Kupang, kmhdi.org – Rumah ibadah tertua umat Hindu Kota Kupang, Pura Oebanantha telah menghadapi tantangan yang berkepanjangan dikarenakan akibat masalah aksesibilitas jalan masuk. Selama bertahun-tahun, rumah ibadah ini menghadapi masalah serius seperti kerusakan jalan yang parah dan aktivitas perdagangan di area depan jalan masuk Pura Oebanantha.
Pura Oebanantha yang dibangun sejak tahun 1951 dimana sudah 72 Tahun berdiri (Poskupang.com, 2023), merupakan pura tertua dan salah satu pura terbesar di Kota Kupang. Setiap kali ada upacara hari raya besar, hampir seribu umat Hindu memasuki pura ini untuk beribadah. Namun, masalah aksesibilitas yang ada sangat menghambat kelancaran ibadah.

Ketidaktegasan dalam penertiban pedagang di pasar menjadi salah satu faktor utama dalam permasalahan sulitnya akses masuk ke Pura. Selain itu, kondisi jalan yang sangat rusak dengan banyak lobang besar yang sering diperbaiki tapi terus rusak juga menjadi faktor lain yang menyulitkan akses masuk ke pura.
“Mambuka akses jalan masuk baru bukan merupakan solusi! sudah tiga kali kita membuat akses baru, tetapi penertiban pedagang pasar yang tidak sesuai dengan peta pasar membuat akses jalan pura makin susah” Ungkap Komang Rajendra,mantan pengempon/pengelola Pura Oebanantha.
“Padahal pasar dibangun setelah pura ada, tetapi masih banyak informasi yang salah tentang hal itu. Bukan hanya kesalahan penjual pasar karena mereka juga kurang memahami, tetapi diperlukan pendekatan dari pemerintah untuk menertibkan pedagang di pasar,” tambahnya.
Ketua Pimpinan Daerah Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Nusa Tenggara Timur (PD KMHDI NTT), I Gede Agus Parama Natha menilai bahwa pemerintah Kota Kupang tidak serius dalam penertiban masalah ini, dan masalah tersebut belum terselesaikan selama bertahun-tahun.
Sangat menyedihkan ketika kita mengklaim bahwa Kota Kupang adalah kota toleransi, tetapi akses jalan ke rumah ibadah kami masih mengalami masalah. Selain itu, vandalisme berupa tulisan yang tidak senonoh di candi depan pintu masuk parkir juga sangat tidak menghormati kesucian Pura,” kata Agus.
Dengan adanya tantangan ini, diperlukan langkah konkret dan serius dari pemerintah Kota Kupang untuk menangani masalah aksesibilitas jalan masuk Pura Oebanantha dan menertibkan aktivitas perdagangan yang menghambat kelancaran ibadah umat Hindu. Selain itu, perlindungan dan penghormatan terhadap kesucian pura juga harus diutamakan untuk memelihara nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan yang berharga.