Pancasila: Pegangan Hidup di Tengah Pandemik Covid-19

“Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan ‘gotong royong’. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong.”

– Ir. Soekarno –

Kutipan pidato di atas mengingatkan saya bahwa hari ini tepat 75 tahun lahirnya Pancasila di Indonesia. Bertempat di Gedung Tyuuoo Sangi-in, Gambir, Jakarta Pusat seorang tokoh yang nantinya akan dikenal sebagai Presiden Republik Indonesia pertama memperkenalkan sebuah istilah untuk dijadikan sebagai landasan negara. Istilah itu kini kita kenal dengan nama “Pancasila”.

Menurut Pidato Ir. Soekarno dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, ia menjelaskan bahwa istilah Pancasila merupakan istilah yang paling tepat untuk Indonesia merdeka. Pancasila merupakan istilah yang berasal dari dua suku kata, ‘Panca’ yang memiliki arti lima, dan ‘Sila’ yang memiliki arti dasar atau asas di atas kelima dasar atau asas inilah negara Indonesia akan berdiri kekal dan abadi. Pancasila dibangun melalui 5 prinsip yang menjadi dasar tersusunnya lima butir Pancasila yang kita kenal hingga hari ini. Prinsip-prinsip tersebut diantaranya: 1). Kebangsaan Indonesia, 2). Internasionalisme atau perikemanusiaan, 3). Mufakat atau demokrasi, 4). Kesejahteraan sosial, dan 5). Ketuhanan. Namun, secara substansi kelima prinsip yang nantinya menjadi lima butir Pancasila ini bersumber dari identitas asli masyarakat Indonesia yang tidak akan pernah ditemui di negara lainnya – itulah Eka Sila: Gotong Royong.

Gotong royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama. Menjadi sebuah identitas yang melekat di tengah masyarakatnya mulai dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia – gotong royong selalu menghidupkan masyarakatnya.

“Ngayah” – Gotong royong Versi Bali

Pada sebuah artikel dalam Prosiding Seminar Nasional Filsafat tahun 2017 yang berjudul “Implementasi Konsep Ngayah dalam Meningkatkan Toleransi Kehidupan Umat Beragama di Bali” yang ditulis oleh I Gusti Made Widya Sena menyebutkan bahwa ngayah memiliki arti melakukan pekerjaan tanpa mendapatkan upah. Ngayah adalah kewajiban sosial masyarakat Bali sebagai penerapan ajaran karma marga yang dilaksanakan secara gotong royong dengan hati yang tulus ikhlas dimana pun berada. Ngayah juga mengandung makna peningkatan integrasi sosial agama yang dapat mendidik anggota masyarakat agar dalam kehidupan selalu tumbuh rasa kerjasama, setia kawan, membina kerukunan dan meningkatkan rasa kekeluargaan, saling menghormati diantara sesama dengan rasa tanggung jawab atas kelangsungan hidup bersama. Tentu sebagai tradisi yang sudah ada secara turun temurun, ngayah masih lestari dan secara konsisten dilakukan oleh masyarakat di Bali secara menyeluruh. Meskipun secara perlahan konsistensi ngayah mulai bergeser, setidaknya tradisi ini masih dikenal lekat oleh masyarakatnya khususnya di kalangan anak muda.

Implementasi “Gotong Royong” di Tengah Pandemi

Sudah memasuki bulan ketiga sejak kasus pertama COVID-19 ditemukan di Indonesia. Sejak saat itu peningkatan pasien yang terinfeksi positif virus ini berkembang sangatlah cepat. Per tanggal 31 Mei 2020, jumlah pasien yang terinfeksi virus ini mencapai 26.473 kasus, sedangkan di Bali sendiri mencapai 465 kasus positif. Berbagai usaha dilakukan oleh semua kalangan, bahu-membahu, mengimplementasikan “gotong royong” dalam usaha meringankan beban sesama yang terkena dampak COVID-19. Mulai dari donasi langsung, konser amal berbasis daring, pentas puisi berbasis daring, sampai webinar dilakukan guna menggalang dana yang nantinya akan disalurkan ke pihak-pihak yang membutuhkan seperti tenaga kesehatan yang dibekali berbagai vitamin dan Alat Pelindung Diri (APD) sampai masyarakat kecil yang akan diberikan sembako. Semua dilakukan secara suka rela, tanpa paksaan, bersama-sama. Tentu ini merupakan implementasi nyata dari gotong royong.

Pancasila yang menjadi falsafah hidup masyarakat Indonesia, menjadi kompas dalam menjalankan hidup di negara Indonesia, bahkan setiap manusia yang lahir di tanah air tanpa disadari sudah menjadikan Pancasila sebagai nilai dasar kehidupan. Sudah barang tentu juga hal tersebut menjadi alasan mengapa masyarakat Indonesia memiliki simpati dan empati yang begitu besar kepada sesama. Dalam setiap tindakan yang dilakukan oleh berbagai kalangan di Indonesia pada masa pandemi ini tentu juga mencerminkan masing-masing butir Pancasila. Agar lebih mudah, saya akan mengambil beberapa contoh yang ada di sekitas saya, khususnya di daerah tempat saya tinggal – Bali.

