PD KMHDI Bali Ajak Masyarakat Untuk Jengah!

Kilas tahun 2002 dan 2005,
Bali pernah terpukul karena insiden bom yang melumpuhkan sektor pariwisata. Menelan korban lebih dari 200 jiwa dan ratusan mengalami luka-luka. Sejumlah negara pun mengeluarkan trevel warning, disertai kecaman-kecaman yang datang dari seluruh penjuru dunia yang kehilangan anggota keluarganya dalam kejadian tersebut. Pendapatan sektor pariwisata anjlok. Pengangguran meningkat 3,5% dan pendapatan rumah tangga mengalami penurunan 22,6%. Perlu waktu 10 tahun untuk memulihkan kondisi Bali.

Erupsi Gunung Agung tahun 2017
Bencana Gunung meletus ini mengakibatkan 1.000 orang meninggal, 40.000 orang harus dievakuasi dari 22 desa. Penerbangan udara terganggu 400 penerbangan yang membawa 59.000 penumpang dibatalkan. Lagi-lagi pariwisata Bali terganggu.

2020 Bali kembali terpuruk karena bencana dunia yaitu pandemi Covid 19. Namun yang harus disyukuri jumlah meninggal tidak lebih banyak dari korban-korban akibat bencana diatas. Oleh pandemi Covid-19, banyak pekerja dirumahkan dan kepala keluarga kehilangan sumber penghidupan. Atas kondisi ini, kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk introspeksi ke dalam bertahan hidup dan menghidupi keluarga dengan kehidupan yang baru pasca pandemi Covid-19. Bagi yang mempunyai lahan untuk menanam pangan, bagi yang lahan minim untuk melakukan budidaya perikanan dalam ember, maupun gerakan lainnya yang mampu menjaga ketahanan pangan keluarga.

Bali sebagai provinsi dengan tingkat persentase kesembuhan yang tinggi dan angka kematian yang kecil mampu membuat banyak pejabat negara mengapresiasi upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di Bali. Kemudian, Bali terpilih menjadi salah satu dari 3 daerah percontohan the new normal di Indonesia. Prestasi ini harus disadari bahwa urun tangan pemerintah adat/desa adat ada didalamnya. Bali yang terkenal dengan keharmonisannya, keharmonisan antara penyelenggaraan pemerintah dinas dengan adat menciptakan hasil yang diharapkan. Maka, pemerintah jangan sesekali memandang sebelah mata adat maupun perannya bagi tatanan hidup di Bali. Apalagi sampai mempidana kasus upacara adat.

Semua potensi ini wajib kita perhitungkan sebagai masyarakat Bali untuk kedepan tetap disiplin dalam menjalani swadharma/kewajiban sebagai warga negara, serta mandiri sebagai mahkluk individu. Kita memiliki kekayaan yang tidak dimiliki daerah lainnya, kita memiliki segala daya dukung untuk tetap melangkah ke arah yang lebih baik.

Bali memiliki nilai tawar bagi pariwisata maupun pemerintah bagi masyarakat dunia. Dapat dikatakan bahwa Bali salah satu jendela Dunia. Segala hal baik yang ada di Bali, adalah persembahan Bali untuk Dunia. Mari jengah dan tunjukkan kepada Indonesia maupun Dunia bahwa Bali mampu bangkit dari segala keterpurukan.

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai