74 TAHUN INDONESIA MERDEKA, LALU APA?

17 Agustus 2019 tepat Indonesia kembali memperingati hari kemerdekaannya yang ke 74 kali. Usia yang sudah uzhur bagi manusia, tapi bagi negara dalam usia ini adalah momentum dimana negara sudah menentukan arah pasti pembangunan di segala aspek kehidupan bangsa yang sebesar-besarnya dilakukan untuk kepentingan rakyat. Pasal 33 ayat 2 UUD 1945 menyebutkan bahwa “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Beranjak dari hal tersebut, maka kunci dari terciptanya masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil dan makmur sesuai dengan cita-cita perjuangan bangsa adalah manajemen Sumber Daya Alamnya (SDA). Namun, melimpahnya SDA yang dimiliki oleh bangsa Indonesia belum bisa dinikmati betul oleh seluruh rakyat Indonesia, hanya segelintir orang saja yang dapat menikmati kekayaan alamnya. Hal ini dikarenakan belum meratanya kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang berkualitas. Mungkin atas dasar pertimbangan tersebut, tema peringatan kemerdekaan Indonesia tahun ini adalah “SDM Unggul, Indonesia Maju”. Hal ini juga senada dengan Visi dari Presiden terpilih Ir. H. Joko Widodo bahwa di periode keduanya menjabat, ia akan mulai berfokus dengan pembangunan kualitas SDM Indonesia, bahkan akan diperhatikan sejak dalam kandungan.

Namun, permasalahan bangsa Indonesia hari ini tidak semudah yang dibayangkan. Dengan meningkatkan kualitas dari manusia-manusia Indonesia juga belum tentu mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi Indonesia. Permasalahan kronis bangsa kita adalah mental yang masih bobrok. Korupsi, Kolusi Nepotisme menjiwa dalam tubuh di hampir setiap manusia Indonesia. Selain itu, tindakan-tindakan intoleran dalam 5 tahun terakhir makin sering kita dengar, juga semakin banyak pula kasus-kasus SARA yang merebak di media pemberitaan Indonesia. Ini menandakan bahwa manusia-manusia Indonesia masih belum siap untuk bergerak maju. Mempermasalahkan perbedaan dan semakin memperkuat identitas kelompok hanya akan memperuncing konflik yang sudah bergulir. Perbedaan yang sering kita sebut dengan kebhinekaan ini sudah ada bahkan sejak Indonesia belum merdeka, dan inilah yang menjadi ciri khas sekaligus kekuatan bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar bahkan kelak akan menjadi negara adidaya seperti Amerika Serikat yang sekarang ini menguasai hampir seluruh aspek kehidupan di dunia.

Pendidikan

Dengan adanya berbagai beasiswa yang tersebar baik yang diberikan oleh pemerintah maupun pihak swasta masih belum juga mampu untuk mengantarkan putra-putri bangsa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Stigma bahwa biaya pendidikan di perguran tinggi begitu mahal sudah mendarah daging dan mengakar dalam setiap sanubari masyarakat Indonesia. Hanya segelintir saja yang bisa mengenyam bangku perguruan tinggi di Indonesia Raya ini. Dilansir dari liputan6.com jumlah generasi muda yang mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi hanya berjumlah 10 persen, hal itu disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani. Angka yang sangat kecil tersebut sangat dipengaruhi dengan biaya pendidikan yang begitu mahal belakangan ini, bahkan di beberapa kampus telah menerapkan SPI (Sumbangan Pengembangan Institusi) yang semakin memberatkan langkah generasi muda untuk melanjutkan mimpinya meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi. Selain itu, syarat masuk sekolah dan perguruan tinggi favorit yang niscaya memiliki kualitas bagus hanya mengutamakan calon peserta didik yang berprestasi baik dari segi akademik maupun non akademik adalah hal yang keliru. Jika lembaga pendidikan terbaik hanya menerima peserta didik yang terbaik, maka peserta didik yang dianggap kurang baik akan dibawa kemana? Apakah tetap tidak bisa menjadi yang terbaik? Ini semakin memperlebar kesenjangan pemerataan pendidikan di kalangan generasi muda. Dengan image kampus unggulan akan membuat mahasiswa/mahasiswi yang berhasil masuk kampus tersebut merasa lebih dari mahasiswa yang tidak mampu melanjutkan pendidikannya di kampus tersebut. Ini terbukti dengan viralnya postingan oknum alumnus salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia yang dengan egonya menganggap remeh tawaran kerja yang memberikan salary yang cukup besar. Inilah potret pendidikan tinggi Indonesia yang harus kita akui dan harus kita benahi bersama-sama.

Intoleransi

Hal ini sepertinya sudah tidak asing di telinga kita, hampir setiap saat portal berita baik cetak maupun online ada saja memberitakan hal ini. Kasus-kasus intoleran (SARA) ini sangatlah mudah memancing amarah dari setiap masyarakat di Indonesia, karena kaitannya dengan keyakinan dan kepercayaan masyarakat yang dipegang teguh dari nenek moyangnya. Belakangan ini, SARA menjadi primadona bagi siapapun yang ingin memecah belah bangsa Indonesia. Dalam 5 tahun belakangan, entah sudah berapa banyak kasus yang berkaitan dengan SARA ini. Mulai dari kasus Ahok yang dianggap menistakan agama, Ibu Meiliana yang dipenjara karena keluhkan kerasnya suara TOA di salah satu rumah ibadah, hingga perusakan rumah ibadah pun marak terjadi. Hal ini menandakan bahwa sebagian masyarakat Indonesia masih belum menyadari anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan kepada bangsa Indonesia. Dengan beraneka ragamnya kekayaan alam, suku, agama, adat istiadat, bahasa, dll yang dimiliki oleh Indonesia harusnya membuat Indonesia semakin kuat karena rasa saling memiliki satu sama lain. Tetapi perbedaan ini bagi beberapa oknum dijadikan sebagai alat untuk memecah belah kesatuan bangsa, ditambah lagi SARA ini dijadikan alat politik yang semakin mempertajam polarisasi di kalangan masyarakat. Masyarakat Indonesia disibukkan dengan hal-hal yang terlalu berkaitan dengan identitas, sehingga akan sulit bagi bangsa Indonesia untuk bergerak maju karena terlalu sibuk untuk meredam konflik yang ada akibat perbedaan tersebut.

Indonesia Harus Dewasa

Dengan permasalahan yang mendera bangsa Indonesia hingga usianya yang menginjak 74 tahun, rasanya ini waktu yang tepat untuk dijadikan momentum merefleksikan diri agar menjadi pribadi yang baik agar bangsa Indonesia akan semakin maju untuk mengejar ketertinggalannya dengan bangsa lain. Begitu banyak aspek yang harus kita perbaiki untuk mengejar ketertinggalan ini, salah duanya adalah pendidikan yang masih carut marut dan sikap intoleran yang harus diredam karena sangat riskan memicu konflik horisontal yang tak berkesudahan.

Perbaikan dari aspek pendidikan yang memberikan akses seluas-luasnya bagi generasi muda bangsa Indonesia untuk meraih mimpi-mimpinya, karena jangan sampai Indonesia mematikan mimpi dan kreativitas anak-anak muda bangsa Indonesia. Serta terwujudnya toleransi setiap warga negaranya akan memberikan rasa aman bagi setiap warga negara untuk mewujudkan mimpi-mimpinya dimanapun ia berada untuk kemajuan bangsa Indonesia.

DIRGAHAYU KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

MERDEKA!!!

Denpasar, 17 Agustus 2019

Komentar Anda