Ketuhanan Yang Maha Esa (Sila ke-1)

Jika bicara soal Tuhan, Indonesia sepertinya menjadi negara yang sangat dekat dengan itu. Setiap hari jutaan umat melantunkan doa-doa dengan harapan begitu banyak harapannya dikabulkan oleh Tuhan. Begitulah kira-kira. Sejak pandemi COVID-19 ini mewabah, berbagai cara sudah ditempuh oleh masyarakat Bali. Melalui Pemerintah Provinsi Bali, PHDI Bali, sampai Majelis Desa Adat Provinsi Bali melakukan berbagai ritual dengan harapan “gering agung” atau wabah ini dapat berlalu secepat mungkin. Hal ini juga diikuti oleh masyarakat di lingkungan rumah tangga dengan menghaturkan daksina di masing-masing sanggah di merajan masing-masing.

Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab (Sila ke-2)

Humanity atau kemanusiaan merupakan hal yang mesti ditanamkan sejak dini oleh manusia. Sejatinya, kemanusiaan haruslah berada di atas segalanya. Tanpa rasa kemanusiaan, manusia sama saja dengan hewan – siap menerkam sesama di situasi yang menjepit. Kembali pada persoalan kemanusiaan di masa pandemi, seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya – Indonesia sebagai negara “Gotong royong” sudah tentu masyarakatnya memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan berbagai gerakan moral dan sosial yang dilakukan oleh banyak kalangan. Tujuannya hanya satu, membantu berbagai pihak yang terdampak akibat pandemi COVID-19.

Persatuan Indonesia (Sila ke-3)

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” slogan itu nampak akan selalu relevan di setiap zaman, apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini. Persatuan sesungguhnya menjadi dasar kenapa hingga hari ini Indonesia masih tetap utuh menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia meskipun di tengah perbedaan yang begitu mencolok antara daerah satu dengan daerah lainnya. Berkaca dari pandemi seperti sekarang ini, persatuan masih dipegang teguh oleh seluruh masyarakat khususnya di Bali meskipun begitu banyak kebijakan yang menjadi polemik di tengah masyarakat – sesungguhnya sangat rentang menimbulkan perpecahan bagi masyarakat.

Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan (Sila ke-4)

Sudah seharusnya seorang pemimpin memiliki sisi kebijaksanaan yang tinggi, hal ini tentu sangat berkaitang dengan tantangan seorang pemimpin yang harus mengayomi seluruh rakyatnya yang memiliki keberagaman latar belakang dan juga karakter. Sebagai tauladan, sudah seharusnya pemerintah memberikan contoh dalam hal kebijaksanaan dalam kepemimpinannya hal ini bisa kita lihat dalam pengambilan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Mengapa demikian? Menurut saya, kebijakan PSBB merupakan kebijakan yang paling tepat diambil oleh Indonesia dalam kondisi negara yang masih sangat dibingungkan dengan pandemi COVID-19 yang belum jua menemukan formula untuk penanganannya, selain itu ini juga nampaknya paling cocok dengan kondisi masyarakat yang sebagian besar memang berada di ekonomi kelas menengah ke bawah.

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia (Sila ke-5)

Sila ke-5 berisi harapan seluruh rakyat Indonesia dalam hal keadilan di berbagai aspek kehidupan tanpa terkecuali. Saya rasa butir ini menjadi butir terakhir dalam Pancasila karena butir inilah yang paling sulit untuk direalisasikan tak hanya oleh negara, tapi juga oleh berbagai pihak. Meski keadilan belum 100% terealisasi di negara ini tapi setidaknya masih ada niatan untuk menuju ke arah sana. Bantuan-bantuan yang disalurkan oleh pemerintah melalui berbagai program bisa dijadikan sebuah tolok ukur kita untuk melihat kesungguhan pemerintah dalam mewujudkan keadilan meski di tengah pandemi yang tak menentu seperti ini. Meskipun kebijakan tersebut belum bisa dikatakan sebagai kebijakan strategis, tetapi setidaknya untuk sementara masyarakat yang berada di kalangan paling bawah bisa merasakan perhatian dari pemerintah.

Menjadikan Pancasila sebagai falsafah hidup adalah satu keharusan setiap insan di Indonesia, mengimplementasikan butir-butir Pancasila bukanlah suatu kemustahilan, usaha bersama dengan niatan tulus tanpa terselubung kepentingan busuk sudah barang tentu memuluskan jalan menuju ke arah Indonesia yang diharapkan sesuai dengan pesan yang disampaikan melalui 5 dasar negara yakni, Pancasila. Saya Indonesia, Saya Pancasila, Selamat Memperingati Hari Lahir Pancasila yang ke-75 Tahun.

“Namanya bukan Panca Dharma, tapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang ahli bahasa. Namanya ialah Panca-Sila. Sila artinya azas atau dasar. Dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia kekal dan abadi.”

-Ir. Soekarno-

Denpasar, 1 Juni 2020

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai

WhatsApp chat