Menjelang Hari Raya Sivaratri, PC KMHDI Bangli Gelar Kegiatan NGOREKSI

Bangli, Kamis (16/01) memahami filosofis hari raya suci Sivaratri, PC KMHDI Bangli menggelar diskusi yang dikemas dengan NGOREKSI (Ngobrol dan Menkoreksi Informasi). Diskusi ini dilaksanakan di sekretaraiat PC KMHDI Bangli pada pukul 14.00 wita hingga selesai. “Makna Filosofis Sivaratri” merupakan tema yang diambil dalam diskusi dengan pematik diskusi Ni Luh Sri Widiadnyani. Diskusi ini diikuti oleh Kader PC KMHDI Bangli, serta beberapa perwakilan LMND Bali dan PD PC Se-Bali. Kegiatan diskusi ini diawali dengan doa Sarasvati puja oleh seluruh peserta, memohon bimbingan dan anugrah Sang Hyang Aji Sarasvati selama diskusi berlangsung.

Banyak definisi dan pemahaman umat yang menyatakan bahwa malam Sivaratri sebagai malam peleburan dosa, malam perenungan dosa atau malam pengampunan dosa. Disini muncul pertanyaan sejauh mana dosa seseorang dapat diukur, dan perbuatan seperti apa yang dapat dikatakan sebagai sebuah dosa. Jika malam sivaratri dijadikan malam perenungan lalu bagaimana dengan malam dihari lain. Banyak pertanyaan dan argumentasi yang muncul selama berlangsungnya diskusi. Ni Luh Sri Widiadnyani selaku pematik diskusi menyatakan bahwa berbicara tentang makna dan filosofis harus berdasar sumber dan literasi yang dapat dijadikan acuan. “sebelum jauh kita memaknai sebuah sesuatu, alangkah baiknya kita mengetahui sejarah atau sumber dari mana sesuatu itu berasal, termasuk munculnya perayaan hari suci Sivaratri” uangkapnya.

Perayaan hari Suci Sivaratri identik dengan cerita Lubdaka. Makna filosofis Sivaratri tertuang dalam setiap obyek dan tokoh dalam cerita tersebut. Lubdaka yang diambil dari bahasa Sanskerta yang artinya pemburu. Satina berpendapat bahwa banyak yang memaknai bahwa pemburu identik dengan membunuh hewan atau memburu hewan, namun hal tersebut terlalu sempit untuk diartikan. “Lubdaka bermakna pemburu, namun dalam kaitannya dengan Sivaratri pemburu tidak berarti sempit, bukankah semua orang didunia ini pemburu, baik itu pemburu dharma, berburu harta bahkan pemburu kama atau nafsu. Pemburu dalam hal ini merupakan orang yang selalu mengejar atau mencari inti hakekat yang mulia” ungkap gadis Dayak ini saat berlangsungnya diskusi.

Diskusi berlangsung hangat dengan munculnya berbagai pandangan dan argumen peserta yang membahas satu persatu makna dari cerita Lubdaka yang merupakan esensi perayaan Sivaratri. sehingga dalam ahir diskusi dapat disimpulkan bahwa Siwaratri sebagai malam peleburan kegelapan hati menuju cahaya terang. “Malam Sivaratri merupakan malam peleburan kegelapan hati dan bukan sebagai malam peleburan dosa. Tidak ada istilah dosa disini karena pengampunan dan peleburan itu ada hukum karmanya. Setiap perbuatan yang dianggap dosa atau kegelapan hati yang pernah terjadi kita renungkan dan instropeksi di malam Sivaratri ini dengan harapan kedepannya agar tidak terulang kembali dan mampu menjadi lebih baik dari sebelumnya” Tegas ketua PC KMHDI Bangli ini.

Dengan adanya diskusi ini diharapkan mampu meluruskan isu dan tanggapan yang keliru tentang esensi hari suci Sivaratri. Kesimpulan dan hasil diskusi ini akan dirangkum secara keseluruhan agar bisa dibaca dan disimak oleh masyarakat luas di sosial media PC KMHDI bangli. Kegiatan diskusi seprti ini akan terus terlaksana sebagai program kerja minimal 1 bulan sekali. Acara ini ditutup dengan doa dan dengan harapan mampu mengimplementasikan pengetahuan yang telah didapat dalam perayaan Sivaratri yang datangnya setiap satu tahun sekali ini.

Komentar Anda
WhatsApp chat