Aku berbeda, bukan berarti aku yang tercela! #5ArtikelTerbaik

Peserta Ruang Inspirasi: Kita Hindu, Kita Bangga! Nama: Putu Arthavina Kusuma Cahyadewi Asal Sekolah: SMA Global Sevilla Puri Indah

Om Swastyastu, nama saya Putu Arthavina Kusuma Cahyadewi, bisa dipanggil Vina. Saya sekarang duduk di kelas 3 SMA di  Global Sevilla Puri Indah. Saya terlahir di keluarga yang  dimana kedua orang tua saya menganut kepercayaan agama Hindu. Menurut saya, Agama Hindu adalah agama yang terdamai dibandingkan agama lainnya, this is because of how less conflict compared to other religions. Also, sejauh 16 tahun perjalanan hidup saya ini, ajaran agama hindu lah yang terus saya pegang teguh untuk melalui berbagai macam manis pahitnya hidup.

Selama 16 tahun perjalan hidup ini juga, saya banyak sekali mendapatkan pengalaman dan pelajaran baru yang mungkin saya katakan tidak semua anak seumuran saya bisa dapatkan. Dan saya sangat berterima kasih dan bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan orang tua yang sudah memberikan kesempatan tersebut.

Okay, jadi singkat cerita. Jujur sebenarnya belum terlalu lama saya tinggal di Indonesia. Sebelumnya saya sempat tinggal diluar negeri kurang lebih selama 6 tahun dan baru tahun lalu sekitar bulan Juli/ Agustus, saya kembali ke tanah air.

Saat saya tinggal disana, saya belajar banyak hal. Disana saya bersekolah di International school and obviously I met different people from all over the world. Kita berbeda dari banyak sisi: culture, ethnicity, religions and many more. I understand we heard lately about discrimination that is happening in USA among the white and black people or maybe no tolerance in believing different beliefs. Honestly, I was actually facing the same thing when I was living abroad. Namun bukan mengomentari mengenai agama dan budaya saya, tetapi lebih ke warna kulit dan lain sebagainya. Mungkin karena saya dari Asia, berkulit kecoklatan, mata Hitam dan lain sebagainya. Sedangkan mereka berkulit putih, blonde etc. However, discrimination tidak terdapat di semua orang orang kok. Ada yang Iya adapun yang tidak. Dimanapun pasti ada aja sepatah dua patah yg tidak mengenakan hati. I did warned them but jika tetap berkelanjutan saya menghiraukan to those people who discriminates me because I know itu tidak akan ada habisnya. Biarkan saja mereka. Mereka sendiri yang pada akhirnya akan lelah. But what surprises me was that di negara kincir, less of them judge about people beliefs or culture. Well, but it ain’t against my ones. Well at least I have never faced any discrimination about my beliefs or culture at all. Tidak ada judgement towards our culture Indonesia dan agama hindu diluar. Namun berbeda halnya dengan salah satu sahabat saya berinisial R yang menganut ajaran Islam. Of course disitu saja kalian bisa tahu, seberapa jauh lebih berbedanya dia. Like saya saja sudah merasa di bedakan di mata orang-orang luar because I am Asian: rambut, mata hitam, apalagi sahabat saya. Because of the hijabs that she wears seakan lebih membuat perbedaan itu keliatan sangat amat nyawa. Dia tells off everything that dia di faced setiap harinya, how she fells ke saya. But I disitu hanya bisa meredakan, berada disisi dia when she needed, menyemangati dan lain sebagainya.

Because as you all know, diluar banyak dari mereka yang tidak beragama. So, it is rare enough for them to comment on religions and stuff.

Berjalannya waktu, canda, tawa, sedih, sudah saya rasakan bersama orang luar dan ini pertanda bahwa saya sudah bisa berbaur dan merasa nyaman di pergaulan luar tersebut.

Waktu demi waktu pun telah di lalui.

Sampai ada moment dimana ada percecokan antara aku dan keluargaku. Disitu saya disuruh oleh mereka bersembahyang namun saya terus menolak. Sembahyang tergantung mood dan angonan tidak pasti kapan. Saya disuruh ikutan acara persembahyangan Saraswati yang di adakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Den Haag pun, akan tetapi saya menolak. Saya dimarahi dan ya disitu akhirnya ikut namun terpaksa.

Saya sadar saat itu betapa amat sangat mengengkangnya saya terhadap orang tua. Betapa dahulu saat hidup diluar, saya bisa dikatakan terjerumus budaya luar yang tidak mempercayai agama. Sampai saya  pernah mengatakan ke orang tua mengapa harus ada agama? Ribet buat ini itu. Aku tidak percaya agama manapun. Capek. Namun mereka disitu seperti Ya sudah, Astungkara suatu saat nanti kamu di berikan pencerahan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ya mama papa akan tetap terus mengajarkan ke kamu.

Saya sadar sungguh amat berdosanya saya saat Itu. Saya sangat proud of orang tua saya karena sudah sangat sabar menghadapi saya,  mungkin ada fase dimana mereka capek sudah tidak tahu harus bagaimana ke saya, namun mereka tiada henti mengajarkanku.

Saya disitu masih mau sembahyang tapi mood-moodan. Tidak pasti. Dibilang masih ada hitungan jari tangan dimana saya bersembahyang setiap minggunya.

Sampai suatu ketika, saya di fase hidup saya terbawah, seperti sakit yang  cukup lama, totally having depression like I don’t know what to do, the school grades down sampai pernah mau committed suicide cutting aishh. It was all that bad back then. Disitu saya mendengar ayah saya berbicara “see, kamu sekarang down. Tanda ini kak dari Tuhan, kamu sudah lupa akanNya. Cobalah dengarkan papa sesekali, hayukss sembahyang tiap hari, pelan” Jujur kuping panas. Tapi entah hari itu ok lah saya menuruti. Namun besoknya kembali tidak lagi. Besoknya lagi. Namun disitu orang tua sangatlah sabar berbicara ya tidak apa-apa yang penting sudah lebih better kamu. Sudah lebih dari sebelumnya. Tapi ya masih kurang. Ya tapi kita yakin bisa. Tanpa disadari, saya hari demi hari pun membaik. Contoh saja saat ingin belajar, yang dahulu gerasah gerusuh gelisah, tidak bisa berfikir jernih, memutuskan sesuatu, namun sekarang bisa. Tidak hanya itu, nilai-nilai saya mulai meningkat kembali, mulai banyak prestasi yang terlihat, saya mulai sabar untuk menjalankan setiap harinya, dalam memutuskan sesuatu, dlsbnya. Ini semua karena saya ada pegangan dan menerapkan agama Hindu di kehidupan. Disitu saya sadar dan merubah segalanya.

Tidak hanya itu, terjadi juga terhadap adikku, dia berbeda sekolah denganku saat itu, melainkan dia bersekolah di public school Belanda. Tidak ada kendala apapun yang dia alami melainkan ya masalah Bahasa di sekolah karena Bahasa Belanda right. Namun karena dia yang sedikit berbeda, tapi lebih kesisi positif yakni sikap penurut dan taat beragama. Tidak terlalu banyak lika liku yang dia hadapi. Berbeda lah dengan saya. Namun dia juga mengalami fase masalah pertemanan. Bukan di sekolah melainkan di lingkup anak kecil Indonesia diluar.

Adik saya menceritakan segalanya, jujur aku kaget, kaget dan benci sekali. Ternyata dia mengalami diskriminasi. Di situ mereka berbeda, Ada islam, hindu, Kristen. Dari semua, dia lebih dekat ke temannya berinisial N yang beragama Kristen, karena mereka sering hang out dan lain sebagainya. Jadi saat mereka semua sedang bermain diluar, mereka disuruh memencar dahulu terus kemudian di tempat pejalan kaki mereka melihat poop. Disitu adik saya dan temannya N di panggil dan mereka pun bertanya. “iya, ada apa? Kenapa?” Disitu ternyata mereka di suruh untuk mengambil poop tersebut D (adik saya) dan N, “kalian kan beda agama kan, di agama kalian kan boleh anjing kan, berarti bisa dong ambil poop ini”. Mereka pun tertawa namun tidak halnya untuk adik saya dan N. Disitu mereka bertanya  Tidak ada yang lucu. “Why? Kok kalian begitu”. Namun tidak ada respon. Mereka berduapun pergi dan hanya bermain berdua. Jujur amat sangat tidak lucu. Saya pun terkejut mendengar cerita tersebut. Saya fikir, sudah beda benua akan berbeda tidak ada seperti itu, ternyata ada aja urghh. Saya menyesal tidak menemani adik saya bermain. Andai saja saya ada disitu, langsung saya tegur anak tersebut. Namun bukan perihal tidak ikut, bisa menghalangi saya dari segalanya, melainkan saya langsung memberitahu orang tuanya melalui Whatsapp untuk memberitahu atas perbuatan anaknya dan meminta orang tuanya untuk lebih mengajarkan anaknya.

Menurut saya, hal yang saya lakukan tidak salah. Karena fikiran saya jika tidak dari sejak dini diajarkan, akan terus berkelanjutan dan saya berharap tidak ada lagi korban yang merasa tersakiti. Cukup mereka dan termasuk saya namun juga berharap tidak terjadi ke mereka lagi kedepannya. Di situ orang tua meminta maaf dan malah berterimakasih dan Iya akan mengajari mereka lebih. Keesokan harinya, sang anak di minta oleh orang tua nya untuk bertemu adikku dan meminta maaf. Dari sini saya juga belajar banyak hal: 1) Bertoleransi 2) from small action like this can meant so much for the future 3) bersikap dewasa, sabar, no emotional dan berkomunikasi dengan orang tua lebih baik

Saya juga menerapkan suatu prinsip bahwa saya tidak apa berbaur dengan mereka orang luar,namun harus lebih dewasa dalam memilah mana baik dan tidak. Taburkan lah kebaikan terhadap siapapun itu mau saat kita di atas ataupun dibawah. Jangan pernah ada sombong. Harus terus ingat dan pegang teguh ajaran agama Hindu dimanapun dan kapanpun. Ingatlah darimana kita berasal karena disitu juga pasti kita akan berakhir nantinya yakni bersama Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Semua prinsip tersebut saya dapatkan dari orang tua saya yang dimana mereka selalu berusaha untuk menanamkan prinsip baik kehidupan serta ajaran agama Hindu kepada anak-anaknya.

Perjuangan di negara kincirpun berakhir, tiba waktunya untuk kembali ke tanah air. Memulai kehidupan baru di tanah air, bagaikan lembaran baru kehidupan. Saya harus memulai segalanya lagi dari 0 seperti jaman dahulu saat saya pertama kali keluar negeri.

16 jam perjalanan sudah saya tempuh dan pada akhirnya saya sampai di negeri tercinta, Indonesia. Jujur quite shock ketika saya sudah sampai di tanah air. Perbedaannya amat sangat berbeda. Saya jujur capek untuk memulai hal baru lagi. Akan bagaimanakah saya. Namun saya tetap harus berjuang, yakin bisa dan terus berdoa kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk meminta kelancaran dalam segala apapun itu. Kondisi saat itu saya sedang kebingungan untuk mencari  persekolahan untuk melanjuti kelas 2 SMA. Ini dikarenakan saya baru kembali ke tanah air, also everyone elses saat itu sudah masuk bersekolah sedangkan saya baru kembali dan sudah telat maybe a week/2 weeks, dan juga banyak pendaftaran sekolah yang sudah tutup. Namun akan tetapi saya dan orang tua tidak putus asa untuk mencari sekolahan. Hari demi hari pun berlalu, akhirnya kita menemukan beberapa option sekolah untuk saya dan adik saya. Kami mengambil enterance test. Segala persiapan usaha sudah di lakukan maksimal dan permohonan doa setiap saat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sudah kami minta. Pada akhirnya kita di terima disalah satu sekolah di kebun Jeruk. Perlahan, hari demi haripun berlalu, sedikit demi sedikit rasa suka duka di sekolah baru pun sudah saya lalui. Namun ada rasa keganjalan yang saya rasakan saat berada di sekolah ini. Selain saya harus beradaptasi ke sekolah baru dari sisi edukasi, Bahasa, pertemanan, namun ada satu hal yang lebih dari itu yakni mengenai agama. Saya mengerti kedua orang tua saya memasuki kami di sekolah international school berbasis ajaran Kristen. Awalnya difikiran kami mungkin ada sedikit toleransi namun ternyata saat disana,  tidak ada sama sekali rasa toleransi yang mereka berikan untuk kami yang beragama berbeda. Iya, kami minoritas, namun mengapa? Kemanakah rasa toleransi tersebut?

Saya bersekolah disana jujur merasa risih karna saya terpaksa menganut ajaran berbeda yakni Kristen saat berada di sekolah. Saya disana harus mengikuti assembly yang dimana mendengarkan khotbah, menyanyikan rohani Kristen, masuk kelas agama kristen dan ambil nilai agama Kristen bukan hindu dan lain sebagianya. Di satu sisi, karena kita sudah kembali ke tanah air, semakin banyak orang tua kami akan mengajarkan ke kita sebagai anaknya untuk menanamkan ajaran agama Hindu seperti rutin ke pura, saya sekolah agama tiap minggu di Jelambar karena tidak ada pelajaran agama Hindu di sekolah, mengikuti aktivitas perkumpulan anak muda (KPSHD) seperti menari, mengambel, belajar menbuat porosan, bernyanyi lagu Bali bersama dan berkumpul seru di Pura, sembahyang bersama tiap harinya di rumah dan lain sebagainya. 

