Kenali Sisi Lain Bali Melalui “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci

• Judul Buku : Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci
• Penulis : Made Adnyana Ole
• Penerbit : Mahima
• ISBN : 978-602-61063-6-0
• Jumlah Halaman : xi + 82

Siapa yang tak mengenal Bali? Rasa-rasanya sebagian besar umat manusia di dunia tau Bali itu apa. Era kolonial dulu, Belanda menyebut Bali sebagai The Last Paradise in the World. Banyak ilmuwan yang datang ke Bali untuk lebih mengenal tentang Bali, khususnya lebih mengenal tentang adat dan budayanya.

Tak hanya orang luar saja, belakangan ini cukup banyak penulis asal Bali yang menggambarkan wajah Bali secara lebih jelas. Salah satunya adalah Bapak Made Adnyana Ole, atau lebih dikenal dengan Pak Ole.
Pak Ole merupakan salah satu pegiat literasi di Kabupaten Buleleng, Bali.

Mendirikan komunitas Mahima adalah salah satu langkah Pak Ole untuk mendekatkan aktivitas literasi dikalangan anak muda Buleleng. Terakhir, Pak Ole mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Provinsi Bali dalam acara Festival Bali Jani atas pengabdiannya dalam bidang sastra. Hingga kini Pak Ole masih aktif dalam menulis, tak hanya di lini masa Facebook tapi juga menulis di beberapa media online dan yang paling anyar Pak Ole menerbitkan buku kumpulan cerita pendek (cerpen) yang ia beri judul “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci”.

Jika melihat dari sampulnya, tentu corak-corak Bali sudah sangat kental terlihat. Hal itu tak terlepas dari hasil goresan-goresan dari pelukis Dewa Gede Purwita Sukahet yang membuat kesan magis dari buku ini makin terasa. Buku dengan sampul berwarna cokelat dengan tulisan berwarna emas ini terdiri dari 9 cerpen dengan tema yang beragam tetapi mengambil latar tempat yang sama yakni di Bali. Sehingga, 9 cerpen ini dapat menggambarkan bagaimana situasi Bali yang sesungguhnya. Dalam salah satu cerpen ini terdapat kisah nyata dari sang penulis yang erat juga kaitannya dengan tempatnya berkarya saat ini yaitu Buleleng.

Buku ini memulai kisahnya dengan cerpen yang berjudul “Terumbu Tulang Istri”. Dari cerita ini kita dapat mengetahui sisi lain dari Bali yang selalu tampak indah dan tanpa cacat dari luar, namun menyimpan begitu banyak luka bagi masyarakatnya. Cerita yang awalnya menceritakan tentang kisah seseorang yang bernama Kayan mendapatkan penghakiman dari masyarakat desanya yang menganggap bahwa ia telah membuat kotor desanya dan harus segera diupacarai agar bersih kembali. Upacara tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi Kayan yang kehilangan istrinya. Dalam cerita ini, saya selaku pembaca dapat merasakan bagaimana fanatiknya masyarakat Bali terhadap kepercayaan. Hal ini mengakibatkan masyarakat Bali hanya terfokus pada pelaksanaan upacaranya saja, tanpa memikirkan psikologis dari orang yang diupacarai sehingga dapat meninggalkan trauma yang mendalam. Khusus dalam cerita ini, saya merasakan perubahan setting tempat yang cepat dan tak terduga sehingga saya sebagai pembaca cukup mengalami kesulitan dalam memahami isi ceita ini.

Bahkan endingnya jauh dari apa yang saya kira (unspectable).
Bagaimana Bali menjadi salah satu daerah yang terkena dampak yang luar biasa akibat peristiwa politik pada 1965 juga digambarkan dalam cerpen yang berjudul “Gede Juta”, dimana sang pemeran utama terpaksa putus sekolah dan mengalami trauma terhadap kehidupan sosial karena hidupnya hampir berakhir pada saat peristiwa politik tersebut. Dampak peristiwa politik bersejarah itu juga digambarkan pada cerita yang berjudul “Men Suka”. Menceritakan seorang istri bersama empat anaknya yang harus merelakan suami sekaligus ayah untuk tak kembali karena kemelut politik tersebut. Kemelut politik tersebut membuat keluarga Men Suka menaruh harapan yang tak berkesudahan akan nasib dari Wayan Pasek yang merupakan suami sekaligus ayah dari keempat anak Men Suka. Rasa-rasanya cerita tersebut mewakili banyak perempuan yang kehilangan tulang punggung keluarga dan memaksa mereka untuk menjadi tulang punggung sekaligus tulang rusuk keluarga. Sebuah peristiwa politik yang tentu menyengsarakan banyak warga Bali.Apalagi, disebut-sebut bahwa Bali menjadi salah satu lokasi dengan jumlah korban terbanyak bersama Jawa Timur.

