Minggu, 10 Maret 2013 umat Hindu Kota Makassar melaksanakan kegiatan Melasti atau Melis di pusat pariwisata Pantai Akkarena Makassar. Ratusan umat Hindu yang ada di Kota Makassar dan sekitarnya memadati pantai Akkarena dan membuat gedung serba guna di pantai tersebut penuh sesak.

Kegiatan Melasti tahun ini merupakan Melasti yang kesekian kalinya dilaksanakan dipantai yang sama. Namun nampak berbeda pada melasti tahun ini, karena bertepatan dengan hari libur (hari Minggu) dengan jumlah pengunjung di pantai ini padat. Sehingga pengunjung nampak terkejut dan heran melihat iring – iringan umat Hindu yang memasuki pantai. Dalam sekejap pantai Akkarena dibanjiri dengan orang yang berpakaian adat Bali dan penuh dengan harumnya bau dupa serta bunga. Hal ini membuat pantai Akkarena yang khas dengan adat Makassar berubah layaknya pantai di Bali. Tentu saja momen ini tidak ingin disia – siakan oleh pengunjung untuk mengambil gambar atau sekedar menyimak prosesi persembahyangan yang dilakukan oleh umat Hindu di kota Makassar.

Dari pelaksanaan Melasti yang dilakukan di tempat pariwisata muncul pertanyaan. Apakah melaksanakan Melasti di tempat pariwisata pantai akan menguranggi rasa bhakti umat?

Dalam dharma wacananya Ketua Paruman Walaka PHDI Sulawesi Selatan, Bapak Kolonel Purnawirawan Nyoman Suartha mengatakan “ Janganlah kita melihat dari tempat pelaksanaannya tapi lihatlah dari tujuan pelaksanaan kegiatan ini, tujuan Melasti adalah untuk menyucikan dan membersihkan diri sehingga nantinya dapat melaksanakan Nyepi dengan baik”. “Sesungguhnya Melasti juga dapat dilaksanakan di sungai karena sungai juga bermuara dilaut dan dilaut akan dilebur menjadi satu”, tambah Beliau.

Selain sebagai proses penyucian diri, pelasanaan Melasti di pantai Akkarena juga sebagai bukti kearifan lokal di Kota Makassar. Umat Hindu di Kota Makassar yang sebagian besar merupakan transmigran dari Bali, telah membuktikan diri sebagai faktor yang juga mempengaruhi perkembangan kebudayaan di Kota Daeng. Sejak berdirinya Pura Giri Natha telah menjadi tongak besar perubahan budaya dan tatanan masyarakat Makassar yang merupakan asal muasal dari budaya Bugis. Pura Giri Natha yang terletak di Kota Makassar juga sebagai bukti suatu kearifan dimana masyarakat Indonesia telah mempunyai keinginan untuk hidup bersama seperti apa yang di amanatkan oleh Bhineka Tunggal Ikha.

Hal yang sama juga pernah di tuturkan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Selatan DrHc. KH. Sanusi Baco, yang sempat berkunjung ke Pura Giri Natha pada kegiatan donor darah dalam rangka perayaan hari raya Nyepi (24 Februari 2013). Beliau mengatakan bahwa “semua agama mengajarkan cinta kasih, semua agama mengajarkan kedamaian. Hanya orang yang tidak paham agamalah yang suka mencari ribut apalagi sampai membawa nama agama tertentu. Saat ini yang perlu dibangun adalah silaturahmi dan kebersamaan untuk membangun Indonesia”.

Setelah pelaksanaan melasti di pantai Akkarena, tanggal 11 Maret 2013 umat Hindu Kota Makassar melaksanakan upacara Tawur Kesanga di Pura Giri Natha, yang bertujuan untuk menyucikan buana agung atau alam semesta sehingga perayaan Nyepi keesokan harinya dapat berjalan dengan baik. Sama halnya dengan pelaksanaan Melasti di pantai Akkarena, pelaksanaan Tawur Kesanga di Pura Giri Natha juga identik dengan pelaksanaan Tawur Kesanga di Bali yang penuh dengan sajen caru.

Tidak hanya dari segi upakara Melasti dan Tawur Kesanga yang mirip dengan di Bali, tapi perayaan Nyepi juga mirip dengan di Bali. Banyak THM ( Tempat Hiburan Malam) seperti panti pijat, Bar, dan tempat karaoke yang tutup sehari sebelum dan sehari setelah Nyepi. Hal ini sesuai dengan surat himbauan dari Dinas Pariwisata Kota Makassar guna menghormati prosesi Nyepi.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar, Rusmayani Majid mengatakan, untuk menghormati perayaan Nyepi, pihaknya mengeluarkan surat edaran kepada seluruh tempat hiburan malam (THM) untuk menutup aktifitasnya. Penutupan THM dimulai sehari sebelum dan setelah Tahun Baru Saka 1935. Di Kota Daeng terdapat sekitar 200 THM seperti rumah bernyanyi, klub malam, diskotik, live musik, dan panti pijat berkisar 55 titik.

Pelaksanaan upakara dalam rangkain perayaan Nyepi di Makassar sangatlah kental dengan budaya dari adat Bali. Hal ini membuktikan upakara – upakara keagamaan secara adat Bali masih dilestarikan di berbagai daerah khususnya Makassar, meskipun dengan konsep yang agak berbeda dan tidak serumit yang ada di Bali. Tentu saja hal ini akan memberikan dampak yang sangat baik untuk perkembangan kebudayaan dan kearifan lokal di Indonesia.

Biodata Penulis
Nama                           : Putu Nopa Gunawan

Tempat/Tgl Lahir        : Cendana Putih, 11 November 1992

Jenis Kelamin              : Laki – laki

Alamat                        : Jalan Perintis Kemerdekaan VII No. 59 Makassar

No Anggota                : 21010002

Alamat Kepengurusan: Pimpinan Daerah KMHDI Sulawesi Selatan

                                      Lantai 2 Gedung Vyata Satya Kharma, Komplek Pura Giri Natha. Jalan Perintis Kemerdekaan KM. 12 Kota Makassar

 

Nomor KTP/KTM       : 7322101111920002 / D41110009

Kampus                       : Jurusan Teknik Elektro, Universitas Hasanuddin

                                      Jalan Perintis Kemerdekaan KM. 10 Tamalanrea – Makassar

Nomor Hp                   : 085 399 693 332

Email                           : putunopagunawan@gmail.com