Salah Kaprah Polemik Cinta dan Kasta di Bali

Polemik mengenai kasta masih menjadi sebuah fenomena tersendiri, khususnya masyarakat Bali. Kasta tidak hanya membagi manusia ke dalam sistem kelas sosial, lebih dari itu kasta masuk ke dalam, pada ruang privat manusia yakni cinta. Banyak hubungan yang terpisah karena dilatarbelakangi perbedaan kasta. Padahal jika merujuk sastra yang menjadi sumber hukum hindu kata kasta tidak pernah tertuliskan. Sehingga paradoks antara kasta dan agama yang berwujud kasta dan cinta masih menjadi fenomena didalam masyarakat Bali pada khususnya. Menanggapi fenomena yang beredar di masyarakat Bali Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Indonesia (PC KMHDI) Denpasar gelar Ngobrol Pintar (Ngopi) dengan tema “Salah Kaprah Cinta Beda Kasta” pada Kamis (26/12).

Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan PC KMHDI Denpasar Agus Pebriana menyatakan Ngopi pada bulan ini mengambil sebuah fenomena yang beredar dan masih diterapkan oleh masyarakat Bali yakni tentang kasta dan cinta. “Kegagalan masyarakat Bali dalam memaknai kasta sering berujung pada putusnya hubungan cinta dua insan manusia yang berbeda kasta” uangkapnya saat acara diskusi berlangsung.

Kader PC KMHDI Denpasar Gede Sulastrawan sekaligus sebagai pemantik diskusi menjelaskan polemik mengenai kasta mempunyai jejak historisnya yang panjang. Hal ini tidak terlepas oleh hadirnya Belanda di Bali yang mempertegas perbedaan kasta antar masyarakat. “Sehingga pemaknaan dan pemahaman kasta oleh masyarakat Bali mulai mengalami pergeseran. Oleh karena adanya pergeseran ini maka cinta beda kasta menjadi suatu hal yang salah kaprah, dalam hindu tidak ada kasta yang ada hanya warna yakni pembagian masyarakat berdasarkan tugas dan fungsinya serta bersifat horizontal” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama peserta diskusi Joniartha menegaskan hadirnya kasta dengan konsep vertikal merupakan tinggalan Belanda, dalam usaha politik pecah belahnya di Bali. Belanda memanfaat kasta dengan cara mempertajam perbedaan masyarakat Bali antara golongan Triwangsa dan sudra. Selain itu Belanda memanfaatkan golongan triwangsa sebagai perpanjangan tangan di tingkat-tingkat desa. “Kita sebagai manusia merdeka seharusnya bisa lepas dari berbagai macam belenggu Belanda terutama yang berbau politik pecah belah. Sah saja orang memakai gelar sebagai tanda penghormatan terhadap leluhur tapi yang salah adalah gelar dipakai untuk menunjukan bahwa dia adalah orang yang lebih terhormat dan harus dihargai” tambahnya.

Kesimpulan Ngopi yang berlangsung selama 2 jam tersebut, bahwa pemahaman mengenai kasta dimasyarakat yang masih tradisional dengan konsep vertikalnya membuat salah kaprah cinta beda kasta. Diharapkan KMHDI terkhusus PC KMHDI Denpasar hadir untuk ikut dalam polemik fenomena ini serta perlahan-lahan memberi pemahaman kepada masyarakat terkait cinta dan kasta.

Komentar Anda
WhatsApp chat