Buku ini juga mengungkap kepercayaan hal-hal magis yang masih dipercayai hingga kini oleh masyarakat Bali melalui cerita yang berjudul “Siat Wengi” dan “Darah Pembasuh Luka”. Kedua cerita ini secara garis besar menceritakan bagaimana masyarakat Bali masih sangat bergantung terhadap ilmu-ilmu gaib yang tentu saja diluar nalar dalam menjalani kehidupan. Seperti menyakiti orang lain menggunakan ilmu hitam, mengobati sakit dengan hal-hal yang tak masuk di akal (non medis), dan lainnya.

Dari sisi yang lain, penulis mencoba memperlihatkan bagaimana cara masyarakat Bali mengelola rasa dendam terhadap orang lain yang lebih cenderung dibawa ke arah negatif saja.
Tak hanya cerita tentang peristiwa lalu yang berdampak besar bagi masyarakat Bali hingga kini, dalam buku ini juga menceritakan bagaimana situasi Bali terkini. Bagaimana pariwisata yang menjadi jantung perekonomian masyarakat Bali sedikit demi sedikit malah membunuh masyarakat Bali. Pariwisata budaya yang makin hari makin tergerus dengan pariwisata yang hanya mementingkan kaum kapitalis dengan menyeragamkan destinasi wisata. Padahal jika kita lihat secara mendalam, Bali dikenal dan terkenal dengan adat istiadatnya bukan karena hotel megah, sirkuit balap, dll yang belakangan ini gencar diwacanakan.

Hal ini tertuang dalam cerita “Lelaki Garam”. Dalam cerita ini mengisahkan tentang seorang warga pedagang garam yang kehilangan pekerjaan dan tempat tinggal akibat permainan dari investor.
Tak afdol rasanya jika tak membahas cerita yang menjadi judul dari buku ini, apalagi kalau bukan “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci”. Saya pribadi memiliki interpretasi sendiri tentang cerita ini. Cerita yang bagi saya cukup njelimet karena melibatkan penggambaran sosok tak nyata dalam ceritanya yaitu Gadis Suci. Singkatnya, dalam cerita ini kita diperlihatkan bagaimana situasi masyarakat kita sekarang yang mudah sekali terprovokasi terhadap suatu masalah, dan lebih mudahnya lagi adalah menghakimi. Itulah hebatnya masyarakat kita, sangat malas untuk mengenal orang lain tetapi paling terdepan dalam hal menilai dan merasa malu sendiri ketika melihat kebenaran yang sesungguhnya dengan mata kepalanya sendiri.

Dari sembilan cerpen yang terkandung dalam buku ini, hanya satu cerita yang memiliki judul terdiri lebih dari 3 suku kata. Judul-judul yang dibuat oleh Pak Ole pun memberi rasa penasaran yang tinggi kepada kita sang pembaca. Hal ini dikarenakan judulnya belum mampu memberikan kita penjelasan terhadap isi dari ceritanya. Itulah yang memantik pembaca untuk melanjutkan petualangannya tidak hanya sekadar berhenti membaca judul saja. Membaca buku “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci” memberikan saya pengalaman menyelami problematika Bali secara lebih dekat dengan cara yang sederhana.

Tentang Penulis :
Teddy Chrisprimanata Putra, merupakan alumnus Universitas Udayana yang lahir di Singaraja, 25 Desember 1995. Saat ini masih aktif dalam organisasi kepemudaan di Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia.
Aktif menulis sejak tahun 2016 dengan membuat blog dan masih berlanjut hingga hari ini. Pembaca dapat menemukan tulisan-tulisannya pada www.pojokngilmu.wordpress.com. Pernah mengikuti Sayembara Essay yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia dan masuk dalam 10 besar essay terbaik.

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai

WhatsApp chat