SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT KMHDI

Sekretariat Operasional (Surat Menyurat):
Jalan Kakatua Blok AA No. 14 Perumahan Cipinang Indah II, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur 13430
* Fax. : 021 – 86600779
Sekretariat Domisili :
Jalan Anggrek Nelly Murni Blok A No. 03, RT/RW 02/03 ,
Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah – Jakarta Barat 11480

Bangli, kmhdi.org – Aktualisasi Rahina Galungan dan Kuningan, Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PC KMHDI) Bangli gelar Ngobrol dan Mengoreksi Informasi (Ngoreksi) episode 6 dengan menghadirkan I Putu Wirayasa Prajadhita dan I Gede Mardi Yasa sebagai pemantik serta Ni Wayan Wina Juniantari sebagai moderator pada Sabtu (13/11).

Tampak berbeda pada Ngoreksi Episode 6 ini, yang biasanya dilaksankan online karena Pandemi covid-19, namun kini diadakan secara luring dengan tetap mematuhi prokes di Gedung Adi Widya Pesraman Gurukula Bangli.

Mengusung tema “Kebudayaan sebagai Pedagogi Kini dan Nanti“ diskusi ini bertujuan untuk mengingatkan kembali generasi muda Hindu tentang kebudayaan yang tanpa kita sadari sangat luas ruang lingkupnya.

Ni Komang Mahadhiyastiti selaku Ketua Forum Alumni (FA) KMHDI Bangli yang hadir dalam kegiatan sangat mengapresiasi Ngoreksi karena dapat memberikan dampak yang sangat bagus terkhusus pada generasi muda Hindu.

“Kegiatan ini adalah kegiatan yang sangat memberikan dampak positif bagi generasi muda karena tentu kita sebagai generasi muda harus tetap melestarikan kebudayaan agar nantinya bisa meneruskan kelestarian kebudayaan yang ada di Indonesia khususnya kebudayaan Bali,” Ucap Ketua FA KMHDI Bangli dalam sambutannya.

Antusias keikutsertaan peserta dalam diskusi sangat luarbiasa, mulai dari munculnya pertanyaan-pertanyaan yang dikumandangkan membuat diskusi semakin seru. Salah satunya sahabat kader PC KMHDI Tabanan, Bung Merta bertanya tentang aturan saat kita sembahyang ke Pura.

“Mengapa saat ini masih ada pelanggaran-pelanggaran aturan ke pura?”  ucapnya

I Gede Mardi  Yasa selaku pemantik dalam diskusi ini menanggapi bahwa sebagai generasi muda Hindu, kita harus tetap memperhatikan dan memahami tentang makna-makna yang sebenarnya dalam ajaran agama Hindu agar tidak salah persepsi.

“Hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat dan kurangnya pemahaman bagaimana pencerminan diri yang baik dalam berpakaian ataupun beretika yang baik dan sopan di Pura” ungkap pemuda asal Kintamani itu.

Diskusipun diakhiri dengan penyerahan sertifikat kepada pemantik dan moderator oleh sekretaris panitia yang dilanjutkan dengan sesi foto bersama.

Share:

administrator