Peringati Hari Ibu, PC KMHDI Denpasar Gelar Nonton Bareng Film “Our Mother Land”

Peringati Hari Ibu, Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PC KMHDI) Denpasar berkolaborasi dengan Narmada Bali dan Kohati Denpasar, menggelar Nonton Bareng dan diskusi film bertemakan pergerakan perempuan melawan korporasi perusak lingkungan, yang berjudul “Our Mother Land (Tanah Ibu Kami)”, di Rumah Kebangsaan dan Kebhinekaan Pasraman Satyam Eva Jayate, Denpasar, pada Kamis (24/12).

Perwakilan PC KMHDI Denpasar, Triarli
dalam pernyataannya mengungkapkan selain keempat daerah yang ditampilkan dalam film “Our Mother Land” sebetulnya masih ada banyak kasus perlawanan terhadap korporasi perusak lingkungan diluar sana, salah satunya adalah di Kalimantan.

“Di Kalimantan, di kampung Tri ada tambang-tambang besar dibuka dan aktivitas pertambangan kadang-kadang mengancam tidak hanya kelestarian lingkungan tapi juga masyarakat. Pembukaan tambang dengan cara menggunduli hutan sering mengakibatkan banjir karena fungsi hutan sebagai sumber resapan air tidak bisa berjalan maksimal,” ungkapnya.

Menyambung dari pernyataan Tri, perwakilan Narmada Bali, Lesri mengatakan bahwa alam dan perempuan adalah sumber kehidupan. Dalam rumah tangga perempuan/ibu adalah orang yang pertama kali berinteraksi dengan alam. Jika alam mengalami kerusakan maka orang yang pertama dirugikan adalah perempuan/ibu. “Oleh karenanya segala aktivitas merusak alam dan lingkungan harus dilawan oleh perempuan/ibu,” tegasnya.

Sementara itu perwakilan Kohati Denpasar, Imriatun menyoroti kondisi perempuan hari ini yang disubornisasi oleh nilai-nilai konservatif. “Bahwa perempuan harus dirumah, berpakaian santun, tidak keluar pada malam hari,” jelasnya.

Selama sesi diskusi terdapat beberapa pandangan dikemukakan, Teddy selaku koordinator Narmada Bali menyatakan bahwa di Bali sebetulnya ada banyak kasus perlawanan terhadap aktivitas perusakan lingkungan seperti penolakan reklamasi teluk Benoa dan PLTU Celukan Bawang, Buleleng. “Jangan jauh-jauh sebetulnya di daerah kita, Bali ada perlawanan-perlawanan terkait aktivitas perusakan lingkungan,” tegasnya.

Teddy juga menambahkan bahwa momentum diskusi hari ini sangat penting untuk menjadi ajang konsolidasi kekuatan melawan aktivitas merusak lingkungan. Sementara Anggota Narmada, Teguh Alfaizin menegaskan bahwa apapun motif dan modus yang dilakukan, segala aktifitas yang merubah lingkungan berskala besar dan merugikan masyarakat sekitar harus dilawan.

Pada kegiatan tersebut sekurang-kurangnya dihadiri oleh 20 peserta, yang terdiri dari kader PC KMHDI Denpasar, Kohati Denpasar, kader PC KMHDI Badung, serta penggiat Narmada Bali.

Komentar Anda