Namun satu sisi seperti ini kondisi di sekolah  saat itu. Berbeda. Saya sempat bingung sebenarnya bagaimana sih?, saya sempat seperti waktu di Belanda, kehilangan arah, namun tidak terlalu buruk.

Tidak hanya itu, ada satu hal lagi yang membuat saya sangat amat risih di sekolahan tersebut yakni dimana saya harus memimpin satu kelas doa namun memanggil nama Tuhan Jesus dan membisakan diri untuk membaca alkitab mereka. Jadi disitu saya heran, mengapa kita tidak berdoa masing-masing sesuai kepercayaan saja? Like there are people yang hindu, budha contohnya. Saya ingin sekali speak up namun tidak berani karna minoritas. Ada juga teman saya satu kelas yang sudah lama disana beragama  hindu, namun dia tidak ada berkata apa-apa melainkan berdiam diri dan hanya mengikuti seperti sudah terbiasa melakukan ajaran tersebut. Tidak hanya itu, saya sempat disuruh buka bible untuk membacakan ayat dan sempat tidak bisa dan dimarahi karena like how? Where to find the ayat? Jujur sangat jengkel, Karna yaa itu bukan agama saya kok. Tidak terbiasa. Mengapa dimarahi? Mengapa tidak di pandu ?

Awalnya tidak ada protes dari saya, berbulan-bulan saya lalui, namun lama kelamaan batin saya merasa lelah karna hal ini dan saya memutuskan untuk pindah sekolah di semester 2. Di sekolah baru, saya merasakan jauh lebih nyaman. Lingkungan sekolah baru seperti ini lah yang saya mau. Tidak ada lagi paksaan. Toleransi antar sesama. Proses belajar saya pun berjalan lancar.

Sorry for the long answer. But I just like to share my experiences. Hopefully there are something you could learn from my experiences. Hopefully it will be beneficial for everyone.

Harapan for the future:

Dari pengalaman saya bisa di lihat bahwa mau diluar negeri ataupun di dalam negeri ada saja diskriminasi. Akan tetapi saya tidak terlalu mementingkan negara lain. Saya sebagai warga Indonesia dan beragama minoritas yakni agama Hindu, saya berharap diskriminasi di Indonesia tidak ada. Yes, di Indonesia terdapat banyak sekali perbedaan.

Jujur, saya sangat bangga sebagai orang Indonesia dengan agama Hindu agama yang saya anut. Akan tetapi, saya tidak mau karena perihal ini,  karena agama yang saya anut menjatuhkan kelompok lain yang beragama berbeda. Saya bisa saja egois terlalu melebih-lebih kan, mengataskan agama saya sampai-sampai  tidak peduli dengan kelompok lain, namun akan tetapi saya tidak mau. Tidak pernah mau. Saya yakin kok kalian semua di Indonesia pas SD belajar semboyan yang sudah ada dari dahulu kala yakni Bhineka Tunggal Ika dimana walaupun kita berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Kita beragama, banyak perbedaan, namun kita tetap berbangsa dan berbahasa yang satu, Indonesia.

Jadi untuk apa menjatuhkan. Kita harus lebih open minded untuk accepting differences. Kita harus lebih mengambangkan prinsip multikultural agar preventing from conflicts dari berbagai aspek terutama agama.

Semoga saja kedepannya di Indonesia kedudukan antar perempuan vs laki-laki, berkulit kecoklatan ataupun hitam, semuanya dan terutama agama, bisa sama. Kita juga memiliki HAM (Hak Asasi Manusia),seperti semua orang berhak untuk mengutarakan pendapat, untuk hidup memiliki kesejahteraan, hak mendapatkan happiness and everything. That’s all.

Conclusion:

lesson that we can learn:

Yes, individual of us are different. Everyone have their own ways to be unique. They have their own mindset. Semua tak sempurna sama, namun jika ada hal yang bisa disamakan dan itu baik mengapa tidak?

Kalian harus punya prinsip. Terus coba stick to that prinsip, Jangan sampai tergoyah oleh orang lain.

Kita manusia, Jangan ada kata gengsi. Belajarlah dari sesama. Kehidupan manusia ibarat bersimbiosis mutualisme yang dimana saling membutuhkan tidak ada yang bisa sendiri. Setiap orang takes time to be more dewasa. Jangan hentikan mereka. Melainkan bantulah mereka untuk leads them to lebih baik.

Selalu taburkan kebaikan antar manusia. Tidak hanya manusia, semua mahluk hidup selagi kamu bisa. Teruslah ingat darimana kamu berasal karena disitulah juga kamu akan mengakhiri, di tangan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Sekian,

Matur suksma

Om Santi Santi Santi Om

Vina

Komentar Anda
WhatsApp chat