda menyiapkan diri untuk menjadi wirausaha muda yang kreatif, mandiri dan inovatif. Era dirupsi/digital cukup untuk menyadarkan kita bahwa pemuda merupakan corong utama yang akan membawa perubahan dalam segala bidang. Khususnya dalam bidang kewirausahaan, basis pemuda yang menjadi isu bonus demografi dituntut untuk memiliki pola pikir dan pola hidup lebih maju agar tidak tergilas oleh perubahan zaman. Bonus demografi juga mewajibkan wirausaha muda untuk berkolaborasi, sehingga akan tercipta jejaring wirausaha yang terhubung satu sama lain. Banyak hal yang perlu dipahami pemuda untuk menjadi wirausaha muda yang kreatif, mandiri dan inovatif, diantaranya:

  1. Growth Mindset (Pola Pikir Berkembang)

Carol S. Dweck dalam bukunya “MINDSET, The New Psychology of Success” membagi pola pikir manusia menjadi dua, yakni fixed mindset dan growth mindset. Fixed mindset adalah pola pikir yang meyakini bahwa potensi seseorang dibatasi oleh kemampuan/bakat yang terbawa sejak lahir. Sedangkan growth mindset adalah pola pikir yang meyakini bahwa kemampuan dasar seseorang berpotensi dikembangkan seiring dengan dedikasi dan kerja keras yang dilakukan. Memiliki growth mindset adalah tahap awal yang diperlukan seorang wirausaha. Di era disrupsi dimana perubahan besar besaran terjadi pada segala lini, bakat hanya menjadi faktor awal dalam meniti kesuksesan. Hal yang menjadi penentu utama adalah kemampuan yang terus dilatih dan dikembangkan, seperti dalam petuah bahasa Bali “yadin ririh, enu liu pelajahin” (walau pintar, masih banyak yang perlu dipelajari). Sehingga etos berlatih dan belajar dapat menimbulkan nilai pembeda antara seseorang dan orang lainnya. Nilai pembeda inilah yang menjadi nilai tawar seseorang mampu berkembang pada setiap masa.

  • Win or Die (Menang atau Mati)

I Ketut Rai Mahajony, Ketua Bali UMKM Crisis Centre selaku narasumber dalam program “Dialog Hindupreneur Talk” yang diselenggarakan oleh PC KMHDI Badung menyampaikan bahwa saat ini pemuda memiliki dua pilihan: menang, atau mati. Ia menyampaikan tidak ada kesempatan untuk kalah dan mencoba lagi. Namun, kemenangan ini ada dalam bentuk kolaborasi, bukan kompetisi. Yang kita hadapi saat ini adalah sebuah perubahan dan perkembangan yang begitu cepat, kolaborasi akan menjadi faktor utama kita mencapai kecepatan perubahan zaman, sehingga hanya dengan kolaborasi kita dapat meraih kemenangan. Seperti dalam adagium Jawa “menang tanpo ngarosake” (menang tanpa menjatuhkan). Di Bali, nilai kolaborasi ini sudah dimiliki sejak lama dalam petuah “sagilik-saguluk salunglung sabayantaka, paras-paros sarpanaya, saling asah,asih,asuh” (bersatu-padu, saling menghargai pendapat, saling mengingatkan, saling mengasihi, saling membantu).

  • Opportunity Oriented (Orientasi Peluang)

Berorientasi pada peluang juga merupakan salah satu langkah menyiapkan diri menjadi seorang wirausaha. Berorientasi peluang artinya kemampuan untuk melihat dunia ini penuh dengan peluang, bagaimana kita sebagai agen perubahan memungkinkan membuat dan/atau mengakses peluang dan belajar bagaimana optimisme mampu membalikkan tantangan dan kegagalan menjadi kemungkinan dan peluang. Kita harus menyadari bahwa pandemi covid19 membuktikan bahwa Bali tidak bisa hanya berpegang pada sektor pariwisata, baik pariwisata alam maupun pariwisata budaya. Karena dalam menghadapi kondisi Bali ke depan dibutuhkan banyak wirausahawan/wirausahawati yang mampu menghadirkan peluang guna menyokong kelestarian pulau dan kesejahteraan masyarakat Bali.

Himpun Gagasan Entrepreneur Untuk Capai Perubahan

Tahun 2022 akan menjadi tahun yang serba tidak pasti. Sebagai rakyat Indonesia yang memiliki semangat kemerdekaan dan perjuangan gotong-royong, kolaborasi setiap elemen, baik elemen mahasiswa, tokoh-tokoh masyarakat, tenaga-tenaga pendidik, hingga pemerintah akan sangat dibutuhkan dalam menciptakan seluas-luasnya peluang untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama. Tidak cukup gagasan hanya dari satu kalangan saja, dan tidak cukup perubahan hanya dari satu kegiatan saja. Satu adalah jumlah untuk mengawali gerakan bersama. Bersama KMHDI, mari hadapi era disrupsi dan bonus demografi wujudkan terciptanya wirausaha-wirausaha muda yang kreatif, mandiri dan inovatif. Masa emas adalah milik kita, generasi muda.

Share:

administrator